Mitos atau Fakta? “If He Wanted To, He Would
Frasa “If he wanted to, he would” belakangan ini menjadi viral di media sosial. Di TikTok, hashtag #ifhewantedtohewould bahkan sudah menembus lebih dari 72,5 juta postingan. Sering kali kalimat ini diucapkan dengan penuh keyakinan, seolah mampu mengatasi semua ambiguitas dalam hubungan.
Frasa tersebut mengasumsikan bahwa keinginan saja sudah cukup untuk menjamin tindakan. Kenyataannya, hubungan tidaklah sesederhana itu. Cinta tidak bisa diwakili hanya lewat pernyataan umum yang sedang viral. Dalam relasi nyata, terkadang seseorang ingin menunjukkan cinta dengan baik, tetapi belum belajar caranya.
Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menerima dan mengekspresikan kasih. Perbedaan itu membutuhkan waktu, kerendahan hati, dan niat tulus untuk saling memahami. Maka dari itu, cinta sejati bukan hanya soal keinginan, tetapi tentang komitmen untuk belajar, berproses, dan bertumbuh bersama.
Bahayanya Frasa “If He Wanted To, He Would”
Kelemahan terbesar dari frasa ini adalah pandangan sempit bahwa jika seseorang tidak melakukan sesuatu, berarti mereka tidak mau. Padahal, ada banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. McLaren (2023) menyoroti beberapa hal yang sering terlewat:
- Kepribadian dan kondisi psikologis. Mereka yang cenderung introvert, memiliki perbedaan neurologis, atau mengalami kecemasan sosial bisa saja kesulitan memahami ekspektasi pasangan, memenuhi norma sosial, atau mengambil inisiatif.
- Pengalaman masa lalu. Seseorang yang memiliki luka atau trauma dari relasi sebelumnya, mungkin berhati-hati agar tidak terlihat terlalu mendesak atau memaksa, karena mengira itu cara terbaik untuk menghormati batasan Anda.
- Beban pribadi dan kesehatan mental. Ada kalanya pasangan sedang menghadapi pergumulan hidup atau masalah kesehatan mental, sehingga tidak mampu memberikan perhatian penuh meskipun sebenarnya mereka peduli.
- Kurangnya komunikasi yang jelas. Pasangan tidak dapat membaca pikiran Anda. Jika kebutuhan dan harapan Anda tidak pernah diutarakan, wajar bila mereka tidak menyadari apa yang membuat Anda bahagia. Bahayanya, kita bisa salah menilai ketidaktahuan mereka sebagai ketidakpedulian.
Fakta Sesungguhnya
Frasa “If he wanted to, he would” seolah-olah tidak memberi ruang untuk proses pertumbuhan dalam hubungan. Ia menyiratkan bahwa cinta harus langsung hadir dalam bentuk yang sempurna. Padahal, hubungan sejati justru terbentuk di tengah dinamika usaha, kesalahan, dan pembelajaran bersama.
Hal ini bukan berarti kita menurunkan standar. Pria tetap perlu hadir secara nyata dengan berusaha, mendengarkan, mengambil inisiatif, dan memikul tanggung jawab. Itulah wujud kasih yang nyata. Namun, perjuangan dalam hubungan bukan hanya tugas pria. Wanita pun perlu belajar memahami, menghargai, dan menjaga kehangatan hubungan. Ingatlah, mengharapkan kesempurnaan tanpa ruang untuk kesalahan bukanlah cinta, melainkan tekanan. Relasi yang sehat tidak menuntut kesempurnaan, tetapi memberi kesempatan untuk belajar, mencoba, dan bertumbuh bersama.
Berikanlah suami Anda ruang untuk belajar memahami kebutuhan Anda, cara berkomunikasi yang benar, dan arti kehadiran yang sesungguhnya. Di situlah cinta sejati tumbuh. Cinta bukan dibuktikan dengan kesempurnaan, melainkan dengan pilihan untuk tetap hadir, berusaha, dan terus melangkah bersama melewati kekacauan menuju kedewasaan.
Seorang istri pun perlu untuk bertumbuh. Belajar bertanya dengan jelas, menyebutkan kebutuhan dengan terbuka, melepaskan ekspektasi, dan menukar frustasi dengan komunikasi yang jujur sekaligus menghormati. Komunikasi adalah kunci, terutama dalam hubungan jangka panjang. Kejujuran semacam ini memang menuntut keberanian karena membuka ruang rapuh dalam hubungan.
Di tengah perjalanan penuh tantangan, mari kita melihat pasangan bukan sebagai pribadi yang harus sempurna, tetapi sebagai teman sejalan yang bersama-sama belajar, bertumbuh, dan saling menopang. Tuhan merancang pernikahan bukan untuk saling menuntut, melainkan untuk saling melayani. Jadi, ukuran cinta sejati bukanlah “kalau dia mau, dia pasti lakukan”, melainkan “kalau kita mau, kita berjuang bersama”.
Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.
Referensi
- McLaren, A. (2022, Juli 31). If he wanted to, he would: Setting the standard or praising toxic dynamics? Mouthy Magazine. https://www.mouthymagazine.com/post/if-he-wanted-to-he-would-setting-the-standard-or-praising-toxic-dynamics










