Skip to main content

Family Indonesia

Uncategorized

Inner Child Wounds: Bagian Diri yang Butuh direngkuh

Parents, apakah anda pernah mendengar istilah inner child wounds?

Beberapa dari kita mungkin tidak asing lagi dengan istilah ini karena banyaknya unggahan yang membahas mengenai inner child. Langkah ini menjadi bukti bahwa banyak orang yang mulai menyadari kehadiran anak kecil yang menjadi bagian dalam diri setiap individu. Bahkan ketika seseorang menjadi dewasa, inner child akan selalu ada bersama kita, entah itu sebagai sumber kreativitas dan kegembiraan atau sebagai trauma masa lalu.

Apa itu Inner Child?

Inner child adalah kumpulan peristiwa baik dan buruk yang terjadi selama masa pengasuhan oleh orang tua dan lingkungan sekitar, yang mempengaruhi perilaku dan pengambilan keputusan seseorang di masa dewasa (Raniyah & Nasution, 2024). Ketika inner child seseorang sehat, maka ia akan menjadi sumber kreativitas, kegembiraan, dan inspirasi. Namun, pada inner child yang terluka, hal ini dapat berujung pada rendahnya harga diri, kesulitan untuk mempercayai orang lain, atau kesulitan dalam mengekspresikan emosi saat seseorang tumbuh menjadi individu dewasa.

Inner child yang terluka dapat terjadi karena pengasuhan yang melibatkan pengabaian, kekerasan, kurangnya kasih sayang, dan minimnya kehadiran orang tua yang meninggalkan luka batin pada anak (Surianti, 2022). Cara orang tua membesarkan atau mengasuh anak dapat memengaruhi perkembangan anak, baik dalam aspek intelektual, emosional, kepribadian, sosial, dan psikologis. Setiap orang tua tentu ingin anaknya hidup sesuai harapan mereka, sehingga para orang tua berusaha sebaik mungkin memberikan pengasuhan, pendidikan, dan bimbingan agar anaknya memenuhi ekspektasi tersebut. Namun, dalam kenyataannya, sering kali terdapat penyimpangan atau bahkan kontradiksi antara harapan dan kenyataan dalam pola pengasuhan, yang dapat memengaruhi perkembangan kepribadian anak. Ketika seorang anak tidak merasa aman, dicintai, atau diakui, mereka akan sangat mungkin mengalami luka batin yang dapat bertahan hingga dewasa dan memengaruhi cara mereka memandang dunia, diri mereka sendiri, dan hubungan yang mereka miliki.

Seseorang dengan inner child yang terluka sering kali mencoba menghindari rasa sakit tersebut, dengan mengabaikan, menekan, atau menghindari perasaan yang ada, dan mendorongnya ke alam bawah sadar dengan harapan penderitaan itu akan hilang. Namun, inner child yang terluka tidak akan hilang begitu saja tanpa proses penyembuhan, dan dapat muncul pada individu dewasa dalam bentuk perilaku atau kondisi emosional yang seringkali tidak disadari. Proses penyembuhan inner child berfokus untuk memastikan bahwa seseorang merasakan nilai, cinta, dan perlindungan yang tidak ia dapatkan selama masa kanak-kanak.

Sebagai orang tua, kita tentu memiliki pengalaman masa kanak-kanak yang membentuk siapa kita sekarang. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa selama masa tumbuh kembang, kita mungkin mengalami berbagai peristiwa atau perlakuan yang membekas, baik itu berupa pengabaian, kekerasan, atau pengalaman emosional lainnya. Meskipun, saat ini kita sudah menjadi orang dewasa dan berperan sebagai orang tua, luka batin yang belum sepenuhnya sembuh di masa lalu bisa tetap mempengaruhi cara kita berpikir, bertindak, dan berinteraksi dengan orang lain, termasuk dengan anak-anak kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dan menyadari luka batin ini agar kita bisa melakukan proses penyembuhan, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi agar kita bisa memberikan pengasuhan yang lebih baik kepada anak-anak kita saat ini.

“The wound is not my fault. But, the healing is my responsibility.” – Marianne Williamson

Empat Tipe Inner Child Wound

  1. Neglect Wounds

Luka ini berkembang ketika kebutuhan dasar emosional atau fisik seorang anak tidak terpenuhi secara konsisten. Hal ini bisa berupa pengabaian kebutuhan fisik (makanan, pakaian, dan tempat tinggal) atau kebutuhan emosional (kasih sayang, pengakuan, dan bimbingan). Kondisi ini merupakan akibat langsung dari ketidakmampuan orang tua atau orang dewasa lain dalam memenuhi kebutuhan anak selama masa kanak-kanak. Misalnya, orang tua mungkin tidak hadir secara fisik untuk mengawasi atau melindungi anak dari bahaya fisik, atau anak mungkin tidak diberikan barang-barang dasar yang diperlukan, seperti pakaian, makanan, atau tempat tinggal yang layak. Luka pengabaian juga dapat disebut luka prioritas, dimana anak dan kebutuhannya tidak diperlakukan sebagai prioritas.

Tanda-tanda dari Luka Pengabaian:

  • Kesulitan mengekspresikan emosi.
  • Harga diri yang rendah.
  • Merasa tidak terlihat atau tidak penting.
  • Kesulitan menetapkan batasan.
  • Kecenderungan untuk menyenangkan orang lain

2. Guilt Wounds

Luka ini berasal dari perasaan bersalah atas kesalahan di masa lalu, yang mengendap dan terus melekat pada diri seseorang sepanjang kehidupan dewasa mereka. Perasaan bersalah ini bisa timbul karena anak dibesarkan dalam lingkungan di mana disiplin yang diterapkan orang tua mengandalkan rasa bersalah dan malu yang dirasakan oleh anak.

Tanda-tanda dari Luka Rasa Bersalah:

  • Menggunakan rasa bersalah untuk memenuhi kebutuhan emosional.
  • Tidak mengungkapkan apa yang dirasakan atau diinginkan.
  • Kesulitan meminta apa yang mereka butuhkan.
  • Menggunakan rasa bersalah untuk memanipulasi orang lain.
  • Takut menerapkan batasan.
  • Menekan atau mengabaikan perasaan sendiri.
  • Cenderung menyalahkan diri sendiri atas segala sesuatu, kritis terhadap diri sendiri

3. Abandonment Wounds

Luka ini berasal dari pengalaman yang dirasakan atau pengalaman nyata tentang ditinggalkan, tidak diinginkan, atau tidak dicintai. Hal ini bisa disebabkan oleh ketidakhadiran fisik misalnya orang tua yang bekerja berjam-jam, ketidakhadiran emosional seperti orang tua yang tinggal jauh, atau bahkan ancaman pengabaian yang terjadi berulang kali.

Tanda-tanda dari Luka Pengabaian:

  • Takut akan keintiman dan komitmen.
  • Sering merasa sendirian meski sedang berada di keramaian.
  • Ketakutan akan ditinggalkan orang terdekat.
  • Kesulitan memercayai orang lain.
  • Perilaku melekat dalam hubungan atau malah terlalu mandiri.
  • Posesif dan cemburu.
  • Perasaan takut ditolak.

4. Trust Wounds

Luka ini muncul akibat pengalaman masa kecil di mana kepercayaan dan rasa aman dilanggar atau hilang. Luka ini menyebabkan seseorang kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat, serta kesulitan memercayai diri sendiri dan orang lain.

Tanda-tanda dari Luka Kepercayaan:

  • Sulit memercayai diri sendiri.
  • Perasaan curiga yang intens saat berada dalam suatu hubungan.
  • Merasa tidak aman dan membutuhkan validasi orang lain.
  • Takut membuka diri kepada orang lain.
  • Pikiran negatif bahwa orang lain akan memanfaatkan dirinya.
  • Kesulitan masuk ke dalam lingkungan yang benar-benar baru.

Jika parents, sebagai individu atau juga anak anda merasakan salah satu dari luka-luka tersebut, anda dapat mengambil langkah penyembuhan dengan pertama-tama mengakui rasa sakit yang dimiliki. Ketika individu dapat mengenali dampak dari pengalaman masa kecil mereka, ini adalah langkah pertama menuju penyembuhan. Kedua, mencari dukungan baik melalui orang terdekat ataupun terapi bersama profesional untuk memberikan ruang aman saat mengeksplorasi luka batin dan mengembangkan mekanisme koping yang lebih sehat. Terakhir, adalah mengembangkan belas kasih kepada diri sendiri. Diri kita sendiri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan kebaikan dan pengertian yang kita butuhkan.

Ingatlah, bahwa anda tidak sendirian dalam hal ini dan ada banyak orang yang siap membantu, serta mendukung proses penyembuhan diri ini. Percayalah, bahwa proses penyembuhan diri bukanlah sesuatu yang instan, melainkan sebuah perjalanan yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan dukungan untuk pulih dan akhirnya menemukan kedamaian diri.

“Your inner child deserves to feel safe, loved, and heard.”

Jika parents tertarik untuk mengeksplorasi dan mengenal inner child, parents dapat berkomunikasi dengan terapis atau profesional untuk memahami pentingnya masa kecil dalam membentuk kehidupan anak. Focus on the Family Indonesia juga siap membantu parents yang masih berproses dan menyembuhkan inner child diri anda melalui program konseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram @focusonthefamilyindonesia atau melalui WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Raniyah, Q., & Nasution, N. (2024). THE INNER CHILD PHENOMENON: PARENTING STYLE AS a PREDICTOR OF THE INNER CHILD. Raniyah | Proceeding International Seminar of Islamic Studies. https://doi.org/10.3059/insis.v0i1.18622

Surianti, S. (2022). Inner Child: Memahami dan Mengatasi Luka MasaKecil. Jurnal Mimbar Media Intelektual Muslim Dan Bimbingan Rohani, 8(2), 10–18. https://doi.org/10.47435/mimbar.v8i2.123

Uncategorized

Embracing Changes: Menyikapi Peralihan dari Pacaran ke Pernikahan

Couples,  pernikahan seringkali menjadi salah satu keputusan terpenting dalam hidup dan dapat menjadi momen perubahan yang signifikan. Ini adalah langkah besar ketika seseorang berkomitmen untuk memilih menghabiskan sisa hidup dengan satu pasangan, untuk tetap mencintai dan menghargai baik dalam suka maupun duka. Transisi dari berpacaran menuju pernikahan lebih dari sekadar perubahan status dari seorang pacar menjadi suami/istri. Namun, merupakan peralihan besar yang melibatkan peningkatan komitmen, pemahaman, dan tanggung jawab yang lebih mendalam.

Perubahan yang terjadi dari pacaran ke pernikahan dapat mencakup berbagai aspek, baik emosional, sosial, maupun praktis. Fase ini menjadi waktu untuk pasangan mempersiapkan diri memahami harapan satu sama lain dan membangun fondasi yang kokoh berdasarkan rasa percaya dan saling menghormati. Namun, untuk menciptakan pernikahan yang berhasil dan bertahan seumur hidup, perlu adanya beberapa hal yang dipersiapkan untuk menghadapi setiap perubahan, baik dalam perjalanan selama pernikahan ataupun perubahan oleh pasangan kita.

How to Embrace Changes in Marriage

1.Menghormati Perbedaan

Saat dua individu dengan berbagai perbedaan berkomitmen untuk hidup bersama, konflik tentu menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Couples, jangan biarkan perbedaan antara anda dan pasangan, menciptakan jarak emosional maupun konflik besar di masa mendatang. Sebaliknya, couples dapat belajar untuk bekerja sama sebagai sebuah tim untuk membangun sikap positif dan saling menghargai. Perbedaan tersebut juga bisa menjadi kesempatan untuk pasangan tumbuh bersama dan saling memahami.

2 .Membangun Komunikasi yang Kuat

Komunikasi adalah fondasi utama dalam sebuah hubungan yang sehat. Kurangnya komunikasi sering kali menjadi salah satu penyebab utama perceraian oleh banyak pasangan. Ada beberapa hal penting yang perlu dibicarakan couples sebelum menikah untuk memastikan keduanya memiliki pemahaman yang sejalan terhadap satu sama lain . Jika seseorang tidak bisa terbuka dan jujur dalam percakapan bersama pasangannya, hubungan tersebut sangat mungkin bergejolak karena konflik. Komunikasi yang terbuka dan jujur, juga menjadi cara terbaik untuk membangun kepercayaan antara pasangan. Meskipun couples kurang nyaman untuk membicarakan beberapa hal, seperti masalah keuangan, tujuan hidup, atau hal lainnya. Namun, cobalah untuk perlahan terbuka dan mempercayai pasangan anda. Beberapa hal tersebut mungkin sulit untuk dikomunikasikan, tapi penting untuk dilakukan agar hubungan tetap kuat. Kuncinya adalah saling menghargai dan bekerja sama untuk menemukan jalan tengah di tengah konflik.

3. Membahas Keuangan

Sebelum memutuskan untuk menikah, penting bagi couples untuk berbicara secara terbuka mengenai masalah keuangan. Setelah menikah, mengelola anggaran bisa menjadi lebih sulit karena meskipun pendapatan keluarga mungkin meningkat, pengeluaran juga akan semakin besar. Couples dapat menyusun kesepakatan mengenai keuangan karena merupakan hal yang sangat krusial dalam sebuah hubungan sebelum menikah. Anda dan pasangan perlu memutuskan apakah akan memiliki satu rekening bersama, memisahkan rekening, atau memilih kompromi dengan memiliki rekening bersama, tetapi tetap mempertahankan rekening pribadi untuk keperluan masing-masing.

4. Memupuk Cinta

Cinta memiliki kekuatan luar biasa dalam memberikan dukungan emosional dan mental ketika menghadapi berbagai tantangan hidup. Cinta tidak hanya sekadar perasaan romantis, tetapi juga komitmen dan keterikatan yang mendalam antara dua orang yang saling memahami dan mendukung. Dalam konteks pernikahan, cinta menjadi landasan untuk mengatasi hambatan yang muncul, baik itu masalah komunikasi, perbedaan pendapat, atau kesulitan kehidupan lainnya. Cinta memiliki kemampuan untuk menjaga semangat pasangan, bahkan ketika menghadapi kesulitan. Misalnya, meskipun masalah keuangan, perubahan karier, atau peran dalam keluarga dapat menimbulkan tekanan, rasa cinta yang kuat akan mendorong pasangan untuk saling mendukung dan mencari solusi bersama. Cinta memberikan motivasi untuk tetap berjuang, berpikir positif, dan tidak mudah menyerah.

Menjaga hubungan romantis dengan terus memelihara cinta juga berarti berusaha untuk selalu menghidupkan kembali kehangatan hubungan, berbagi kebahagiaan, dan memperkuat ikatan meskipun kehidupan pasca-pernikahan membawa perubahan. Dengan memupuk cinta secara terus-menerus, hubungan akan tumbuh semakin kuat seiring waktu. Sebaliknya, jika cinta tidak dipelihara dengan baik, hubungan bisa terabaikan atau bahkan retak. Cinta yang sehat memungkinkan couples untuk terus berkembang sebagai individu dan sebagai pasangan, serta memberi ruang penyembuhan bagi satu sama lain ketika menghadapi konflik atau masalah.

“Marriage is a full time job. It must always be tended like a fire in the fireplace so that it will keep burning well.”

 

5. Menghormati Satu Sama Lain

Rasa hormat merupakan salah satu aspek fundamental dalam pernikahan yang sehat. Sebelum memutuskan untuk menikah, sangat penting untuk memastikan bahwa couples dapat saling menghargai. Rasa hormat ini vital untuk hubungan yang sehat karena dapat memudahkan couples menghadapi tantangan dan perbedaan pendapat, serta membantu memahami pandangan pasangan dalam membuat keputusan yang besar maupun yang kecil.

6. Membangun Kesatuan sebagai Tim

Couples perlu menjadi satu tim yang kokoh karena pernikahan adalah perjalanan bersama yang penuh dengan tantangan, keputusan, dan pengalaman hidup. Ketika pasangan saling mendukung dan bekerja sama sebagai tim, couples dapat mengatasi kesulitan dengan lebih efektif, membagi beban satu sama lain, dan memperkuat ikatan emosional. Sebagai tim, couples dapat saling melengkapi, memperkuat satu sama lain, dan mampu melihat masalah dari berbagai perspektif. Kolaborasi bersama pasangan anda ini menciptakan rasa saling percaya dan menghargai yang sangat penting untuk menjaga hubungan yang sehat dan tahan lama.

7. Belajar Memberi dan Menerima

Dalam hubungan yang sehat, kedua belah pihak perlu belajar untuk saling memberi dan menerima. Dengan saling memberi, setiap pasangan menunjukkan perhatian, empati, dan komitmen untuk mendukung pasangannya dalam berbagai situasi. Sebaliknya, dengan saling menerima, pasangan menunjukkan keterbukaan dan rasa hormat terhadap kebutuhan dan keinginan satu sama lain. Kedua proses ini menciptakan rasa saling memahami dan membantu membangun hubungan yang saling mendukung, serta penuh kasih. Tanpa keseimbangan ini, hubungan dapat terjebak dalam ketegangan atau ketidakadilan yang berpotensi merusak keharmonisan hubungan anda.

Pernikahan adalah perjalanan yang terus berkembang, yang mengharuskan pasangan untuk beradaptasi, bertumbuh, dan secara aktif menjaga cinta di dalamnya. Menerima setiap perubahan yang terjadi, mengingat alasan awal jatuh cinta, berusaha untuk tetap terhubung, serta terus jatuh cinta lagi adalah hal-hal penting dalam membangun pernikahan yang bertahan lama. Meskipun cinta bisa berubah seiring waktu, komitmen untuk menjadi pasangan yang terbaik bagi satu sama lain harus terus dijaga. Ingatlah, bahwa tujuan pernikahan bukan hanya untuk membuat segalanya menjadi mudah, tetapi untuk membangun kekuatan, kebersamaan, dan komitmen yang kokoh dalam menghadapi segala tantangan.

Bagi couples yang ingin memperkuat hubungan dengan pasangan anda dan sama-sama mempersiapkan diri menuju ke jenjang pernikahan. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan untuk memperlengkapi pasangan menuju pernikahan yang harmonis. Program “Marriage Preparation” yang terdiri dari sesi belajar dan juga konseling pranikah dapat couples dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

“Trust redirection, embrace change, and enjoy the journey.” – Wetheurban

Reference:

Authors, G. (2023, June 6). 11 Valuable lessons to learn before you commit to marrying your partner. Greatness. https://greatness.com/11-valuable-lessons-to-learn-before-you-commit-to-marrying-your-partner/

Instagram. Focus on the Family Singapore. https://www.instagram.com/p/DEkFbbZhRh7/?igsh=bDNtaWN2dXVtaHli&img_index=1

Kalra, P. (2023, February 26). Young and dreamy, here’s how I dealt with changes after marriage. Healthshots. https://www.healthshots.com/mind/emotional-health/tips-to-deal-with-changes-after-marriage/#google_vignette

Uncategorized

Good Habit Good Life

Hidup yang bahagia, sukses, dan berumur panjang adalah impian dari banyak orang. Namun, banyak dari mereka yang kesulitan untuk mencapai hal tersebut dalam hidupnya. Meskipun setiap orang memiliki situasi dan tekanan yang berbeda dalam keseharian, kita semua memiliki kontrol terhadap kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan.

Kebiasaan adalah hal-hal yang dapat kita lakukan dengan cepat dan tanpa perlu berpikir panjang karena kita sudah sering untuk melakukannya (autopilot). Hidup kita hari ini didasari oleh gabungan dari kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan. Kebahagiaan, bentuk tubuh, bahkan kesuksesan kita ditentukan oleh kebiasaan yang dimiliki.

Good habit umumnya berdampak positif pada kesejahteraan fisik, mental, dan emosional diri.  Kebiasaan baik dapat memengaruhi rasa puas dan kebahagiaan seseorang dalam menjalani hidup, karena kebiasaan yang baik meningkatkan personal growth. Contohnya, olahraga secara rutin dan makan makanan sehat berkontribusi pada kesehatan fisik yang lebih baik. Olahraga juga berdampak dengan mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati individu. Kebiasaan baik cenderung berorientasi pada masa depan dan memberikan manfaat jangka panjang, yang seringkali memerlukan kesabaran dan ketekunan sebelum kita dapat melihat hasil yang signifikan. Kebiasaan baik akan mendorong kita untuk mencapai tujuan jangka panjang, meningkatkan kualitas hidup, dan membangun masa depan yang lebih baik. Misalnya, dengan belajar secara giat adalah kebiasaan yang berinvestasi pada pendidikan dan karier di masa depan.

Kebiasaan baik memberikan banyak manfaat yang mendalam, baik dalam aspek pribadi, profesional, maupun sosial individu. Maka dari itu, membangun dan mempertahankan kebiasaan baik harus menjadi prioritas dalam hidup kita. Berikut adalah beberapa kebiasaan baik yang dapat champs jalankan ke dalam kehidupan.

1.     Makan dengan seimbang dan sehat

Makan dengan benar adalah makan beragam makanan dan fokus pada makanan segar, seperti sayuran dan buah-buahan. Menjaga waktu makan yang teratur dan engatur porsi makanan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, yaitu tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Kita juga bisa sebisa mungkin menghindari makanan olahan, seperti makanan kalengan, fast food, dan camilan yang mengandung banyak gula, garam, dan lemak trans.

2.     Minum banyak air

Minum air yang cukup setiap hari (sekitar 8 gelas atau 2 liter) sangat penting untuk menjaga tubuh untuk tetap terhidrasi. Memilih untuk minum air putih, daripada minuman manis atau berkafein dapat meninhkatkan kesehatan ginjal dan pencernaan kita. Champs, bisa mencoba untuk selalu membawa botol air kemanapun dan mencoba memulai hari dengan segelas air putih di pagi hari.

3. Peregangan

Peregangan sama pentingnya dengan olahraga, terutama ketika kita menghabiskan banyak waktu hanya dengan duduk dan bekerja di depan layar. Terlalu lama bekerja di depan layar dapat membuat otot tubuh kita tegang dan kaku. Peregangan dapat membuat tubuh merasa lebih rileks dan nyaman, serta meningkatkan fleksibilitas otot dan sendi. Peregangan bisa dilakukan secara teratur, baik sebelum atau setelah berolahraga maupun di antara aktivitas sehari-hari.

4 .Get some exercise

Semua orang tentu tahu bahwa olahraga sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan emosional kita. Aktif secara fisik dapat meningkatkan kesehatan otak, membantu mengatur berat badan, mengurangi risiko penyakit, memperkuat tulang dan otot, serta meningkatkan kemampuan beraktivitas sehari-hari. Olahraga juga dapat meningkatkan energi dan suasana hati individu. Olahraga yang dapat dimulai pertama kali adalah dengan berjalan kaki. Jalan kaki secara teratur merupakan kebiasaan sederhana namun efektif yang juga memberikan kesempatan kita untuk relaksasi, melepaskan stres, dan menjernihkan pikiran. Cobalah untuk berjalan kaki sekitar 30-60 menit sehari, sebanyak 3-5 kali seminggu.

5. Tidur yang cukup

Tidur yang cukup dan berkualitas membantu tubuh untuk memulihkan diri, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, serta memperbaiki suasana hati. Usahakan untuk mendapatkan tidur yang berkualitas selama 7-9 jam setiap malam. Durasi tidur yang cukup memungkinkan tubuh dan otak memulihkan diri. Champs, juga dapat tidur secara teratur, yaitu tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari untuk membantu mengatur ritme sirkadian tubuh. Tidur yang nyenyak dapat menciptakan perasaan bahagia ketika kita bangun.

6. Menghabiskan waktu di alam

Alam memiliki kemampuan luar biasa untuk membantu individu memelihara pikiran dan tubuh. Aktivitas seperti berjalan di hutan, berjalan di pantai, atau duduk di taman memungkinkan tubuh untuk meningkatkan fungsi kognitif, mengurangi stres, serta meningkatkan kesehatan mental secara keseluruhan. Menghabiskan waktu di alam juga dapat membantu meningkatkan kekuatan fisik, stamina, dan kesehatan jantung.

7. Stress management

Kita semua tentu mengalami stres dalam keseharian kita, tetapi bagaimana kita mengelola stres tersebut akan berdampak pada kesehatan dan kualitas hidup  kita. Langkah pertama adalah mengidentifikasi stressor serta pemicu perasaan stres. Mengetahui apa yang menyebabkan stres dapat membantu mengurangi perasaan kewalahan dan mengarahkan individu untuk menemukan solusi. Mengelola stres dengan cara yang sehat dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya berolahraga, beristirahat cukup, atau berbicara dengan orang yang dipercaya.

8. Menjaga Hubungan

Hubungan yang sehat dan positif dengan keluarga, teman, pasangan, atau rekan kerja dapat menciptakan kehidupan yang harmonis dan sehat. Hubungan sosial yang baik memberikan dukungan emosional yang kita butuhkan di saat kita sedang mengalami kesulitan, kesedihan, ataupun tantangan hidup.

9. Mengurangi screen time ponsel

Di masa sekarang ini, banyak orang yang kesulitan untuk konsisten terhadap hal yang dikerjakan karena distraksi besar dari ponsel di setiap genggaman tangan kita.  Screen time yang tinggi pada ponsel bisa berdampak buruk pada produktivitas kita sehari-hari, terutama bila penggunaan ponsel banyak dilakukan hanya untuk scroll media sosial dalam yang  waktu lama.

10. Membaca setiap hari

Membaca adalah kebiasaan yang baik untuk menambah pengetahuan, meningkatkan konsentrasi, meningkatkan daya ingat, dan untuk menghabiskan waktu luang.

 

Champs, itu adalah beberapa contoh kebiasaan baik yang dapat diaplikasikan untuk hidup yang lebih sehat dan bahagia. Perlu diingat, bahwa setiap orang memiliki perbedaan dalam kebiasaan yang dimiliki. Jadi ini adalah saatnya untuk kita semua, dapat menemukan kebiasaan yang paling sesuai dan tentunya memberikan dampak yang baik pada tubuh, serta kesehatan mental kita.

Bagi champs yang ingin mendapatkan info dan tips-tips aplikatif terkait remaja dan pengembangan diri, champs dapat mengunjungi laman website kami di “Focus on The Family Indonesia” dan dapat terhubung melalui Instagram @noapologiesindonesia, jangan lewatkan unggahan penuh inspirasi dan edukasi untukmu.

Uncategorized

Membangun Kebiasaan Baru yang Positif: Menjadi Versi Terbaik Diri

Champs,  penelitian menunjukkan bahwa sekitar setengah dari tindakan kita setiap hari didorong oleh proses pengulangan. Proses pengulangan ini bisa disebut sebagai kebiasaan. Habit atau kebiasaan digunakan untuk menggambarkan perilaku yang sering dilakukan, cenderung terjadi secara teratur, dan dapat diprediksi. Kebiasaan pada dasarnya adalah perilaku yang diulang secara teratur yang terjadi hampir secara otomatis, dengan sedikit atau tanpa pemikiran. Mungkin ini alasan dari mengapa banyak orang yang menulis cara membangun dan mempertahankan kebiasaan yang positif.

“What you do every day matters more than what you do every once in a while.”Gretchen Rubin

Menciptakan kebiasaan baru bisa jadi tampak menantang dan sulit untuk dilakukan. Entah itu memulai untuk berolahraga, konsumsi makanan yang lebih sehat, ataupun practice mindfulness. Beberapa dari kita mungkin memiliki motivasi yang rendah, kegagalan dalam menjalankan kebiasaan baru karena tidak konsisten, dan lingkungan sekitar yang tidak mendukung. Namun, menciptakan kebiasaan baru dapat membantu kita meningkatkan kesehatan dan mencapai tujuan jangka panjang. Kebiasaan positif ini, seperti tidur yang cukup, olahraga, dan pola makan yang sehat. Namun, membangun kebiasaan yang bertahan lama membutuhkan usaha dan waktu. Mengubah tindakan kita menjadi respons otomatis yang selaras dengan tujuan dan nilai-nilai kita, tentunya membutuhkan dedikasi, strategi, kesabaran, dan pendekatan yang sistematis.

Apa itu Habit?

Habit atau kebiasaan adalah perilaku yang konsisten dan diulang-ulang. Perilaku cenderung menjadi kebiasaan ketika dilakukan secara sering dan konsisten dalam konteks yang sama (Ouellette & Wood, 1998). Contohnya, ketika seseorang sering dan secara konsisten makan sayur untuk makan siang, pada suatu waktu makan sayur saat makan siang akan menjadi sebuah kebiasaan bagi individu tersebut. Pembentukan kebiasaan menawarkan mekanisme untuk pemeliharaan perilaku. Upaya perubahan perilaku yang awalnya berhasil sering kali gagal dalam jangka panjang, tetapi suatu teori menyatakan bahwa perilaku yang menjadi kebiasaan akan bertahan bahkan ketika motivasi terkikis (Verplanken & Wood, 2006).

Kebiasaan tidak selalu terbentuk secara sadar, kebiasaan dapat berkembang ketika kita beroperasi secara autopilot. Kebiasaan di sisi lain, sudah mendarah daging dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga terasa aneh jika tidak melakukannya. Jika kita sudah terbiasa untuk sikat gigi sebelum tidur atau sarapan ditemani secangkir kopi hangat di pagi hari, dan ketika kita tidak melakukannya, mungkin akan ada rasa tidak nyaman yang hadir. Maka, kebiasaan adalah hal-hal yang kita lakukan secara teratur tanpa banyak berpikir atau berusaha (autopilot). Kebiasaan adalah perilaku otomatis yang kita pelajari dari waktu ke waktu melalui pengulangan dan latihan terus-menerus. Meskipun beberapa kebiasaan sangat membantu dalam meningkatkan kualitas hidup kita, ada juga kebiasaan lain yang berbahaya dan menyebabkan konsekuensi tidak menyenangkan untuk kita.

Kebiasaan yang baik berkontribusi pada perkembangan pribadi, membantu kita mencapai tujuan, dan menjalani gaya hidup sehat. Sedangkan, kebiasaan buruk dapat merugikan kesehatan fisik, emosional, dan mental kita karena mereka menghambat perkembangan pribadi dan dapat mengganggu hubungan yang kita miliki. Kebiasaan buruk seperti, merokok, minum-minuman beralkohol, mengonsumsi kafein berlebih, dan kebiasaan buruk lainnya. Beberapa kebiasaan yang telah terbentuk, bahkan akan sulit untuk dihilangkan.

Building a New Habit

Dalam membentuk suatu kebiasaan, waktu yang diperlukan untuk membentuk kebiasaan baru tersebut dapat bervariasi, tergantung pada orangnya dan kompleksitas perilakunya. Penelitian menunjukkan bahwa, secara rata-rata dibutuhkan waktu antara 18 hingga 254 hari untuk membentuk kebiasaan baru (Lally et al., 2009). Kisaran yang luas ini mencerminkan keragaman kebiasaan yang dicoba oleh orang-orang, mulai dari hal yang sederhana seperti meminum segelas air putih setiap pagi, hingga perilaku yang lebih kompleks seperti berolahraga selama 30 menit setiap hari. Meskipun, pembentukan kebiasaan memiliki jangka waktu yang bervariasi dari orang ke orang, kita dapat berfokus pada tiga hal ini dibandingkan dengan waktu:

  • Seberapa kompleks perilaku tersebut?
  • Seberapa sering perilaku itu diulang?
  • Apa imbalan untuk perilaku tersebut?

The Four Stage of Habit

Proses membangun kebiasaan dapat dibagi menjadi empat langkah sederhana, yaitu cue, craving, response, dan reward. Pembagian menjadi bagian-bagian mendasar ini membantu kita memahami apa itu kebiasaan, bagaimana cara kerjanya, dan bagaimana cara meningkatkan kebiasaan tersebut.

Pembentukan kebiasaan melibatkan empat tahap utama:

  1. Cue (Isyarat): Pemicu perilaku.
  2. Craving (Keinginan ): Kekuatan motivasi di balik perilaku .
  3. Respon: Perilaku itu sendiri.
  4. Reward (Imbalan): Manfaat yang diterima dari perilaku tersebut.

Mengidentifikasi dan memanipulasi isyarat dan penghargaan dapat membantu kita memperkuat kebiasaan baru yang kita inginkan. Isyarat memicu otak kita untuk memulai suatu perilaku dengan memprediksi hadiah yang akan didapatkan. Kita semua, berada di suatu proses mempelajari isyarat di sekitar, sekaligus memprediksi imbalan sekunder yang bisa didapatkan, seperti uang, kekuasaan, status, pujian, cinta, persahabatan, atau rasa kepuasan pribadi. Isyarat merupakan indikasi pertama bahwa kita sudah dekat dengan sebuah hadiah/imbalan, yang secara alamiah akan menimbulkan keinginan.

Keinginan adalah langkah kedua dari lingkaran kebiasaan dan merupakan kekuatan motivasi di balik setiap kebiasaan. Tanpa adanya motivasi atau keinginan untuk melakukan perubahan, kita tidak memiliki alasan untuk bertindak. Yang sebenarnya kita inginkan bukanlah perubahan tersebut, namun hasil dari perubahannya. Contohnya kita tidak termotivasi untuk menyikat gigi, melainkan perasaan dari mulut yang bersih. Kita tidak berkeinginan untuk menyalakan televisi, tapi kita ingin dihibur.

Langkah ketiga adalah respon. Respon adalah kebiasaan aktual yang dilakukan, yang dapat berupa pikiran atau tindakan. Respon bergantung pada seberapa besar motivasi yang kita miliki dan juga tergantung pada kemampuan diri. Kebiasaan hanya dapat terjadi hanya jika kita mampu melakukannya. Terakhir, adalah respons yang menciptakan hadiah/imbalan. Imbalan adalah tujuan akhir dari setiap kebiasaan. Isyarat adalah tentang memperhatikan hadiah. Keinginan adalah tentang menginginkan hadiah. Respon adalah tentang mendapatkan hadiah. Kita mengejar suatu imbalan karena dua tujuan, yaitu imbalan itu memuaskan kita dan imbalan tersebut mengajari kita sesuatu.

Proses empat tahap pembentukan kebiasaan ini bukanlah sesuatu yang terjadi sesekali, melainkan sebuah lingkaran umpan balik tanpa akhir yang berjalan dan aktif selama kita hidup. Otak akan secara terus-menerus memindai lingkungan, memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, mencoba berbagai respons, dan belajar dari hasilnya. 

Strategies to Create Habits 

  • Set a specific goal

Cara kita mendefinisikan sebuah tujuan untuk dijadikan kebiasaan sangatlah penting. Tujuan seperti “berjalan kaki” terlalu abstrak dan kurang jelas dibandingkan dengan, “saya akan berjalan kaki selama 15 menit di pagi hari”. Tujuan yang jelas akan mengurangi rasa takut kita untuk memulai dan membantu kita untuk lebih mudah melihat kemajuan yang terjadi setelahnya. 

  1. Start small and build slowly 

Perubahan besar dalam hidup kita tentu membutuhkan motivasi yang tinggi pula. Ketimbang mencoba melakukan sesuatu yang luar biasa dari awal, kita dapat memulai dari hal yang kecil dan tingkatkan secara bertahap. Seiring berjalannya waktu, kemauan dan motivasi akan meningkat, yang akan membuat kita lebih mudah untuk mempertahankan kebiasaan tersebut. Cobalah mulai dengan kebiasaan baru yang cukup mudah sehingga kita tidak perlu motivasi untuk melakukannya. Seperti contoh, daripada langsung melakukan jogging selama satu jam per hari, mulailah dengan jalan santai atau lari-lari kecil 15 menit setiap harinya. Buatlah kebiasaan yang cukup mudah yang dapat kita selesaikan tanpa motivasi. 

“Make it so easy you can’t say no.” Leo Babauta 

  • When you slip, get back on track quickly.

Ketika kita keluar dari jalur atau melewati satu hari tanpa melakukan kebiasaan tersebut, cobalah untuk kembali ke jalur yang benar, melakukan kebiasaan tersebut secepat mungkin. Kita semua pasti pernah membuat kesalahan atau keluar dari kebiasaan yang ingin dilakukan, namun langkah terbaiknya adalah segera kembali ke jalur kebiasaan tersebut.

  1. Reward new behaviors  

Pemberian penguatan positif pada perilaku baru dapat membantu perilaku tersebut bertahan menjadi kebiasaan. Misalnya, mendengarkan musik atau podcast favorit saat melakukan perilaku baru, dapat membantu membangun motivasi untuk melanjutkannya. Akan lebih baik jika kita dapat menemukan reward intrinsik (dari dalam diri), seperti bagaimana perilaku yang baru membuat suatu perasaan kepada kita . 

  • Build a support network 

Kita dapat membagikan tujuan yang ingin kita capai dengan teman, keluarga, atau support group yang dimiliki. Tujuannya adalah untuk mendapatkan motivasi dan dukungan yang kuat dari orang lain, agar kita dapat mempertahankan kebiasaan yang dimiliki. 

Jika champs kesulitan untuk membuat kebiasaan baru yang bertahan, jangan berkecil hati dan jangan menyerah begitu saja dengan kebiasaan tersebut. Pun, bila waktu yang champs butuhkan ternyata lebih lama dari orang lain, itu bukanlah suatu masalah untuk membentuk kebiasaan baru yang positif. Champs dapat memulainya dari yang kecil, secara konsisten, dan tetap berkomitmen pada tujuan melalui dukungan orang sekitar. Ingatlah, semua hasil dari kebiasaan yang dilakukan berasal dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap harinya.

 

“The quality of our lives often depends on the quality of our habits.”James Clear

 

Bagi champs yang ingin mendapatkan info dan tips-tips aplikatif terkait remaja dan pengembangan diri, champs dapat mengunjungi laman website kami di “Focus on The Family Indonesia” dan dapat terhubung melalui Instagram kami @noapologiesindonesia, jangan lewatkan unggahan penuh inspirasi dan edukasi untukmu.

Referensi: 

Clear, J. (2022, October 20). How to start new habits that actually stick. James Clear. https://jamesclear.com/three-steps-habit-change

Harris, M., PhD. (2023, September 19). How do we successfully build a new habit? – Marc Harris, PhD – Medium. Medium. https://medium.com/@MarcHarrisPhD/how-do-we-successfully-build-a-new-habit-2cb9cd9e1c92 

Lally, P., Van Jaarsveld, C. H. M., Potts, H. W. W., & Wardle, J. (2009). How are habits formed: Modelling habit formation in the real world. European Journal of Social Psychology, 40(6), 998–1009. https://doi.org/10.1002/ejsp.674 

Ouellette, J. A., & Wood, W. (1998). Habit and intention in everyday life: The multiple processes by which past behavior predicts future behavior. Psychological Bulletin, 124(1), 54–74. https://doi.org/10.1037/0033-2909.124.1.54

Verplanken, B., & Wood, W. (2006). Interventions to break and create consumer habits. Journal of Public Policy & Marketing, 25(1), 90–103. https://doi.org/10.1509/jppm.25.1.90

 

Uncategorized

Ayah Hebat: Cara Ayah Mendukung Istri Selama Kehamilan

Parents, ketika ibu menjalani kehamilan, bukan hanya peran ibu yang penting, tetapi juga peran ayah menjadi salah satu hal yang tidak kalah penting dalam proses tumbuh kembang bayi dalam kandungan. Peran ayah menaungi dua manusia, sang ibu dan calon anaknya. Sebagai kepala keluarga, peran ayah dalam keluarga tidak hanya sebatas pencari nafkah, tetapi juga berperan dalam  mendukung kesehatan ibu dan bayi.

Keterlibatan aktif ayah dalam menjaga kesehatan keluarga dapat memberikan dampak positif yang signifikan, terutama bagi kondisi psikologis ibu dan tumbuh kembang bayi dalam kandungan. Hal ini membuat ibu dan bayi merasa aman dan nyaman. Baik ayah dan ibu, keduanya perlu menekankan gagasan “kebersamaan” selama kehamilan dan setelahnya, yang dapat memberikan rasa aman yang besar bagi ibu. Hal ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak memiliki minat dan tanggung jawab yang sama dalam memiliki anak. Hal ini penting agar sang ibu merasa bahwa dia tidak sendirian melewati proses tersebut.

Persiapan Menjadi Seorang Ayah

Gejala depresi dan tekanan psikologis ibu selama masa kehamilan telah dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terhadap hasil kelahiran yang negatif, seperti kelahiran prematur, bayi dengan berat badan lahir rendah, depresi pasca persalinan, dan interaksi ibu-bayi yang maladaptif. Banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko gejala depresi dan tekanan psikologis selama kehamilan termasuk status sosial ekonomi yang rendah, tinggal di lingkungan yang kurang beruntung, dan komplikasi medis (misalnya hipertensi kronis dan kehamilan berisiko tinggi). Sebaliknya, keterlibatan ayah mungkin mempunyai dampak positif terhadap kesejahteraan psikologis ibu hamil, pengaruh positif, dan pengalaman emosional yang menyenangkan (Diener, 1984). Keterlibatan ayah selama kehamilan telah terbukti mempengaruhi hasil akhir ibu dan bayi. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa dukungan dari ayah berfungsi untuk meringankan beban stres (Ghosh et al., 2010) dan meningkatkan kesejahteraan ibu (Feldman et al., 2000), yang keduanya merupakan cara untuk meningkatkan keberhasilan proses kelahiran.

Peran ayah dalam mendukung sang istri melewati proses kehamilan dapat dilihat dari pendampingan, baik secara fisik dan emosional. Selama kehamilan, anggota keluarga termasuk calon ayah dapat mengoptimalkan fungsi keluarga. Menjalankan fungsi keluarga secara optimal mampu mengalokasikan sumber daya untuk meningkatkan kualitas kehamilan pada ibu hamil. Fungsi keluarga ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan emosional dan perkembangan seperti, moralitas, loyalitas, dan sosialisasi. Fungsi keluarga dapat berjalan, bila ada pembagian tanggung jawab yang jelas bagi setiap anggota keluarga berdasarkan status mereka dalam keluarga tersebut. Ayah sebagai kepala keluarga bertanggung jawab atas pengambilan keputusan pada masa kehamilan ibu, seperti pemeriksaan rutin kehamilan, pemilihan dokter kandungan, dan fasilitas kesehatan (Estuningtyas & Lestari, 2020). Sosok ayah juga mendukung ibu dengan memberikan bantuan-bantuan kecil, seperti melakukan pekerjaan rumah, memijat istri yang kelelahan, membantu menjaga kesehatan dan asupan ibu, dan banyak hal lainnya.

Selama proses kehamilan, ibu mengalami perubahan hormonal yang memengaruhi perubahan fisiologis dan psikologis sang ibu. Perubahan hormon kehamilan, seperti estrogen dan progesteron, dapat menyebabkan mood ibu hamil berubah secara tiba-tiba. Perubahan hormonal juga menyebabkan masalah psikologis, seperti kecemasan yang terjadi pada ibu hamil yang dapat menyebabkan tingkat stress yang tinggi pula. Stress pada ibu hamil menjadi salah satu faktor penyebab pemenuhan akan kebutuhan janin terhambat. Maka dari itu, ayah berperan penting dalam memberikan dukungan verbal untuk mengurangi kecemasan meningkatkan rasa aman, dan rasa percaya diri ibu hamil. Dukungan secara langsung dari ayah dengan memberikan kasih sayang dan perhatian secara moril kepada ibu yang baru pertama kali menghadapi kehamilan, dapat meningkatkan hormon endorfin sehingga ibu merasa senang menjalani peran barunya. Tak kalah penting, peran ayah sangat membantu untuk mengurangi kecemasan dan mengembalikan rasa percaya diri pada ibu yang baru pertama kali mempersiapkan persalinan. Setelah bayi lahir, para ayah dapat terlibat aktif dalam pengasuhan dan menyaksikan tumbuh kembang bayi, hal ini akan membuat ayah lebih dekat dengan ibu dan anaknya.

“Knowing your baby has a great dad for life is the best feeling ever.”-Anonymous

Characteristics of the “Ideal” Father

Ayah yang ideal adalah ketika anda dapat hadir, bersedia, dan turut serta secara aktif mendampingi selama proses kehamilan istri anda.

  • Melibatkan diri dalam proses kehamilan: Seorang ayah yang aktif dan peduli dengan mengajukan pertanyaan terkait kondisi ibu dan bayi, serta berkeinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang proses kehamilan dan apa yang diperlukan untuk mencapai kehamilan yang sehat. Ayah juga dapat menemani sang istri selama proses pemeriksaan kehamilan dan membantu dalam persiapan persalinan. 
  • Memberikan dukungan fisik: 
    • Membantu pekerjaan rumah tangga.
    • Membantu ibu membuat keputusan penting, seperti membuat rencana kelahiran atau memilih nama untuk calon anak. 
    • Membantu mengurangi rasa sakit dan memberikan pijatan ketika ibu hamil kelelahan.
    • Memastikan ibu dan bayi mendapatkan nutrisi yang cukup.
  • Memberikan dukungan emosional: 
    • Menyemangati sang ibu dan memberikan afirmasi positif tentang citra tubuh.
    • Memberikan keyakinan tentang kemampuan istri bahwa ia bisa menjadi ibu yang baik. Memahami pengaruh pada hormon perubahan suasana hati dan fisik.
    • Berempati dan bersabar ketika menghadapi kecemasan yang dirasakan istri.
    • Menjadi pendengar yang baik ketika istri menyampaikan keluhan, cerita, dan perasaannya.
  • Penghibur dan pelindung bagi istri dan calon anak untuk memastikan mereka merasa senyaman mungkin.
  • Ayah bertugas untuk mendorong perilaku sehat selama kehamilan, membantu ibu mengatur pola makan dan berolahraga selama kehamilan. Ayah dapat memastikan bahwa asupan makan dengan makanan yang sehat dan seimbang, mengajak berjalan-jalan di taman, dan ikut berolahraga bersama.
  • Membangun ikatan dengan calon bayi, ayah dapat mengajak bayi dalam kandungan ibu berbicara, membacakan buku, dan memutarkan lagu. 
  • Mencari informasi seputar parenting dan belajar tentang perawatan bayi.

Perjalanan menjadi seorang ayah tentulah tidak mudah, ayah akan bertemu banyak hal baru yang harus dipelajari dan tantangan yang harus dihadapi. Menjadi seorang ayah adalah sebuah perjalanan yang penuh cinta dan kasih sayang, baik kepada istri dan juga calon anak. Tidak semua perjalanan kehamilan akan sama untuk setiap pasangan. Setiap orang tua akan belajar hal-hal baru setiap hari, maka jangan ragu untuk bertanya dan mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk mempersiapkan diri melalui kehamilan bersama-sama.

Baca juga: Bagaimana Sosok Ayah di Hidup Anaknya?

Bagian terpenting dalam proses tersebut adalah calon orang tua yang saling mendukung dan menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang, guna menyambut kehadiran anggota keluarga baru. Suami istri yang saling mendukung dan bekerja sama, akan mampu melewati semua tantangan dan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi sang buah hati. Dukungan ayah yang tak tergantikan selama masa kehamilan akan menjadi fondasi yang kuat bagi keluarga kecil anda.

Jika parents ingin belajar lebih jauh mengenai persiapan kehamilan, parents dapat mengikuti berbagai program dari Focus on the Family Indonesia. Beberapa program terkait parenting yang tersedia, yaitu raising future-ready kids, parental guidance, parental seminar, dan beberapa program lainnya. Terkhusus untuk para ayah, FOFI menyediakan program intentional fathering. Info lebih lanjut dapat parents dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

““The only thing better than having you for a husband, is our children having you for a daddy.”-Anonymous

Referensi:

Alio, A. P., Lewis, C. A., Scarborough, K., Harris, K., & Fiscella, K. (2013). A community perspective on the role of fathers during pregnancy: a qualitative study. BMC Pregnancy and Childbirth, 13(1). https://doi.org/10.1186/1471-2393-13-60 

Azizah, D. R., & Yulian, V. (2023). Peran Ayah dalam Meningkatkan Kesehatan pada Ibu Hamil. Jurnal Keperawatan Silampari, 6(2), 1371–1379. https://doi.org/10.31539/jks.v6i2.5478

Diener, E. (1984). Subjective well-being. PubMed, 95(3), 542–575. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/6399758 

Estuningtyas, A., & Lestari, P. (2020). Peran Serta Suami dalam Menjalani Proses Kehamilan pada Ibu Hamil: Systematic Review. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat 2022, 1(1), 121–137. https://conference.upnvj.ac.id/index.php 

Feldman, P. J., Dunkel-Schetter, C., Sandman, C. A., & Wadhwa, P. D. (2000). Maternal social support predicts birth weight and fetal growth in human pregnancy. Psychosomatic Medicine, 62(5), 715–725. https://doi.org/10.1097/00006842-200009000-00016 

Ghosh, J. K. C., Wilhelm, M. H., Dunkel-Schetter, C., Lombardi, C. A., & Ritz, B. R. (2010). Paternal support and preterm birth, and the moderation of effects of chronic stress: a study in Los Angeles County mothers. Archives of Women S Mental Health, 13(4), 327–338. https://doi.org/10.1007/s00737-009-0135-9

Uncategorized

Apa Itu Love Language dan Mengapa Itu Penting dalam Kehidupan Pernikahan?

Dalam suatu pernikahan, couples tentunya membuat komitmen untuk saling mengasihi dengan sepenuh hati melalui setiap tindakan kita. Cinta kita terhadap suami/istri kita adalah segala cara hidup, berpikir, dan bertindak kita kepada pasangan. Maka dari itu, penting untuk setiap pasangan mengetahui dan memahami bahasa cinta pasangannya. Dengan memahami bahasa cinta pasangan kita, akan membantu untuk membina hubungan yang mendalam, bermakna, dan memuaskan bagi kedua belah pihak. 

 

Apakah couples pernah berada di posisi ketika mencoba menunjukkan cinta kepada pasangan kita. Namun, kemudian bertanya-tanya mengapa mereka tidak membalas atau memberikan respon yang bahagia terhadap tindakan kita tersebut. Hal ini mungkin saja menyebabkan rasa frustrasi bagi kita yang sudah mencoba untuk menunjukkan cinta dengan usaha yang ada. Seiring waktu, hal ini akan menimbulkan kelelahan bagi pemberi cinta dan perasaan tidak dipahami bagi penerima cinta. Pasangan kita bukanlah masalah di sini dan kita pun juga bukan masalahnya, masalahnya di sini adalah bahasa cinta yang digunakan tidak dimengerti oleh pasangan kita. Perlu dipahami juga, bahwa kita semua memiliki bahasa cinta yang berbeda, yang merupakan cara kita merasakan dan mengekspresikan cinta.

 

Apa itu Love Languages (Bahasa Cinta)?

Love Languages adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Gary Chapman yang menggambarkan berbagai cara yang berbeda dari orang-orang untuk memberi dan menerima cinta. Memahami bahasa cinta dapat membantu individu mengenali bahwa ekspresi cinta pasangannya mungkin berbeda dengan ekspresi cinta mereka sendiri, sehingga dapat mengurangi kesalahpahaman dan meningkatkan komunikasi. Bahasa cinta setiap orang mencerminkan kebutuhan dan keinginan emosional yang unik, yang memengaruhi bagaimana mereka merasa paling dihargai dan dihormati dalam suatu hubungan. Dengan mengenali dan menerima bahasa cinta masing-masing, pasangan dapat lebih efektif mengekspresikan kasih sayang dan dukungan, memperdalam hubungan emosional, serta meningkatkan kualitas hubungan secara keseluruhan.

5 Love Languages

Konsep Love Languages diperkenalkan oleh Dr. Gary Chapman pada tahun 1992 dalam bukunya yang berjudul, “The 5 Love Languages: The Secret to Love That Lasts.” Ada lima bahasa cinta utama yang diperkenalkan melalui buku ini, yaitu: 

  1. Words of Affirmation

Words of affirmation atau kata-kata afirmasi yang berarti mengekspresikan cinta dan penghargaan melalui kata-kata. Mereka yang memiliki bahasa cinta ini akan merasa dicintai ketika pasangannya mengekspresikan kasih sayang melalui dukungan, pujian, kutipan yang menggembirakan, catatan cinta, dan juga penghargaan kepada dirinya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengucapkan “Aku mencintaimu”, menunjukkan apa yang mereka lakukan dengan baik, atau sekadar memberi tahu bahwa kita bersyukur atas mereka. Bila pasangan merupakan orang dengan bahasa cinta ini, hindari untuk memberikan kritik yang tidak membangun atau tidak menghargai usaha mereka. 

  1. Quality Time

Bentuk love language lainnya bisa berupa menghabiskan waktu bersama yang berarti kita memberikan perhatian penuh kepada pasangan dan berusaha untuk terhubung dengan mereka secara mendalam. Hal ini biasanya dilakukan dengan menghabiskan waktu berkualitas bersama, baik dengan berkencan, jalan bersama, atau sekadar menghabiskan waktu dengan berbicara dan mendengarkan satu sama lain.

  1. Receiving Gifts

Bagi sebagian orang, menerima hadiah yang tulus dan bermakna adalah hal yang menunjukkan perhatian dan membuat mereka merasa paling dicintai. Orang dengan bahasa cinta receiving gifts, tidak selalu mengharapkan hadiah yang besar atau mahal dari pasangannya. Namun, yang terpenting adalah usaha dan perhatian di balik hadiah tersebut, yang dapat berupa apa saja, mulai dari seikat bunga hingga catatan tulisan tangan.

  1. Acts of Service

Bagi orang dengan bahasa cinta ini, tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata. Mereka akan merasa dicintai saat pasangannya menunjukkan kesediaan untuk membantu hal-hal yang mereka butuhkan. Pernyataan cinta melalui tindakan dapat dilakukan dengan membantu mengerjakan pekerjaan rumah, menyiapkan sarapan, atau sekadar membantu mengambilkan sesuatu yang mereka butuhkan. Tindakan-tindakan ini meski sederhana dan kecil, tapi dapat sangat berarti bagi seseorang dengan bahasa cinta acts of service. 

  1. Physical Touch

Bahasa cinta terakhir adalah sentuhan fisik, hal ini dapat berupa pelukan, ciuman, berpegangan tangan, atau sekadar duduk dekat dengan pasangannya, yang dapat memberikan rasa kedekatan, aman, dan kenyamanan. Bahkan hal-hal kecil seperti berpegangan tangan saat berjalan bersama atau membelai rambut pasangan bisa terasa sangat berarti. Bahasa cinta ini menunjukkan bahwa untuk merasa dicintai, seseorang membutuhkan kontak fisik yang konsisten dan penuh perhatian dari pasangannya.

“When you speak your partner’s love language, you can express your love for them in a way that is truly meaningful to them.”

 

Why It’s Important to Know Your Partner’s Love Language

  • Komunikasi yang Efektif

Mengetahui bahasa cinta pasangan kita memungkinkan kita untuk mengomunikasikan cinta dan kasih sayang dengan cara yang paling berkesan bagi mereka, bukan hanya berdasarkan cara kita sendiri mengungkapkan cinta. Hal ini yang akan meningkatkan hubungan emosional  dan ikatan antara pasangan karena pasangan yang saling merasa dipahami dan dihargai.

  • Apresiasi yang Lebih Baik

Dengan mengetahui bahasa cinta pasangan kita, kita akan dapat mengekspresikan perasaan dan apresiasi terhadap pasangan dengan tepat, serta membuat mereka merasa paling dicintai dengan cara tersebut. 

  • Enhanced Intimacy

Bahasa cinta dapat meningkatkan keintiman yang memungkinkan kedua pasangan untuk memenuhi kebutuhan emosional satu sama lain secara lebih efektif, yang dapat mengarah pada hubungan yang lebih dalam dan memuaskan keduanya.

  • Memperdalam Pemahaman Satu Sama Lain

Mengetahui bahasa cinta pasangan kita, membantu untuk pasangan dapat terhubung pada tingkat yang lebih dalam dan menunjukkan kepada pasangan bahwa kita benar-benar peduli akan kebutuhannya dan mengusahakan cinta yang mereka inginkan

  • Mengurangi Kesalahpahaman

Mengetahui bahasa cinta pasangan kita dapat mengurangi kesalahpahaman dan konflik. Kita dapat dengan lebih jelas dan tepat dalam mengekspresikan perasaan kita. Hal ini membantu untuk menghindari pengabaian emosional yang tidak sengaja ataupun miskomunikasi, di mana pasangan merasa tidak dicintai atau tidak diperhatikan oleh karena cara kita mengekspresikan bahasa cinta yang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.

  • Kepuasan Jangka Panjang

Pemahaman akan bahasa cinta pasangan dapat membantu memperdalam hubungan dan pemahaman satu sama lain yang membuat hubungan menjadi semakin kuat. Hal ini juga dapat membantu mengisi “kesenjangan” cinta yang mungkin ada dalam hubungan tersebut. Dengan secara aktif terlibat dan menghormati bahasa cinta pasangan kita, kita berkontribusi membangun hubungan yang lebih tangguh, memuaskan, dan kemungkinan besar akan mempertahankan kebahagiaan dan kepuasan jangka panjang.

Cara Mengidentifikasi Bahasa Cinta 

Jika kita tidak begitu yakin dengan bahasa cinta yang dimiliki oleh pasangan kita, jangan ragu untuk bertanya kepada mereka. Minta mereka untuk membayangkan cara apa yang paling membuat mereka merasa dicintai dan dihargai ketika bersama dengan kita. Juga, jangan lupa untuk menceritakan dan berbagi apa yang paling membuat kita merasa dicintai dan disayangi oleh pasangan kita. 

Beberapa pertanyaan di bawah ini dapat digunakan untuk membuka pembicaraan seputar bahasa cinta yang dimiliki oleh pasangan kita.

  • Dalam suatu hubungan, kamu akan merasa paling dicintai ketika:
  1. Aku mengatakan, “Aku mencintaimu,” atau memuji sesuatu yang kamu lakukan?
  2. Aku membuat rencana perjalanan hanya untuk kita berdua?
  3. Aku memberikan kejutan dengan hadiah yang spesial untukmu?
  4. Aku menyelesaikan pekerjaan rumah saat kamu sedang istirahat?
  5. Aku menggenggam tanganmu saat kita berjalan bersama?  

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi petunjuk tentang bahasa cinta pasangan kita. Kita juga bisa menggunakan tes-tes di internet untuk memastikan bahasa cinta yang sesuai dengan kebutuhan pasangan. 

Memahami bahasa cinta pasangan adalah langkah penting untuk memperkuat ikatan emosional dan menciptakan hubungan yang harmonis. Dengan saling mengenal cara terbaik untuk mengekspresikan cinta, kita dapat membangun komunikasi yang lebih efektif, mengurangi kesalahpahaman, dan meningkatkan rasa saling menghargai. Terakhir, memahami bahasa cinta dapat membuat pasangan kita merasa dicintai, dihargai, dan dihormati, yang semuanya merupakan unsur penting untuk hubungan pernikahan yang bahagia dan sehat.

“We must first understand what love means to them, in order to love someone well.”

 

Focus on the Family Indonesia menyusun acara khusus untuk pasangan suami istri yang ingin mempererat hubungan dalam pernikahan anda. Kegiatan “Date Night ini akan mencakup aktivitas seputar bahasa cinta pasangan yang disertai dengan  makan malam bersama dengan orang terkasih. Informasi lebih lanjut dapat couples dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Celebrant, K. W. (2025, January 5). Love languages: 5 Benefits of Speaking Your Partner’s Love Language. KWC. https://www.kerriwatkinscelebrant.com.au/love-languages-5-benefits-of-speaking-your-partners#:~:text=Love%20languages%20are%20a%20valuable%20tool%20for%20connection%20in%20a,your%20partner%20speaks%2C%20ask%20them  

What are The 5 Love Languages? (n.d.). Northfield Publishing. https://5lovelanguages.com/learn

 

 

Parenting

Terlalu Sayang? Waspada Overparenting pada Anak

Parents, selama menjadi orang tua, apakah anda selalu mengawasi dan khawatir dengan setiap gerak-gerik anak? Tidak sampai di situ saja, parents juga berperan dalam membuat setiap keputusan dan memecahkan setiap masalah yang dimiliki oleh anak anda. 

Jika hal-hal tersebut parents lakukan, ada kemungkinan bahwa anda menunjukkan tanda-tanda overparenting. Pengasuhan dengan pendekatan ini bermaksud baik karena menyalurkan rasa cinta dan kepedulian pada anak, namun karena diberikan dalam porsi besar, secara tidak sengaja dapat menghambat pertumbuhan dan kemandirian anak. Orang tua biasanya akan melibatkan diri dalam semua aspek kehidupan anak yang terkadang berdampak dan merugikan diri anak tersebut.

Apa itu Overparenting?

Overparenting atau yang sering disebut sebagai “helicopter parenting” adalah perilaku orang tua yang melibatkan diri secara berlebihan dalam setiap aspek kehidupan anak mereka. Pendekatan ini ditandai dengan keinginan yang mendalam untuk melindungi anak dari segala bentuk kegagalan, ketidaknyamanan, atau tantangan. Helicopter parenting akan merasa bangga karena dapat terlibat dalam kehidupan anak mereka dan sering kali tidak menyadari bahwa ada yang salah dengan gaya pengasuhan yang dilakukan. 

Overparenting berbeda dengan pengasuhan biasa terutama dalam hal pemberian otonomi dan kontrol terhadap anak. Pengasuhan yang wajar melibatkan bimbingan kepada anak, penetapan batasan, dan membiarkan mereka mengalami konsekuensi alamiah untuk memupuk kemandirian dan ketangguhan anak. Sebaliknya, overparenting ditandai dengan keterlibatan dan kontrol yang berlebihan, di mana orang tua mengatur setiap aspek kehidupan anak, mulai dari memecahkan masalah hingga membuat keputusan untuk mereka. Pendekatan ini membuat anak tidak berani menghadapi tantangan dan belajar dari kesalahan, sehingga menimbulkan ketergantungan dan berkurangnya rasa percaya diri. Pengasuhan yang teratur mendukung pertumbuhan anak menjadi individu yang mandiri, pengasuhan yang berlebihan justru menghambat kemampuan mereka untuk menghadapi tantangan hidup secara mandiri.

 

Contoh Overparenting dalam Kehidupan Sehari-hari: 

 

Terlalu mengatur segala hal:

  • Menentukan semua jadwal anak, dari bangun tidur hingga waktu belajar.
  • Memilih semua teman yang boleh bermain dengan anak.
Melakukan semua tugas anak:

  • Membantu anak menyelesaikan tugas sekolah hingga detail terkecil.
  • Menyiapkan semua keperluan anak, tanpa melibatkan anak untuk membantu dan mandiri.
Tidak membiarkan anak mengalami kegagalan:

  • Selalu siap sedia membantu anak ketika menghadapi kesulitan.
  • Menghindari anak dari situasi yang mungkin membuatnya merasa tidak nyaman atau gagal.
  • Menyalahkan orang lain jika anak membuat kesalahan.
Terlalu khawatir dengan keselamatan anak:

  • Menjemput dan mengantar anak ke mana pun, bahkan di jarak yang dekat.
  • Tidak mengizinkan anak bermain di luar rumah karena takut terjadi sesuatu.
  • Selalu memantau aktivitas anak.

Remembering to look for opportunities to take one step back from solving our child’s problems will help us build the resilient, self-confident kids we need.Deborah Gilboa, Md

Efek dari Overparenting

  • Berkurangnya kepercayaan dan harga diri karena anak merasa bahwa orang tua tidak mempercayainya untuk melakukan hal tertentu sendirian. Anak juga dapat merasa bahwa ia tidak akan mampu mengatasi tantangan, tanpa campur tangan orang tuanya.
  • Coping skill yang tidak terlatih karena anak merasa kewalahan atau tidak berdaya saat menghadapi tantangan. Hal ini disebabkan anak tidak belajar bagaimana mengelola stres, kekecewaan, atau kegagalan mereka karena jarang terpapar dengan pengalaman-pengalaman tersebut.
  • Defisit keterampilan sosial, anak-anak yang diasuh secara berlebihan mungkin tidak memiliki kesempatan untuk berinteraksi secara bebas dengan teman sebaya, sehingga kurang berkembangnya keterampilan sosial mereka. Anak mungkin akan kesulitan dalam menyelesaikan konflik, bekerja dalam tim, dan memiliki empati terhadap sesama karena tidak pernah mengalami situasi sosial secara mandiri.
  • Ketidakmampuan untuk menangani kritik atau feedback.
  • Rasa berhak atas sesuatu, anak-anak yang kehidupan sosial dan akademiknya selalu diatur oleh orang tua, dapat menjadi terbiasa untuk selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, yang dapat menimbulkan sikap merasa berhak atas banyak hal.
  • Keterampilan hidup yang tidak berkembang, orang tua yang selalu mengikatkan sepatu anak, mencuci piring, menyiapkan makan, dan mencuci pakaian, bahkan setelah anak secara mental dan fisik mampu melakukan tugas tersebut, dapat mencegah anak untuk menguasai life skills yang ada.

Penelitian menunjukkan banyak konsekuensi negatif dari pengasuhan yang berlebihan di antara anak-anak yang sedang tumbuh menjadi dewasa, seperti masalah kepribadian dan psikologis (menuntut hak, perfeksionisme), kurangnya kompetensi yang memadai (self-regulation, coping skills, kompetensi pertemanan dan berpacaran), internalisasi (kecemasan, depresi, kepuasan hidup yang rendah) dan masalah yang bersifat eksternal misalnya penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan kecanduan media sosial (Cook, 2020; Hong & Cui, 2019; Segrin et al., 2015). Candel (2022) menyoroti efek tidak langsung yang signifikan dari pengasuhan yang berlebihan terhadap kepuasan relasi orang dewasa dan strategi fungsional untuk mengelola konflik dengan pasangan.

Penelitian menunjukkan banyak konsekuensi negatif dari pengasuhan yang berlebihan di antara anak-anak yang sedang tumbuh menjadi dewasa, seperti masalah kepribadian dan psikologis (menuntut hak, perfeksionisme), kurangnya kompetensi yang memadai (self-regulation, coping skills, kompetensi pertemanan dan berpacaran), internalisasi (kecemasan, depresi, kepuasan hidup yang rendah) dan masalah yang bersifat eksternal misalnya penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan kecanduan media sosial (Cook, 2020; Hong & Cui, 2019; Segrin et al., 2015). Candel (2022) menyoroti efek tidak langsung yang signifikan dari pengasuhan yang berlebihan terhadap kepuasan relasi orang dewasa dan strategi fungsional untuk mengelola konflik dengan pasangan.

Membenahi Pola Pengasuhan yang Berlebihan

Parents, mengenali tanda-tanda overparenting adalah langkah pertama untuk membina hubungan yang lebih harmonis dengan anak. Selanjutnya, parents dapat menetapkan batasan yang jelas untuk menjauhkan diri dari perilaku overparenting. Tanda-tanda lain dari overparenting adalah terlalu menekankan pada kesuksesan dan pencapaian. Coba sesuaikan ekspektasi orang tua untuk lebih fokus pada usaha, pembelajaran, dan kemajuan anak. Hal ini dapat membantu anak menghargai proses pertumbuhan mereka sendiri dan mengurangi tekanan yang tidak semestinya. Orang tua juga dapat mulai belajar untuk mendorong anak mengambil keputusan dan mengambil tanggung jawab yang sesuai untuk menumbuhkan kemandirian mereka. Alih-alih melindungi anak dari setiap masalah, biarkan anak menghadapi tantangan dan belajar dari setiap kesalahan mereka.

Aspek yang tak kalah penting dalam memperbaiki pola asuh yang berlebihan adalah menanamkan rasa percaya pada kemampuan anak. Kepercayaan ini dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan mendorong anak untuk menghadapi tantangan baru secara mandiri dan membiarkan mereka berjuang. Hal ini juga berarti membiarkan anak melakukan tugas-tugas yang mampu mereka lakukan dengan baik secara fisik dan mental mereka.

Jika parents ingin belajar lebih jauh mengenai parenting yang sesuai dengan anak anda, parents dapat mengikuti berbagai program dari Focus on the Family Indonesia. Beberapa program terkait parenting yang tersedia, yaitu raising future-ready kids, parental guidance, parental seminar, dan beberapa program lainnya. Info lebih lanjut dapat parents dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

The key, however, is being involved while still giving your child room to grow, learn new skills, and rebound from failure on their own.” – Kate Bayless

 

Referensi:

Bayless, K. (2024, April 26). What is helicopter parenting, and how does it impact kids? Parents. https://www.parents.com/parenting/better-parenting/what-is-helicopter-parenting/ 

Candel, O. (2022). The Link between Parenting Behaviors and Emerging Adults’ Relationship Outcomes: The Mediating Role of Relational Entitlement. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(2), 828. https://doi.org/10.3390/ijerph19020828 

Cook, E. C. (2020). Understanding the Associations between Helicopter Parenting and Emerging Adults’ Adjustment. Journal of Child and Family Studies, 29(7), 1899–1913. https://doi.org/10.1007/s10826-020-01716-2 

Hong, P., & Cui, M. (2019). Helicopter parenting and college students’ psychological maladjustment: the role of self-control and living arrangement. Journal of Child and Family Studies, 29(2), 338–347. https://doi.org/10.1007/s10826-019-01541-2 

Segrin, C., Givertz, M., Swaitkowski, P., & Montgomery, N. (2013). Overparenting is Associated with Child Problems and a Critical Family Environment. Journal of Child and Family Studies, 24(2), 470–479. https://doi.org/10.1007/s10826-013-9858-3

 

 

 

Parenting

Edukasi Seksualitas Anak dari Perspektif Orang Tua dan Guru “ConnecTime”

Parents, berbicara seksualitas dengan anak bukan hanya sekedar pembahasan mengenai hubungan seks di luar nikah, seks bebas, ataupun pornografi.

 

Seksualitas termasuk memiliki aspek biopsikososial (biologis, psikologis, dan sosial) bagi anak dan perlu dikenalkan kepada anak sedini mungkin. Contohnya, pendekatan seksual secara sosial berkaitan dengan gender, peran gender, hubungan dengan orang lain, dan bagaimana seseorang mengomunikasikan perasaan tertentu terhadap orang lain. Maka dari itu, seksualitas merupakan spektrum yang sangat luas, bukan hanya berkaitan dengan hubungan suami istri.

Pandangan manusia yang seringkali terlalu sempit mengenai seksualitas membuat pembahasan mengenai hal ini menjadi tabu dan dinilai tidak baik. Padahal, seksualitas merupakan hal yang sangat luas dan bermakna untuk Parents kelola. Tanpa kita sadari, seksualitas dapat ditemukan di banyak media, seperti lirik lagu, bacaan, komik, dan film-film yang tersebar luas. Seksualitas dalam bentuk lirik lagu menggambarkan perasaan suka atau tertarik pada seseorang dan hal ini lumrah terjadi. Maka, ketika orang tua tidak membicarakan seksualitas dengan anak, orang tua menjadi satu-satunya pihak yang tidak berbicara hal tersebut di kehidupan anak.

Pembicaraan mengenai seksualitas harus bisa dibicarakan seperti hal biasa agar persepsi bahwa hal tersebut tabu, tidak terjadi lagi.

Di bawah ini akan dibahas mengenai topik seputaran seksualitas pada anak melalui perspektif orang tua dan guru.

“Apa tantangan membicarakan seksualitas bersama anak?”

Dari sudut pandang orang tua, tantangan pertama berkaitan dengan pengetahuan orang tua terkait seksualitas. Kurangnya pengetahuan akan membuat orang tua kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari sang anak. Hal ini juga dapat menghadirkan perasaan tidak nyaman dan tabu untuk membicarakan seputar seksualitas dengan anak.

Dari sudut pandang guru, tantangan ini berkaitan dengan perbedaan tingkat pengetahuan dan keterpaan anak terkait seksualitas, membuat edukasi di sekolah mengenai seksualitas tidak bisa disamaratakan untuk semua anak.

“Hal yang dapat terjadi ketika tidak ada perbincangan mengenai seksualitas dengan anak?”

Anak yang tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya di dalam keluarga. Juga, karena mudahnya akses mendapatkan informasi melalui media sosial. Anak akan mencari informasi terlebih dahulu dari luar yang bisa jadi informasi tersebut keliru. Pengetahuan keliru ini dapat membentuk perilaku keliru yang tidak sesuai norma karena rasa penasaran pada anak. Membicarakan seksualitas dengan anak mendorong langkah untuk anak tau dari sumber yang benar. 

Anak yang tidak mendapatkan edukasi seksual di rumah, dapat mudah terbawa oleh perkataan temannya dan ikut arus pergaulan yang salah ketika di sekolah.

Pubertas dan Seksualitas

Remaja yang memasuki fase pubertas mengalami peningkatan hormon yang diartikan secara biologi, merupakan dorongan natural untuk mencari informasi mengenai seksualitas sebanyak-banyaknya.

”Apa dampak media sosial terhadap pengetahuan seksualitas anak?”

Bila anak tidak mendapatkan edukasi seks sejak dini, mereka dapat terpapar dan menonton video pornografi yang bertebaran di medsos karena rasa penasaran, juga melakukan penyimpangan seksual. Anak dapat berdalih bahwa dirinya tidak tahu atau hanya sekedar bercanda untuk melakukan penyimpangan seksual.

“Kapan waktu yang tepat atau di usia berapa anak perlu mendapatkan edukasi seks?”

Bicara seksualitas dengan anak dimulai dari sedini mungkin yang berkaitan dengan konsep seksualitas secara luas. Pembicaraan ini juga dapat dilakukan dengan mengikuti perkembangan kognitif anak.

  • Memperkenalkan edukasi seks bisa dimulai dari bayi. Ketika bayi dipeluk, dijaga, diberikan asi merupakan pendidikan seks. Titik pertama dimana manusia merasa dicintai dan diinginkan oleh orang tuanya. Pendidikan seks nomor satu pada bayi melalui sentuhan dengan kulit. 
  • Pada anak usia dini dengan memperkenalkan anggota tubuh termasuk dengan jenis kelamin, tanpa ada kata ganti yang bisa memiliki makna ganda. Parents, memperkenalkan bahwa ada yang namanya penis dan vagina, sama seperti orang tua memperkenalkan anggota tubuh yang lain. Parents, tidak perlu menggunakan kata ganti seperti burung atau roti tawar karena hal ini akan membingungkan untuk anak. Anak juga dapat diajarkan tentang area privasi yang tidak boleh disentuh, dipermainkan, dan dilihat orang lain.
  • Ketika anak masuk sekolah dasar, anak dapat dibimbing bagaimana menghargai orang lain, memperkenalkan fase pubertas, dan terkait dengan kesehatan tubuh. 
  • Saat remaja, ajak anak berdiskusi mengenai perilaku seksual dan memperkuat anak dalam aspek sosial seperti, pembahasan mengenai pacaran, pernikahan, dan hubungan seks setelah menikah. 

Langkah pertama yang dapat Parents lakukan adalah membangun trust dengan anak, agar anak dapat merasa nyaman dan aman untuk berbicara mengenai seksualitas dengan orang tua. Kedua, Parents dapat melakukan pendampingan penggunaan alat elektronik anak, orang tua tahu apa yang anaknya lihat dan akses di internet. Ketiga, di zaman serba digital ini orang tua dapat mengakses berbagai informasi dari sumber yang terpercaya dan berdasarkan ahlinya melalui media internet, buku, dan sosial media. Hal ini untuk mempersiapkan dan membenarkan pengetahuan anak terkait seksualitas.

Baca juga: Pentingnya Diskusi Tentang Seks Dengan Anak melalui website Focus on the Family Indonesia.

Parenting

Bagaimana Sosok Ayah di Hidup Anaknya?

“Ketika anak menangis, siapa yang pertama mereka cari? Ibu”

“Ketika anak sedang senang, siapa yang mereka bagikan kabar bahagia tersebut? Ibu”

Lalu dimana porsi Ayah dalam hidup sang anak?

Mengapa banyak anak yang mendahulukan sang Ibu ketimbang Ayah disebabkan oleh beberapa hal dasar dalam perjalanan hidup anak. Pertama, secara umum dan banyak terjadi di kehidupan kita, peran mengasuh anak banyak dilimpahkan hanya kepada Ibu, sehingga kebanyakan anak memilih Ibu sebagai figur lekat yang utama (Muslihatun & Santi, 2022). Hal ini akan sangat mungkin membuat anak merasa bahwa sang Ayah tidak hadir secara emosional, yang juga dapat terjadi karena kualitas interaksi ibu-anak cenderung lebih mendalam dibanding interaksi ayah-anak (Nasution, 2021). Kedua, di hampir semua negara dapat terlihat bahwa Ibu menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak karena Ayah yang sibuk bekerja. Hal ini juga yang dapat membuat anak merasa lebih mudah berbicara dengan Ibu terkait perasaan dan kehidupannya. Oleh karena itu, peran Ayah sering kali tidak terlihat dan dirasa tidak seimbang dengan peran Ibu dalam masyarakat kita. Namun, seperti yang kita tahu bahwa Ayah memiliki peran penting untuk potensi dalam hidup anak, bahkan ketika anak sudah dewasa.

Beberapa orang mungkin kesulitan untuk menjelaskan bentuk kasih sayang Ayah kepada anak-anaknya karena seringkali Ayah tidak mengungkapkan hal tersebut secara langsung. Namun, peran Ayah sangat penting untuk anaknya, anak-anak membutuhkan Ayah sebagaimana mereka membutuhkan Ibu untuk merasa dicintai, dihargai, dan dimengerti. Keterlibatan Ayah yang berkualitas tinggi selama masa kanak-kanak mendorong angka kerja yang lebih tinggi, hubungan yang lebih sehat, dan kualitas hidup yang menguntungkan bagi anak hingga dewasa (Nettle, 2008). Ikatan antara Ayah dan anaknya melibatkan pembentukan pola interaksi yang kuat dan keterikatan emosional erat yang dibangun melalui interaksi terbuka, kasih sayang, kenyamanan, dan keterlibatan.

“Their love may be hidden, but it is unconditional.”

Bila dilihat dari sisi Ayah, banyak dari mereka yang tidak terbiasa untuk mencurahkan kasih sayang kepada anak seperti yang dilakukan oleh Ibu. Maka, seringkali anak melihat Ayah sebagai sosok yang cuekkepada anak anak-nya. Namun, yang sebenarnya, mungkin begitulah cara Ayah dapat menunjukkan rasa sayang. Mereka, para laki-laki kesulitan menunjukkan kasih sayang secara langsung karena beberapa alasan. Mereka mungkin memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan emosi dan terkadang mendapatkan tekanan sosial berupa stereotip gender, yaitu laki-laki yang menunjukkan sisi emosional mereka mungkin diejek atau dianggap lemah. Ayah seringkali harus berjuang di luar sana melawan kerasnya dunia untuk menghidupi keluarga kecilnya, menciptakan rasa aman, dan menjamin kesejahteraan juga kebahagian anak dan istrinya. Bentuk pengorbanan kecil yang diberikan oleh seorang Ayah seringkali luput dari pandangan kita semua.

Belakangan ini, para Ayah modern telah mendobrak stereotip Ayah yang “cuek” dengan partisipasi aktif mereka dalam kehidupan dan pendidikan anak. 

  1. Ikut serta dalam menjaga bayi yang baru lahir dengan mengganti popok dan membantu memandikan bayi.
  2. Menjadi pendengar yang baik ketika anak sedang membuka diri dan berbagi pikiran serta emosinya. Ayah dapat mendorong mereka untuk mengekspresikan diri, hal ini akan membantu menumbuhkan kepercayaan dan kedekatan dalam hubungan antara ayah-anak.
  3. Menghabiskan waktu bersama anak, Ayah hadir secara fisik dan emosional melalui interaksi dengan anak. Aktivitas yang dapat dilakukan, yaitu bermain game, membaca buku, olahraga, dan kegiatan lainnya. 
  4. Selalu ada waktu untuk anak, sebagai contoh duduk di samping anak saat mereka bermain, menjemput pulang dari sekolah, dan makan malam bersama. 
  5. Katakan pada anak bahwa Anda mencintai mereka. Setiap orang tua tentu menyayangi anak mereka. Namun, seberapa sering kita mengatakan hal tersebut kepada mereka? Ayah dapat meyakinkan anak bahwa mereka dicintai setiap hari dengan mengatakan rasa sayang kepada mereka. Ketika anak tahu bahwa Ayah menyayangi mereka, anak akan merasa aman dan didukung saat berada di sekitar Ayahnya.
  6. Membangun rasa saling menghargai dengan menghargai anak. Menanggapi pikiran dan emosi anak dengan serius, meskipun Ayah mungkin tidak dapat memahami beberapa kekhawatiran anak. Meluangkan waktu dan peka terhadap kebutuhan mereka, baik secara fisik maupun emosional.
  7. Mengembangkan minat bersama untuk menjalin ikatan melalui kegiatan yang menyenangkan yang Ayah dan anak sukai. Saling berbagi minat dan kegemaran dengan anak, atau ikut serta dalam kegiatan yang mereka sukai. Misalnya, anak suka bersepeda, Ayah dapat pergi bersepeda dengan anak di setiap minggu.

Menemukan waktu berkualitas dengan anak-anak sering kali bisa menjadi tantangan mengingat tuntutan kehidupan sehari-hari. Namun, para Ayah yang secara aktif mencari waktu untuk terlibat dalam pengalaman ikatan dengan anak-anak mereka akan menciptakan kenangan yang abadi dan memperkuat hubungan ayah-anak. Melalui kata-kata dan tindakan, para Ayah menanamkan pelajaran dan nilai-nilai kehidupan yang berharga, mulai dari mengajari mereka menghormati orang lain hingga menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi kesulitan, yang menjadikan Ayah sebagai panutan bagi anak-anak mereka.

Dampak dari figur Ayah yang positif akan beresonansi di sepanjang kehidupan anak yang memengaruhi sikap, perilaku, dan keyakinan mereka di masa depan. Beberapa kenangan terindah di masa kanak-kanak sering kali berpusat pada saat-saat yang dibagikan bersama dengan Ayah. Ikatan antara Ayah dan anak adalah hubungan yang tak tergantikan yang membentuk kehidupan keduanya dengan berbagai cara. Mulai dari mematahkan stereotip hingga membangun kepercayaan diri dan menciptakan kenangan indah bersama sang anak, para Ayah memainkan peran penting dalam proses pengasuhan anak. Bahwa, cinta seorang ayah adalah cinta yang membangun kepercayaan diri dan rasa aman pada anak-anaknya.

Jika parents ingin belajar lebih jauh mengenai hubungan antara Ayah dan anak, parents dapat mengikuti berbagai program dari Focus on the Family Indonesia. Terkhusus untuk para ayah, FOFI menyediakan program intentional fathering. Info lebih lanjut dapat parents dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

“If the family is a tree, the father is the root. His efforts aren’t visible, but he keeps the tree alive”- Shipa Goel

 

Referensi:

Muslihatun, W. N., & Santi, M. Y. (2022). Faktor yang Mempengaruhi Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Anak Usia Dini. Window of Health Jurnal Kesehatan, 404–418. https://doi.org/10.33096/woh.vi.131 

Nasution, E. S. (2021). GAMBARAN KELEKATAN ANAK DENGAN ORANG TUA DARI KELUARGA COMMUTER MARRIAGE. Jurnal Psikologi Pendidikan Dna Pengembangan SDM, 10(2), 19–29. https://ejournal.borobudur.ac.id/index.php/psikologi/article/download/857/796 

Nettle, D. (2008). Why do some dads get more involved than others? Evidence from a large British cohort. Evolution and Human Behavior, 29(6), 416-423.e1. https://doi.org/10.1016/j.evolhumbehav.2008.06.002

Youngacademics. (2024, August 5). Father and child connections – young academics. Young Academics. https://www.youngacademics.com.au/father-and-child-connections/ 

Uncategorized

Fondasi Utama dalam Membangun Pernikahan yang Kokoh Seumur Hidup

Couples, bagi banyak pasangan, memiliki pernikahan yang langgeng adalah tujuan utama dari perjalanan mereka. Namun, membangun rumah tangga yang harmonis bukanlah perkara mudah. Adakalanya, dalam hubungan pernikahan menemui berbagai ujian, tantangan, dan rintangan yang menerpa hubungan. Hal ini terkadang, justru menimbulkan kekhawatiran dan kesedihan bagi pasangan. Maka, diperlukan fondasi yang kuat untuk setiap pasangan menghadapi ujian di masa mendatang dan meningkatkan peluang untuk memiliki pernikahan langgeng pun bahagia.

Banyak pasangan yang meyakini bahwa cinta adalah satu-satunya fondasi dari setiap pernikahan yang bahagia. Namun, cinta saja tidak cukup untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Dibutuhkan beberapa komponen inti yang mendalam, antara kedua pasangan untuk membangun pernikahan yang langgeng dan mampu melewati badai dalam hubungan mereka.

Apa itu fondasi dalam pernikahan?

Fondasi dalam hubungan didefinisikan sebagai aspek-aspek yang mendasari hubungan tersebut. Fondasi pernikahan yang baik dibangun atas dasar rasa saling menghormati, komunikasi yang efektif, kepercayaan, nilai-nilai bersama, dan komitmen terhadap pertumbuhan dan kompromi terhadap pasangan. Hal ini juga melibatkan perkembangan hubungan emosional yang mendalam, mendukung tujuan dan impian satu sama lain, dan melakukan dialog yang terbuka dan jujur ​​untuk menghadapi tantangan secara bersama-sama dengan cinta dan pengertian.

Baca juga: Rahasia Pasangan Bahagia: Bagaimana Tetap Jatuh Cinta dalam Pernikahan

Berikut beberapa fondasi utama untuk membangun pernikahan yang kokoh:

  1. Commitment

Komitmen berarti menempatkan kebutuhan pasangan di atas kebutuhan kita sendiri. Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa indikator terbaik dari pernikahan yang sejahtera adalah seberapa baik setiap pasangan merasa kebutuhannya terpenuhi. Contohnya, ketika suami yang hanya berfokus pada kebutuhan dirinya sendiri dan melupakan kebutuhan sang istri. Suami akan cenderung merasa jengkel dan kecewa ketika kebutuhannya tidak terpenuhi. Di sisi lain, suami akan merasa puas ketika ia berfokus pada kebutuhan sang istri dan bagaimana ia dapat memenuhi kebutuhan tersebut secara kreatif.

Komitmen juga berarti menunjukkan keinginan untuk melanjutkan pernikahan, memiliki stabilitas pernikahan, mengekspresikan cinta, dan menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih tepat.  Komitmen berarti bahwa setiap anggota keluarga saling setia satu sama lain ketika sedih dan bahagia, juga pada saat yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam hidup (Gao, 2001).

Menurut Temple (2023), terdapat tiga jenis komitmen yang dapat memberikan keseimbangan dan pengabdian dalam hubungan:

  • Komitmen Pribadi dimulai dengan kalimat, “Saya ingin”. Jika couples memiliki komitmen pribadi, pikiran yang muncul terkait pernikahan adalah “Saya ingin bertahan dalam pernikahan saya.” Couples akan merasakan kesenangan atau kegembiraan dari hal-hal yang menjadi komitmen pribadi.
  • Komitmen Moral juga dikenal sebagai, “Saya Harus”. Komitmen moral berarti berkomitmen karena kepercayaan bahwa hal tersebut adalah hal yang benar untuk dilakukan. Hal ini dapat mencakup bertahan dalam sebuah pernikahan karena seperangkat nilai atau keyakinan tertentu. Contohnya, “Saya membuat komitmen di hadapan Tuhan dan saya harus menepati komitmen saya”.
  • Komitmen Struktural dimulai dengan kalimat, “Saya Harus”. Komitmen struktural berarti couples akan merasa bahwa alasan untuk harus tetap bertahan dalam pernikahan adalah demi anak-anak, biaya perceraian yang mahal, atau tetap bersama karena anda mungkin khawatir dengan apa yang orang lain pikirkan tentang diri.

Komitmen adalah faktor utama untuk kehidupan pernikahan dan memainkan peran penting dalam menjaga kelangsungan dan kesejahteraan pernikahan. Ketiadaan komitmen akan dapat merusak janji pernikahan dan menggoyahkan fondasi keluarga, yang dapat berujung pada perceraian (Hosseini et al., 2015).

“If you truly love someone, you will work hard for the relationship. That is what commitment means in marriage.”

 

2. Communication

Jenis komunikasi ini bukan hanya tentang bertukar informasi,  tetapi mengenai komunikasi yang mendalam untuk saling berbagi perasaan, rasa sakit, dan sukacita. Namun, membangun komunikasi tentu bukan hal yang mudah, salah satu faktornya karena pria dan wanita memiliki perbedaan dalam kemampuan linguistik, terutama dalam menyampaikan perasaan yang dirasakan. Couples perlu memahami bahwa meskipun sulit, komunikasi adalah keterampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh setiap individu. Pergi bersama pasangan sekadar untuk jalan santai atau keluar untuk makan malam, dapat menjadi cara untuk memancing terjadinya percakapan bersama pasangan, hal ini dapat menjaga hubungan dan cinta tetap hidup. Couples dapat menyediakan waktu untuk membangun percakapan yang bermakna dengan pasangan anda.

Komunikasi yang baik dicerminkan dengan pasangan yang lebih siap untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan mereka secara efektif. Komunikasi ini mengarah pada pemahaman dan empati yang lebih besar dalam hubungan, sehingga setiap pasangan nantinya akan belajar bagaimana mendengarkan secara aktif, memvalidasi perspektif satu sama lain, dan berkomunikasi secara konstruktif, bahkan selama masa-masa konflik. Komunikasi yang lebih baik, tidak hanya memfasilitasi penyelesaian konflik yang ada, tetapi juga menumbuhkan rasa keterhubungan dan keintiman yang lebih dalam. Pembekalan keterampilan berkomunikasi secara terbuka dan jujur, memainkan peranan penting dalam memperkuat fondasi hubungan pernikahan dan meningkatkan kepuasan pernikahan jangka panjang.

3. Patience

Di dunia yang didominasi oleh kehidupan yang serba cepat, kesabaran adalah sebuah kebajikan yang sering diabaikan, terutama dalam dinamika hubungan yang kompleks. Dalam masyarakat modern, kualitas yang penting dan sakral ini tidak hanya langka tetapi juga sering diremehkan, dibayangi oleh kesibukan dan kesegeraan yang menjadi tuntutan kehidupan modern.

Pernikahan, terutamanya membutuhkan waktu dan perhatian untuk menjadi benar-benar indah. Itu berarti kita semua belajar yang namanya kesabaran. Kesabaran berarti tetap bersikap terbuka dan hadir (bertahan) dalam suatu hubungan, bahkan ketika keadaan tidak sesuai dengan harapan kita. Hal ini mencakup sikap menerima ketidakpastian dan cukup perhatian untuk memahami emosi kita, sehingga kita dapat merespons dengan bijaksana daripada bereaksi secara impulsif. Kesabaran memungkinkan kita untuk memberikan pasangan kita ruang yang mereka butuhkan untuk tumbuh, sambil juga memberikan kita kesempatan untuk mengelola konflik secara lapang dada.

Di luar kebiasaan sehari-hari dan kekurangan pasangan yang harus kita terima, kesabaran dibutuhkan untuk jangka panjang pernikahan. Mungkin perlu waktu bertahun-tahun bagi couples untuk dapat mengembangkan jenis hubungan yang memuaskan kedua belah pihak. Dimana banyak orang yang tidak memiliki kesabaran untuk menunggu hal-hal tersebut terjadi dan berkembang dalam pernikahan mereka. Tapi, jika kita bersedia untuk sabar dan bertahan, pernikahan bersama pasangan dapat menjadi perjalanan yang menakjubkan akhirnya.

“True love stands by each other’s side on good days and stands closer on bad days”

 

4. Honor and Respect

Setiap orang tentu mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Memahami, menghargai, dan beradaptasi dengan perubahan pasangan dan dinamika rumah tangga, menjadi hal yang sangat penting bagi setiap hubungan. Menghargai seseorang berarti menghormati dan mengapresiasi orang tersebut. Memberi kehormatan berarti menerima dan menghargai seseorang apa adanya tanpa harus setuju dengan mereka dalam semua hal.

Menunjukkan rasa hormat tidak didasarkan pada perasaan, namun melalui sebuah tindakan. Ini adalah sikap penuh kasih untuk bertanya kepada pasangan terkait apa yang dirasa membuat mereka merasa dihormati atau tidak dihormati. Ketika kita saling menghargai satu sama lain, kita menjunjung tinggi batasan-batasan yang sehat dengan menunjukkan rasa saling menghargai.

Couples dapat memulai dengan membuat sebuah daftar yang berisi hal-hal tentang mereka yang membuat diri kita tersenyum. Daftar ini bisa berisi hal-hal luar biasa yang mereka katakan atau lakukan, momen-momen lucu bersama, dan hal-hal yang membuat mereka berbeda dari yang lainnya yang kita sangat hargai. Daftar ini mengingatkan akan alasan mengapa kita mencintai pasangan kita dan akan sangat membantu untuk melihatnya kembali saat kita sedang merasa kesal dengan pasangan kita. Latihan ini akan membantu kita mengingat mengapa kita jatuh cinta pada mereka sejak awal. Hal ini juga membantu untuk menyuarakan seberapa besar kita menghargai dan menerima segala keunikan pasangan kita.

Fondasi penting lainnya terkait dengan kepuasan pernikahan jangka panjang meliputi menemukan titik tengah, penerimaan, dan penghormatan terhadap kepribadian satu sama lain, serta mendukung pertumbuhan individu satu sama lain, dan menanamkan rasa puas terhadap kemampuan pasangan kita.

Jangan pernah berhenti untuk memperkuat fondasi pernikahan karena membangun fondasi pernikahan seperti halnya menanam pohon. Dibutuhkan banyak waktu, kesabaran, dan perawatan yang tepat untuk pohon dapat tumbuh subur dan menghasilkan buah yang manis, sama seperti pernikahan yang dijalani. Mari kita bersama dengan pasangan kita, terus membangun fondasi pernikahan yang kokoh yang mampu menghadapi segala badai kehidupan.

“No relationship is all sunshine. But two people, who can share one umbrella and survive the storm together.”

 

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program khusus bagi anda dan pasangan yaitu Journey to Us. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram ke @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Gao, G. (2001). Intimacy, passion, and commitment in Chinese and US American romantic relationships. International Journal of Intercultural Relations, 25(3), 329–342. https://doi.org/10.1016/s0147-1767(01)00007-4 

Hosseini, A., Zahrakar, K., Davarnia, R., Shakarami, M., & Mohammadi, B. (2015). The Relationship between Marital Commitment with Personality Traits. Journal of Sabzevar University of Medical Sciences, 22(5), 788–796. http://jsums.medsab.ac.ir/article_757.html?lang=en 

Singapore, F. (2024, November 1). Foundations of a Lifelong Marriage – Focus on the family Singapore. Focus on the Family Singapore – Helping Families Thrive. https://family.org.sg/articles/foundations-of-a-lifelong-marriage/ 

Temple, M. (2023, December 13). Make your marriage a stronghold. Focus on the Family. https://www.focusonthefamily.com/marriage/strengthening-marital-commitment/