Family Indonesia

Category: Uncategorized

Uncategorized

Mitos atau Fakta? “If He Wanted To, He Would

Frasa “If he wanted to, he would” belakangan ini menjadi viral di media sosial. Di TikTok, hashtag #ifhewantedtohewould bahkan sudah menembus lebih dari 72,5 juta postingan. Sering kali kalimat ini diucapkan dengan penuh keyakinan, seolah mampu mengatasi semua ambiguitas dalam hubungan.

Frasa tersebut mengasumsikan bahwa keinginan saja sudah cukup untuk menjamin tindakan. Kenyataannya, hubungan tidaklah sesederhana itu. Cinta tidak bisa diwakili hanya lewat pernyataan umum yang sedang viral. Dalam relasi nyata, terkadang seseorang ingin menunjukkan cinta dengan baik, tetapi belum belajar caranya.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menerima dan mengekspresikan kasih. Perbedaan itu membutuhkan waktu, kerendahan hati, dan niat tulus untuk saling memahami. Maka dari itu, cinta sejati bukan hanya soal keinginan, tetapi tentang komitmen untuk belajar, berproses, dan bertumbuh bersama.

Bahayanya Frasa “If He Wanted To, He Would”

 

Kelemahan terbesar dari frasa ini adalah pandangan sempit bahwa jika seseorang tidak melakukan sesuatu, berarti mereka tidak mau. Padahal, ada banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. McLaren (2023) menyoroti beberapa hal yang sering terlewat:

  1. Kepribadian dan kondisi psikologis. Mereka yang cenderung introvert, memiliki perbedaan neurologis, atau mengalami kecemasan sosial bisa saja kesulitan memahami ekspektasi pasangan, memenuhi norma sosial, atau mengambil inisiatif.
  2. Pengalaman masa lalu. Seseorang yang memiliki luka atau trauma dari relasi sebelumnya, mungkin berhati-hati agar tidak terlihat terlalu mendesak atau memaksa, karena mengira itu cara terbaik untuk menghormati batasan Anda.
  3. Beban pribadi dan kesehatan mental. Ada kalanya pasangan sedang menghadapi pergumulan hidup atau masalah kesehatan mental, sehingga tidak mampu memberikan perhatian penuh meskipun sebenarnya mereka peduli.
  4. Kurangnya komunikasi yang jelas. Pasangan tidak dapat membaca pikiran Anda. Jika kebutuhan dan harapan Anda tidak pernah diutarakan, wajar bila mereka tidak menyadari apa yang membuat Anda bahagia. Bahayanya, kita bisa salah menilai ketidaktahuan mereka sebagai ketidakpedulian.

Fakta Sesungguhnya

 

Frasa “If he wanted to, he would” seolah-olah tidak memberi ruang untuk proses pertumbuhan dalam hubungan. Ia menyiratkan bahwa cinta harus langsung hadir dalam bentuk yang sempurna. Padahal, hubungan sejati justru terbentuk di tengah dinamika usaha, kesalahan, dan pembelajaran bersama.

Hal ini bukan berarti kita menurunkan standar. Pria tetap perlu hadir secara nyata dengan berusaha, mendengarkan, mengambil inisiatif, dan memikul tanggung jawab. Itulah wujud kasih yang nyata. Namun, perjuangan dalam hubungan bukan hanya tugas pria. Wanita pun perlu belajar memahami, menghargai, dan menjaga kehangatan hubungan. Ingatlah, mengharapkan kesempurnaan tanpa ruang untuk kesalahan bukanlah cinta, melainkan tekanan. Relasi yang sehat tidak menuntut kesempurnaan, tetapi memberi kesempatan untuk belajar, mencoba, dan bertumbuh bersama.

Berikanlah suami Anda ruang untuk belajar memahami kebutuhan Anda, cara berkomunikasi yang benar, dan arti kehadiran yang sesungguhnya. Di situlah cinta sejati tumbuh. Cinta bukan dibuktikan dengan kesempurnaan, melainkan dengan pilihan untuk tetap hadir, berusaha, dan terus melangkah bersama melewati kekacauan menuju kedewasaan.

Seorang istri pun perlu untuk bertumbuh. Belajar bertanya dengan jelas, menyebutkan kebutuhan dengan terbuka, melepaskan ekspektasi, dan menukar frustasi dengan komunikasi yang jujur sekaligus menghormati. Komunikasi adalah kunci, terutama dalam hubungan jangka panjang. Kejujuran semacam ini memang menuntut keberanian karena membuka ruang rapuh dalam hubungan.

Di tengah perjalanan penuh tantangan, mari kita melihat pasangan bukan sebagai pribadi yang harus sempurna, tetapi sebagai teman sejalan yang bersama-sama belajar, bertumbuh, dan saling menopang. Tuhan merancang pernikahan bukan untuk saling menuntut, melainkan untuk saling melayani. Jadi, ukuran cinta sejati bukanlah “kalau dia mau, dia pasti lakukan”, melainkan “kalau kita mau, kita berjuang bersama”.

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • McLaren, A. (2022, Juli 31). If he wanted to, he would: Setting the standard or praising toxic dynamics? Mouthy Magazine. https://www.mouthymagazine.com/post/if-he-wanted-to-he-would-setting-the-standard-or-praising-toxic-dynamics

 

 

Uncategorized

Boost Your Brain: 5 Cara Meningkatkan Kecerdasan

Kecerdasan bukanlah sesuatu yang berhenti berkembang setelah kita lulus sekolah. Otak manusia diciptakan dengan kemampuan luar biasa yang disebut neuroplastisitas, yaitu kemampuan untuk terus membentuk koneksi baru sepanjang hidup. Dengan kata lain, setiap hari kita punya kesempatan memperluas cara berpikir, mempertajam ingatan, dan meningkatkan kreativitas.

Apa Itu Kecerdasan Sebenarnya?

 

Ketika mendengar kata kecerdasan, banyak orang langsung terbayang angka IQ atau nilai ujian. Padahal, kecerdasan jauh lebih luas daripada skor di atas kertas. Kecerdasan mencakup cara kita memahami diri sendiri, berhubungan dengan orang lain, mengelola emosi, memecahkan masalah, sampai menciptakan sesuatu yang baru.

Kecerdasan bukanlah “paket tetap” yang hanya dimiliki segelintir orang. Sama seperti otot, kecerdasan bisa dilatih melalui kebiasaan yang sehat, lingkungan yang mendukung, dan sikap mau belajar. Setiap langkah kecil seperti mempelajari hal baru, berdiskusi, atau bersosialisasi dapat membantu pikiran kita berkembang dan membuat kita lebih siap menghadapi berbagai tantangan hidup.

5 Cara Meningkatkan Kecerdasan

Meningkatkan kecerdasan bukan berarti kita harus melakukan hal yang rumit atau mahal. Justru, kuncinya ada pada kebiasaan sehari-hari yang sederhana namun konsisten. Menurut Kuszewski (2011), terdapat 5 cara praktis yang dapat membantu kita memaksimalkan kemampuan otak:

     1. Mencari Hal Baru

Ketika Champs mencoba hal-hal baru, otakmu sedang bikin “jaringan kabel” baru di dalamnya. Semakin sering champs mengenal hal baru, semakin banyak koneksi yang tercipta. Koneksi-koneksi ini saling membangun, meningkatkan aktivitas saraf, dan menciptakan lebih banyak koneksi untuk membangun koneksi lain. Terbuka pada hal-hal baru akan membantu otak champs berada dalam keadaan siap untuk belajar.

Aktivitas atau pengalaman baru juga memicu dopamin. Dopamin ini membantu kita lebih termotivasi dan mendorong otak membentuk sel-sel saraf baru, sehingga belajar jadi lebih mudah dan seru. Jadi, jangan ragu mencari pengalaman, aktivitas, dan informasi baru yang bikin champs penasaran tapi tentunya positif. Ikut kelas seni, main ke museum, atau baca tentang topik yang belum pernah champs pelajari sebelumnya.

     2. Tantang Diri Champs

Saat Champs mencoba aktivitas baru, awalnya mungkin terasa menantang karena otak perlu bekerja keras untuk memahami hal baru. Namun, setelah sering dilakukan, aktivitas itu perlahan akan terasa lebih mudah dan familiar. Hal ini terjadi karena otak kita sudah terbiasa melakukannya. Masalahnya, ketika otak sudah mahir, ia cenderung “beristirahat” dan tidak lagi bekerja sekeras sebelumnya. Proses ini menghambat pertumbuhan kognitif, karena otak tidak lagi mendapat rangsangan yang cukup untuk membentuk koneksi baru.

Bayangkan saat Champs pertama kali bermain Tetris. Awalnya, otak membentuk berbagai koneksi baru. Namun, otak akhirnya akan terbiasa dalam permainan tersebut dan sekarang kita mungkin memainkan Tetris secara otomatis tanpa berpikir keras. Pada tahap ini, otak kita tidak lagi ditantang dan tidak lagi berkembang.

Begitu Champs mulai mahir dalam suatu topik atau aktivitas, cobalah segera beralih ke tantangan berikutnya. Tujuannya adalah untuk memastikan apa yang kita lakukan selalu memberi dorongan baru bagi otak. Jika Champs bisa melakukannya tanpa berpikir, kita tidak memaksimalkan kemampuan kognitif. Dengan terus mencari hal yang menantang, otak akan terus membangun koneksi saraf baru dan menciptakan lingkungan yang ideal untuk belajar dan berkembang di masa depan.

     3. Berpikir Kreatif

Berpikir kreatif bukan hanya tentang melukis, menggambar atau melakukan hal-hal yang berkaitan dengan seni. Kreatifitas melibatkan kedua belahan otak, bukan hanya sisi kanan. Pemikiran kreatif berarti mampu menjelajahi berbagai topik atau bidang, menemukan benang merah di antara ide-ide, dan berpikir “out of the box”.

Penelitian The Rainbow Project yang dilakukan Sternberg (2006), menunjukkan bahwa siswa yang dilatih memecahkan masalah secara kreatif, praktis, dan analitis, cenderung memiliki performa akademik yang lebih baik. Jenis pemikiran ini mirip dengan pemikiran kritis, yang diperlukan untuk memecahkan masalah nyata yang kompleks dan rumit. Saat Champs menghadapi tantangan atau dilema, cobalah berpikir di luar kebiasaan, temukan solusi yang tidak biasa, lihat masalah dari berbagai sudut pandang, dan perhatikan hal-hal yang biasanya terlewatkan.

     4. Lakukan Hal-Hal dengan Cara yang Sulit

Efisiensi bukanlah teman ketika Champs sedang berusaha meningkatkan kecerdasan. Sayangnya, banyak hal dalam hidup kita didesain agar semuanya jadi lebih cepat dan mudah. Teknologi memang membantu mempermudah, mempercepat, dan membuat hidup lebih praktis. Namun, jika kita terlalu bergantung pada jalan pintas ini, keterampilan kognitif bisa menurun dan akhirnya merugikan diri sendiri dalam jangka panjang.

Bayangkan perbedaan antara berjalan kaki dan mengemudi. Mengemudi memang menghemat energi fisik, menghemat waktu, dan mungkin lebih nyaman dan menyenangkan daripada berjalan kaki. Namun, seiring berjalannya waktu, otot akan menyusut, kondisi fisik akan melemah, dan mungkin berat badanmu akan bertambah. Kesehatan Champs secara keseluruhan kemungkinan akan menurun sebagai akibatnya.

Kemudahan modern dapat merusak keterampilan pemecahan masalah, keterampilan spasial, keterampilan logika, dan keterampilan kognitif. Tentu saja, ada saat ketika menggunakan teknologi adalah pilihan yang tepat dan efisien. Namun, jika champs punya waktu dan energi, cobalah sesekali menolak jalan pintas. Hitung manual, hafalkan rute baru tanpa GPS, atau pecahkan teka-teki tanpa bantuan aplikasi. Semakin sering champs melatih otak dengan cara seperti ini, semakin tajam kecerdasanmu berkembang.

     5. Jaringan

Berinteraksi dengan beragam orang memberi Champs kesempatan untuk melihat masalah dari sudut pandang baru, atau memberikan wawasan yang mungkin tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Dengan membuka diri pada orang baru, ide baru, dan lingkungan baru, Champs memberi ruang untuk pertumbuhan kognitif. Belajar bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga mengekspos diri pada hal-hal baru dan menyerapnya dengan cara yang bermakna dan unik.

Johnson (2011) dalam bukunya Where Good Ideas Come From, menjelaskan pentingnya kelompok dan jaringan dalam pengembangan ide. Jika Champs mencari cara untuk menemukan situasi, ide, lingkungan, dan perspektif baru, maka menjalin jaringan adalah jawabannya. Ikuti kegiatan sosial, gabung dengan kelompok diskusi, atau cukup keluar rumah dan berbicara dengan orang baru. Setiap percakapan bisa membuka wawasan dan memperluas cara Champs melihat dunia.

The measure of intelligence is the ability to change.” —-Albert Einstein

Mengasah pikiran bukanlah lomba cepat, melainkan perjalanan jangka panjang yang membutuhkan komitmen. Ingatlah, generasi yang melatih pikirannya akan lebih siap menjawab panggilan dan menghadapi berbagai tantangan hidup. Setiap kebiasaan baik yang champs lakukan adalah investasi yang akan membuahkan hasil seiring waktu.

Apabila Champs mengalami pergumulan atau membutuhkan dukungan lebih dalam untuk mengembangkan diri, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait pengembangan diri self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil membawa perubahan besar di masa depan.

 

Referensi

  • Johnson, S. (2011). Where good ideas come from: The natural history of innovation. Penguin.
  • Kuszewski, A. (2011). You can increase your intelligence: 5 ways to maximize your cognitive potential. Scientific American, 7, 1-8.
  • Sternberg, R. J. (2006). The Rainbow Project: Enhancing the SAT through assessments of analytical, practical, and creative skills. Intelligence, 34(4), 321-350. 10.1016/j.intell.2006.01.002
Uncategorized

Mengapa Anak Laki-Laki Butuh Kehadiran Ayahnya?

Anak laki-laki sering kali mendapat perhatian, kasih sayang, dan bimbingan dari ibunya. Namun, mereka juga merindukan figur ayah yang hadir mendampingi perjalanan hidup mereka. Kehadiran ayah bukan sekadar memberi nafkah, melainkan fondasi penting dalam membentuk identitas dan keberanian putranya.

Sayangnya, di tengah kesibukan pekerjaan dan rutinitas harian, banyak ayah yang tanpa sadar hadir secara fisik, namun jauh secara emosional. Fenomena ini dikenal dengan istilah fatherless, di mana anak tumbuh tanpa kehadiran atau keterlibatan ayah. Ketidakhadiran sosok ayah membawa dampak serius bagi perkembangan anak, baik secara psikologis maupun emosional.

Dampak Fatherless

 

Fenomena fatherless terjadi karena berkurangnya keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan. Kehilangan figur ayah bukan sekadar ketiadaan seseorang di rumah, tetapi juga hilangnya dukungan emosional, arahan, dan rasa aman yang penting bagi tumbuh kembang anak. McLanahan et al. (2013) mengidentifikasi beberapa dampak negatif yang kerap muncul pada anak yang tumbuh tanpa ayah:

1. Kesehatan Mental

Ketidakhadiran ayah baik karena perceraian, perpisahan, maupun faktor lain sering kali berdampak negatif terhadap kesehatan mental anak. Mereka lebih rentan mengalami stres, cemas hingga gejala depresi. Ketidakstabilan emosi yang muncul juga dapat menghambat fokus belajar, menurunkan motivasi, serta mengganggu kesejahteraan psikologis secara keseluruhan.

2. Masalah Sosial-Emosional

Ketidakhadiran ayah dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai perilaku bermasalah, seperti agresi dan sikap menentang. Anak juga bisa merasa kesepian dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Selain itu, mereka sering menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis, seperti kesulitan menjalin pertemanan, harga diri yang rendah, serta kurangnya kemampuan pengendalian diri.

3. Risiko Perilaku Menyimpang

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah risiko terjadinya perilaku menyimpang seperti merokok, penggunaan narkoba, dan konsumsi alkohol. Menurut Aswarani & Khoiryasdien (2022), ketidakhadiran figur ayah juga dapat berkaitan dengan kecenderungan kenakalan remaja. Kurangnya bimbingan dan teladan dari sosok ayah dapat membuat remaja lebih rentan mencari pelarian melalui perilaku berisiko atau melanggar norma.

Peran Ayah

 

Ayah memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan arah hidup anak laki-laki. Melalui bimbingan, kasih sayang, dan teladan, seorang ayah membantu putranya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat. Stanton (2025) menyebutkan empat hal utama yang dapat diajarkan ayah kepada putranya:

     1. Ayah Sebagai Role Model

Sejak hari-hari pertama kehidupannya, bayi mulai belajar membedakan antara ibu dan ayah. Bagi anak laki-laki, kehadiran ayah membantu mereka memahami bahwa mereka berbeda dari ibu maupun saudara perempuan. Sosok ayah menjadi fondasi awal dalam membentuk identitas putranya.

Kehadiran ayah menjadi teladan maskulinitas yang sehat. Bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga tentang kemampuan mengendalikan emosi, menunjukkan kasih sayang, dan tanggung jawab. Anak laki-laki akan meniru perilaku ayah dalam cara berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain.

     2. Ayah Mengembangkan Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri seorang anak laki-laki berasal dari ayahnya. Hal ini karena ayah lebih cenderung mendorong anak laki-lakinya untuk mengambil risiko. Berbeda dengan ibu yang biasanya lebih mengutamakan keamanan, ayah cenderung memberi tantangan dan mengajak putranya mencoba hal-hal baru. Misalnya saat anak belajar memanjat pohon, ayah akan mendorong anaknya untuk berani naik lebih tinggi.

Apa yang dilakukan ayah untuk anak laki-lakinya adalah membantu mereka mengembangkan kepercayaan diri dengan mengambil risiko dan menghadapi tantangan. Saat mereka berani mengambil risiko dan berhasil melewatinya, anak belajar bahwa mereka mampu menghadapi kesulitan. Pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi anak laki-laki dalam memecahkan masalah, menjalin relasi, mencari pekerjaan, dan mengambil peran kepemimpinan di lingkungannya.

     3. Ayah Mengajarkan Ketekunan

Anak laki-laki belajar mengenai pentingnya ketekunan bukan hanya lewat nasihat, tetapi juga melalui contoh dan dorongan yang mereka lihat dari ayahnya. Sosok ayah menjadi teladan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun saat menghadapi masa-masa sulit. Keteladanan itu sering hadir dalam bentuk yang sederhana, seperti pekerjaan tangan, memecahkan masalah, atau menghadapi tantangan dalam hubungan dengan orang lain.

Saat anak sedang mengerjakan sesuatu, seperti soal matematika yang sulit atau memperbaiki sepedanya, ayah biasanya akan mendorongnya untuk tidak menyerah. Ayah mengajaknya untuk berhenti sejenak, melihat kembali masalah yang ada, mencari solusi, lalu menuntaskannya. Melalui proses itu, anak bukan hanya menyelesaikan tugasnya, tetapi juga mempelajari keterampilan, kesabaran, dan nilai ketekunan yang akan membantunya di berbagai aspek kehidupan.

     4. Ayah Membentuk Identitas Anak Laki-Laki

Sama seperti dunia perempuan, dunia laki-laki memiliki dinamika dan cara khas dalam melakukan berbagai hal. Kehadiran ayah memberi putranya “akses” untuk memahami dan masuk ke dalam dunia tersebut. Maccoby (1998) dalam bukunya The Two Sexes menjelaskan bahwa di berbagai budaya, anak laki-laki membutuhkan kehadiran ayah agar mereka tahu bagaimana dan mengapa seorang pria bertindak, serta bagaimana belajar melakukannya sendiri.

Ayah juga mengajarkan hal-hal yang dianggap sebagai “urusan pria”, sekaligus menunjukkan batasan tentang perilaku yang tidak pantas dilakukan. Seiring berjalannya waktu, ayah akan mengenalkan anaknya kepada figur laki-laki lain yang dapat menjadi teladan, seperti seorang guru atau pelatih. Sosok ayah menjadi orang terdekat yang membantu putranya membangun jaringan dalam komunitas.

It is not biology that determines fatherhood. It is love.” —Kristin Hannah

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak Anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan program Intentional Fathering untuk memperlengkapi para ayah di Indonesia agar hadir seutuhnya dalam perjalanan hidup anak. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi

  • Aswarani, B. G., & Khoiryasdien, A. D. (2022). Kecenderungan kenakalan remaja laki-laki ditinjau dari persepsi terhadap peran ayah dalam pengasuhan di Yogyakarta. Jurnal Sudut Pandang, 2(12), 220-228.
  • Maccoby, E. E. (1998). The two sexes: Growing up apart, coming together. Belknap Press/Harvard University Press.
  • McLanahan, S., Tach, L., & Schneider, D. (2013). The Causal Effects of Father Absence. Annual review of sociology, 39, 399–427. https://doi.org/10.1146/annurev-soc-071312-145704
  • Stanton, G. T. (2025, Juli 29). What fathers do for sons. Focus on the Family. https://www.focusonthefamily.com/parenting/what-fathers-do-for-sons/
Uncategorized

Keadilan dalam Pernikahan Tidak Selalu Harus 50-50

Pernahkan couples merasa kecewa karena kontribusi Anda terasa lebih besar dibandingkan pasangan? Banyak pasangan mengira bahwa keadilan dalam pernikahan berarti membagi tugas, peran, atau tanggung jawab secara sama rata. Konsep ini memang terdengar ideal, di mana dua orang berjalan berdampingan dengan kontribusi yang seimbang. Namun, keadilan dalam pernikahan tidak selalu berarti 50-50.

Mitos 50-50 dalam Pernikahan

 

Pernikahan adalah ikatan yang membutuhkan pengorbanan. Ada hari-hari di mana couples akan kehabisan tenaga, dan ada hari-hari di mana pasangan Anda yang akan kehabisan tenaga. Jika couples sibuk menghitung siapa yang melakukan apa, siapa yang mencuci piring atau mengantar anak-anak ke sekolah, Anda tidak sedang membangun pernikahan, melainkan sedang membangun transaksi bisnis. Jika couples ingin hubungan bertahan, Anda harus melepaskan ekspektasi bahwa segalanya harus “seimbang”.

Penulis Klemp & Klemp (2021) juga menyimpulkan bahwa konsep 50-50 ini sangat tidak realistis dan hanya menimbulkan kekecewaan dan pertengkaran. Pembagian 50-50 adalah konsep yang mengajarkan kita untuk menjadi rasional daripada romantis, adil daripada murah hati, dan menang secara individu daripada bersama-sama. Daripada terjebak pada pembagian 50-50, mereka mendorong pasangan untuk bersikap murah hati satu sama lain dan berkontribusi lebih dari bagian yang adil.

Tips Praktis untuk Pasangan

 

Melepaskan pola pikir 50-50 memang tidak mudah. Maka dari itu, couples perlu melatih cara-cara sederhana untuk menjaga hubungan tetap sehat dan penuh kasih, bahkan dalam keadaan yang tampak tidak seimbang. Hong (2025) membagikan beberapa perspektif yang dapat membantu pasangan menemukan keseimbangan yang lebih baik:

     1. Menghargai Diri Sendiri

Ada kalanya pasangan tidak hadir untuk berbagi beban, sehingga Anda merasa seperti sedang menanggung semuanya sendirian. Di momen seperti ini, berhentilah sejenak dan ingatkan diri Anda bahwa perasaan itu normal. Jika hari ini terasa sangat berat, luangkan waktu untuk memperhatikan bagaimana tubuh Anda merespon, akui emosi yang Anda rasakan, dan hargai diri Anda karena telah melewatinya.

Ingatlah, setiap upaya couples hari ini adalah investasi dalam hubungan yang sedang dibangun bersama pasangan Anda. Pengingat semacam ini merupakan cara yang efektif untuk mengubah pikiran negatif dan tidak sehat menjadi pikiran yang lebih positif. Couples dapat belajar menjadi pendukung terbaik bagi diri sendiri, bahkan ketika keadaan belum memenuhi harapan Anda.

     2. Menghargai Pasangan Anda

Sering kali kita terfokus pada semua hal baik yang kita lakukan, sementara relatif tidak menyadari kebaikan yang dilakukan pasangan. Padahal, memperhatikan dan merenungkan kontribusi pasangan Anda terhadap keluarga dapat membantu couples melihat pasangan Anda sebagai rekan satu tim dalam perjalanan pernikahan. Dengan melihat dari sudut pandang yang berbeda, couples akan lebih mudah menyadari dan menghargai kontribusi tak terhitung dari pasangan Anda.

Mengingat kontribusi pasangan Anda akan membantu couples untuk terus memberi dengan tulus dan terbuka pada pertumbuhan, baik di masa damai maupun saat menghadapi tantangan. Ketika couples melihat mereka melakukan kontribusi, yang perlu Anda lakukan hanyalah mengekspresikan apresiasi Anda. Apresiasi adalah salah satu cara paling kuat untuk memperkuat ikatan pernikahan Anda. Pernikahan tidak dibangun di atas keheningan, melainkan di atas pemahaman bersama.

     3. Melakukan Percakapan Terbuka

Pernikahan dapat bertumbuh ketika kedua pasangan terbiasa mengkomunikasikan kebutuhan mereka secara terbuka. Tidak setiap pembicaraan harus berat, kadang cukup berupa pengingat kecil tentang tugas rumah tangga atau proaktif dalam membantu di rumah. Saat membicarakan pembagian tanggung jawab, penting bagi pasangan untuk saling menghormati dan menemukan solusi yang adil bersama. Dengan begitu, pasangan bisa menemukan cara berbagi tanggung jawab yang membawa kebahagiaan pernikahan.

Ada kalanya kita perlu bersikap lembut dan memberi toleransi pada kesalahan pasangan. Namun, menahan masalah-masalah penting, justru berisiko meledak di kemudian hari dalam bentuk kekesalan atau ketidaknyamanan. Saat menghadapi masa-masa penuh stres, cobalah minta bantuan pasangan Anda dalam urusan rumah tangga. Langkah ini membantu pasangan lebih memahami kebutuhan Anda dan menyesuaikan diri, sehingga hubungan tetap selaras.

     4. Melengkapi Pasangan

Daripada membagi rata, alangkah lebih baik jika masing-masing pasangan berusaha untuk saling menopang dan melengkapi. Saat kedua belah pihak bersedia memberikan lebih dari porsi yang “adil”, maka hubungan akan terbangun atas dasar kemurahan hati, bukan perhitungan. Ada hari-hari di mana couples harus mendukung pasangan Anda, dan ada hari-hari di mana mereka akan mendukung Anda. Inilah yang disebut kerja sama tim.

Pernikahan yang dibangun di atas pengorbanan, kasih sayang, dan perhatian memungkinkan kedua pasangan untuk bertumbuh bersama. Tidak setiap masa akan terasa seimbang, tetapi komitmen untuk saling melengkapi membuat hubungan tetap kuat. Dengan begitu, baik couples maupun pasangan Anda bisa merasa lebih ringan, puas, dan siap menghadapi perjalanan hidup bersama.

Pada dasarnya, keadilan bukanlah tujuan pernikahan. Pernikahan adalah janji untuk saling mencintai dan menghargai, dalam suka maupun duka, sampai maut memisahkan. Sedangkan pasangan adalah satu tim yang bekerja sama untuk membangun kehidupan pernikahan bersama. Jadi mulailah hadir, berikan lebih dari yang Anda mampu, dan percayalah bahwa seiring waktu, cinta yang Anda berikan akan kembali dalam cara yang tidak pernah Anda duga.

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Hong, J. (2025, 2 Juni). Fairness in Marriage Need Not Always Be 50-50. Focus on the Family Singapore. https://family.org.sg/articles/fairness-in-marriage-need-not-always-be-50-50/?recommId=bde83626-38c8-4cee-bd5e-ff34a33230c5
  • Klemp, N., & Klemp, K. (2021). The 80/80 marriage: A new model for a happier, stronger relationship. Penguin Life.

 

 

 

Uncategorized

Tips Mengatasi Mood Swing

Pernahkan champs merasakan perubahan suasana hati yang sangat cepat? Di satu momen, kamu merasa tenang dan bahagia, tetapi beberapa menit kemudian merasa sedih tanpa alasan yang jelas. Suasana hati yang berubah secara tiba-tiba inilah yang sering dikenal sebagai mood swing.

Mood swing merupakan hal yang wajar dan dapat dialami siapa saja, baik anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Meskipun perubahan suasana hati ini dapat mengganggu, namun biasanya tidak menyebabkan masalah jangka panjang. Namun, champs perlu mencari bantuan profesional jika kondisi ini sering terjadi, berlangsung lama, atau berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Mood Swing?

 

Mood swing adalah istilah untuk menggambarkan perubahan mendadak dalam perasaan seseorang pada waktu tertentu. Perubahan suasana hati ini bisa berlangsung sebentar atau berjam-jam, tergantung pada situasi dan kondisi seseorang. Kondisi ini merupakan bagian normal dari pengalaman manusia karena tubuh dan pikiran kita dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kelelahan, hormon, atau tekanan sehari-hari. Meski begitu, penting untuk mengetahui penyebab dan cara mengatasi mood swing agar kita dapat meresponsnya dengan cara yang lebih sehat.

Penyebab Mood Swing

 

Perubahan suasana hati tidak terjadi begitu saja. Berbagai penyebab dapat mempengaruhi kondisi suasana hati seseorang, mulai dari faktor fisik hingga situasi psikologis. Fields (2025) menjelaskan bahwa terdapat beberapa penyebab mood swing:

     1. Faktor Fisik

Kesehatan fisik yang kurang terjaga dapat mempengaruhi kestabilan emosi. Ketika kondisi fisik terganggu, suasana hati pun akan ikut terpengaruh. Berikut beberapa pemicu mood swing dari faktor fisik:

  • Kurang Tidur

Suasana hati seseorang juga dapat sangat dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas tidur. Tidur yang cukup akan membuat kita lebih siap menghadapi hari yang akan datang. Hal ini dikarenakan saat tidur, otak dan tubuh mendapatkan waktu untuk beristirahat dan pulih. Sebaliknya, kurang tidur akan membuat kita lebih sulit memproses emosi.

  • Kafein

Kopi, soda, dan minuman lain yang mengandung kafein dapat memberikan energi dan meningkatkan suasana hati. Jika terlalu sering dikonsumsi, tubuh akan terbiasa dengan efeknya. Namun, ketika mencoba untuk mengurangi kafein, seseorang mungkin akan mengalami kelelahan, cemas, dan ketidakstabilan emosi.

  • Terlalu Banyak Gula

Makanan yang mengandung banyak gula dapat mempengaruhi cara kerja otak. Itulah sebabnya, terlalu sering mengonsumsi makanan manis dapat membuat emosi lebih mudah naik-turun. Bahkan dapat memperburuk gejala gangguan suasana hati seperti depresi.

     2. Masalah Medis

Selain gaya hidup, kondisi kesehatan juga berperan besar dalam mempengaruhi suasana hati. Beberapa masalah medis dapat membuat emosi menjadi lebih sulit dikendalikan. Berikut beberapa pemicu mood swing dari faktor medis:

  • Gula Darah Rendah: Gula darah rendah bisa menjadi alasan mengapa seseorang mudah merasa marah saat lapar. Hal ini terjadi pada beberapa orang ketika mereka terlalu lama tidak makan.
  • Obat-obatan Tertentu: Memulai atau menghentikan pengobatan dari resep dokter dapat mempengaruhi suasana hati.
  • Masalah Tiroid: Orang dengan tiroid terlalu aktif (hipertiroidisme) menghasilkan hormon tiroid berlebihan, sedangkan orang dengan tiroid kurang aktif (hipotiroidisme) tidak menghasilkan hormon tiroid yang cukup. Keduanya dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan, termasuk perubahan suasana hati.
  • Demensia: Demensia menyebabkan kerusakan pada otak, yang mempengaruhi memori dan kepribadian seseorang dari waktu ke waktu. Kondisi ini juga dapat membuat penderita demensia dapat mengalami perubahan suasana hati secara tiba-tiba.

     3. Hormon

Kapan pun tubuh memproduksi hormon dalam jumlah yang lebih besar atau lebih kecil dari biasanya, suasana hati dapat naik atau turun. Hal ini juga terjadi saat pubertas, dimana peningkatan hormon membuat emosi remaja lebih sulit diprediksi. Selain itu, ada beberapa kondisi lain yang juga mempengaruhi hormon, seperti kehamilan, pramenstruasi (PMS), dan menopause.

     4. Masalah Psikologis

Situasi penuh tekanan dapat menyebabkan stress. Jika berlangsung terus-menerus, stres tidak hanya mempengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga membuat seseorang lebih mudah merasa sedih, marah, atau frustasi. Selain stres, perubahan suasana hati juga dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan mental seperti depresi, gangguan bipolar, atau ADHD. Bila perubahan suasana hati terasa berlebihan, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau berlangsung dalam jangka waktu lama, penting untuk mencari bantuan profesional agar mendapatkan dukungan yang tepat.

Cara Mengatasi Mood Swing

 

Naik-turun mood adalah bagian dari kehidupan. Tidak banyak yang bisa champs lakukan untuk menghentikan perubahan mood secara total. Namun, ada hal-hal yang bisa champs lakukan untuk mengurangi seberapa sering atau seberapa parahnya ketika kamu mengalaminya. Schimelpfening (2024) menyebutkan beberapa cara untuk mengatasi mood swing:

  • Berolahraga: Berolahraga secara teratur, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang dapat membantu champs meningkatkan mood dan melepaskan stres.
  • Mengubah pola makan: Makan secara teratur dan bergizi dapat menjaga tingkat energi champs tetap stabil.
  • Belajar teknik pengelolaan stres: Gunakan teknik pernapasan, meditasi, atau melakukan aktivitas yang menyenangkan dapat membantu menenangkan pikiran.
  • Tidur yang cukup: Usahakan pola tidur teratur untuk meningkatkan kualitas tidur.
  • Hindari zat-zat berbahaya: Jangan mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang yang dapat memperburuk kondisi fisik maupun mental.

Mengalami mood swing itu wajar, karena setiap orang bisa merasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Champs dapat mengatur dan mengelola mood swing dengan cara-cara sehat. Selain itu, champs juga dapat mencari dukungan dari orang lain, seperti anggota keluarga, teman, atau komunitas yang mau belajar untuk saling memahami, menerima, dan menguatkan. Namun, champs perlu mencari bantuan profesional apabila perubahan suasana hati terjadi cukup sering dan intens, karena kamu perlu mengidentifikasi penyebab medis atau kesehatan mental yang mendasarinya sebelum dapat mengobatinya secara efektif.

Jika champs merasa kewalahan menghadapi perubahan emosi atau tantangan dalam kehidupan sehari-hari, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program peer counseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil membawa perubahan besar di masa depan.

 

Referensi

  • Fields, L. (2025, Juni 24). What’s causing my mood swings? https://www.webmd.com/balance/ss/slideshow-mood-swings-cause
  • Schimelpfening, N. (2024, April 22). What are mood swings? Verywell Mind. https://www-verywellmind-com.translate.goog/what-are-mood-swings-1067178?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc
Uncategorized

Screen Time Anak: Panduan Bijak untuk Orang Tua

Parents, pernahkah Anda merasa kewalahan ketika anak lebih sibuk menatap layar gadget daripada bermain dengan teman-teman sebaya mereka? Gadget dapat menjadi media edukasi dan hiburan, namun penggunaan yang berlebihan sering membuat orang tua khawatir akan dampaknya pada tumbuh kembang anak. Pertanyaannya, bagaimana cara menemukan keseimbangan? Karena itu, orang tua membutuhkan panduan yang jelas dan bijak dalam mengatur screen time anak agar tumbuh kembang mereka tetap sehat.

Panduan Screen Time Berdasarkan Usia

 

Salah satu hal penting dalam penggunaan gadget adalah menetapkan batasan waktu yang diperbolehkan untuk anak. Dengan begitu, anak belajar disiplin sekaligus terhindar dari screen time berlebihan. Berikut panduannya:

  • Anak usia < 2 tahun: Tidak dianjurkan menggunakan gadget. Pada masa ini otak anak berkembang dengan cepat, sehingga sebaiknya anak-anak kecil belajar melalui interaksi dengan orang lain, bukan dari layar.
  • Anak usia 2 – 6 tahun: Menggunakan gadget atau bermain game sebaiknya dilakukan bersama orang tua.
  • Anak usia 7 – 9 tahun: Durasi layar maksimal 30 menit per hari. Penggunaan handphone hanya untuk menelepon, sedangkan bermain game dibatasi kurang dari 15 menit per hari.
  • Anak usia 10 – 12 tahun: Durasi layar maksimal 1 jam per hari. Bermain game dibatasi maksimal 3 jam per minggu.
  • Anak usia > 13 tahun: Anak memiliki kebebasan dalam menggunakan gadget, namun tetap dengan tanggung jawab pribadi dan diskusi aktif bersama orang tua

Mengapa Screen Time Perlu Diatur?

 

Masa kanak-kanak adalah fase penting ketika perkembangan fisik dan kognitif berlangsung sangat cepat. Pada periode ini, penggunaan gadget tanpa batas dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan fisik, mental, maupun sosial anak. Menurut Anjani (2025), terdapat beberapa dampak yang dapat muncul jika anak terlalu sering menatap layar:

     1. Masalah Perilaku

Anak dapat meniru perilaku yang ditontonnya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Akibatnya, salah satu dampak yang paling sering muncul akibat screen time berlebihan adalah masalah perilaku, seperti sikap agresif, membangkang, berbohong, mencuri, atau kesulitan mengendalikan diri. Masalah ini biasanya terlihat jelas karena berdampak langsung pada orang lain. Beberapa perilaku bermasalah ini bisa semakin parah bila anak terlalu sering mengkonsumsi tayangan yang tidak mendidik.

     2. Masalah Emosional

Screen time yang berlebihan dapat memicu berbagai masalah emosional, seperti rasa cemas, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Anak yang terlalu sering menatap layar cenderung kehilangan kesempatan untuk belajar mengelola emosi melalui interaksi langsung dengan orang tua atau teman sebaya. Selain itu, paparan konten yang negatif atau tidak sesuai usia dapat memperburuk perasaan tidak aman dan rendah diri.

     3. Masalah Perkembangan

Screen time yang berlebihan dapat menghambat tercapainya tugas-tugas perkembangan anak. Setiap tahap usia memiliki pencapaian tertentu yang perlu dilatih, seperti kemampuan motorik, keterampilan bersosialisasi, hingga belajar mengelola emosi. Ketika terlalu banyak waktu dihabiskan di depan layar, kesempatan anak untuk melatih kemampuan-kemampuan ini bisa berkurang.

Penggunaan gadget yang berlebihan juga sering kali membuat anak lebih memilih berinteraksi dengan layar dibanding dengan orang-orang di sekitarnya. Akibatnya, keterampilan sosial seperti berkomunikasi, kerja sama, dan empati tidak berkembang dengan optimal. Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, anak bisa mengalami kesulitan dalam menjalin relasi yang sehat dengan teman sebaya maupun anggota keluarga.

Peran Pengawasan Orang Tua

 

Parents memegang peran penting sebagai pengawas sekaligus pendamping. Dengan pengawasan yang tepat, screen time dapat tetap terkendali dan tidak berdampak negatif pada tumbuh kembang anak. Menurut Munafiah & Latif (2022), terdapat beberapa bentuk pengawasan yang dapat dilakukan:

     1. Membatasi Waktu Screen Time

Parents dapat menentukan aturan yang jelas mengenai screen time pada anak di rumah, seperti menetapkan jam berapa anak boleh menggunakan gadget dan berapa lama diizinkan untuk melakukannya. Pastikan parents mengikuti panduan penggunaan screen time sebelum membuat kesepakatan bersama anak. Selain itu, parents juga bisa menggunakan time off untuk membantu anak lebih disiplin.

     2. Membatasi Tontonan Anak

Parents perlu lebih bijak dalam memilih aplikasi, permainan, tontonan dan program yang sesuai usia anak-anak Anda. Hindari tontonan yang sulit dipahami oleh anak-anak kecil, seperti konten kekerasan atau konten dewasa. Parents juga dapat mematikan iklan agar anak tidak terpapar konten yang tidak sesuai usianya.

     3. Mendampingi Anak

Jika anak-anak akan menghabiskan waktu di depan layar, hal terbaik yang dapat parents lakukan adalah menonton atau bermain bersama mereka. Setelah acara selesai, parents dapat mengajak anak berdiskusi atau mengingat kembali informasi yang ditonton. Hal ini dapat membantu anak untuk lebih memahami apa yang mereka lihat.

     4. Mengajak Anak Melakukan Kegiatan Bersama

Anak-anak sebaiknya lebih banyak diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas fisik berbasis permainan yang aman, menyenangkan, dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Kegiatan bersama ini dapat mempererat ikatan emosional antara orang tua dan anak. Pastikan pula waktu tidur, waktu makan, dan waktu bersama keluarga bebas dari layar agar momen kebersamaan lebih berkualitas.

     5. Memberikan Teguran atau Sanksi

Biasanya ketika orang tua mengatakan “tidak” kepada anak, reaksi yang muncul sering kali tidak menyenangkan. Namun, parents perlu mengingat bahwa tugas utama Anda adalah menentukan apa yang terbaik bagi anak dan mengambil keputusan yang dapat menjaga kesehatan dan kesejahteraan anak dalam jangka panjang. Berikan teguran ringan atau sanksi sederhana, namun sertai dengan penjelasan agar anak benar-benar mengerti alasan di balik aturan tersebut.

Ingatlah, parents perlu mengelola screen time anak dengan bijak. Gadget bisa memberi manfaat jika digunakan dengan tepat, tetapi penting bagi orang tua untuk memastikan anak tidak kehilangan momen berharga dalam kehidupan nyata. Parents dapat mendorong lebih banyak interaksi face-to-face dibanding face-to-screen. Makan bersama, bermain, berpetualang atau sekadar mengobrol bersama bisa menjadi cara sederhana untuk menjaga kedekatan keluarga.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak Anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Raising Future-Ready Kids, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi

  • Anjani, R. (2025). Literature Review: Dampak Teknologi Digital terhadap Regulasi Emosi Anak Usia Dini dan Peran Pengawasan Orang Tua. Kumarottama: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(2), 1–21. https://doi.org/10.53977/kumarottama.v4i2.2090
  • Munafiah, N., & Latif, M. A. (2022). Peran Orang tua pada Kegiatan Screen time Anak Usia Dini. Proceedings of The 6th Annual Conference on Islamic Early Childhood Education, 6, 23–28. http://conference.uin-suka.ac.id/index.php/aciece

 

Uncategorized

Apakah Normal untuk Memikirkan Perceraian?

Pernahkah couples merasa lelah dalam menjalani pernikahan Anda dan bertanya-tanya di dalam hati, “Bisakah pernikahan ini dipertahankan?”. Jangan khawatir, couples tidak sendirian. Tidak sedikit pasangan yang pernah terlintas dalam benaknya soal perceraian, bahkan dalam pernikahan yang tampak stabil sekalipun.

Setiap pasangan tentu menikah dengan harapan bisa langgeng selamanya. Namun, seiring berjalannya waktu, tantangan dalam pernikahan bisa terasa semakin berat. Ada kalanya konflik terasa tak kunjung berakhir dan jarak emosional mulai terbentuk. Maka dari itu, wajar jika di tengah perjalanan muncul rasa frustasi atau keraguan. Dalam kondisi yang sulit, pikiran tentang perceraian bisa muncul sebagai luapan kelelahan hati.

Hal ini tidak berarti pernikahan couples harus berakhir. Sama halnya dengan keinginan untuk berhenti dari pekerjaan, tidak otomatis membuat kita langsung mengajukan surat pengunduran diri. Begitu juga dengan pernikahan, pikiran untuk menyerah tidak selalu berarti akhir dari sebuah hubungan.

Pemikiran seperti itu sering kali muncul sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan dan diperbaiki dalam pernikahan couples, baik itu komunikasi yang mulai renggang, rutinitas yang melelahkan, atau tekanan dari tugas rumah tangga. Dengan kata lain, keinginan untuk menyerah bisa menjadi kesempatan couples untuk beristirahat sejenak dan mencari metode baru agar hubungan Anda tetap harmonis.

Dengan memandang pernikahan sebagai perjanjian seumur hidup, couples dapat menyadari bahwa komitmen tidak bergantung pada perasaan yang naik-turun. Komitmen adalah pilihan couples untuk tetap hadir, saling mengasihi, dan bertumbuh bersama, bahkan di tengah badai. Couples bisa menjadikan pemikiran-pemikiran itu sebagai panggilan untuk lebih jujur terhadap diri sendiri dan pasangan bahwa ada area yang butuh perhatian bersama.

Cara Menghadapi Pikiran tentang Perceraian

 

Memikirkan perceraian bisa menjadi pengalaman yang membingungkan dan emosional. Sebelum couples membuat keputusan besar, penting untuk menenangkan diri dan menemukan cara yang sehat dalam menghadapinya. Menurut Yong (2025), ada beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan:

     1. Buka komunikasi dengan pasangan Anda

Ketika couples merasa tidak puas dalam pernikahan, wajar kalau ada keinginan untuk curhat ke keluarga atau teman dekat. Namun, membicarakan pasangan dalam keadaan emosi bisa membuat orang lain memiliki pandangan buruk tentang pasangan Anda. Bahkan setelah berdamai, pandangan buruk itu bisa tetap melekat di mata mereka.

Daripada memendam atau menceritakan ke orang lain, lebih sehat untuk mengungkapkan langsung pada pasangan. Komunikasi yang terbuka dapat membantu mengurangi kesalahpahaman dan memperkuat hubungan. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:

  • Saat menyampaikan hal-hal yang menjadi masalah bagi couples, gunakan kata-kata yang lembut dan tulus.
  • Fokuslah pada apa yang couples rasakan, bukan menyalahkan pasangan. Misalnya, daripada menyalahkan pasangan Anda yang terlalu sibuk, lebih baik ungkapan bahwa couples merasa membutuhkan lebih banyak waktu bersama.
  • Berikan pasangan Anda kesempatan untuk menjelaskan sudut pandang mereka.

     2. Pendampingan dari profesional

Melakukan konseling dengan profesional bukan berarti pernikahan couples berada di ambang perceraian. Justru, ini adalah kesempatan untuk couples dapat memperkuat fondasi pernikahan. Banyak pernikahan yang sebenarnya masih bisa diselamatkan jika pasangan diajarkan keterampilan komunikasi yang tepat dan cara mengembalikan cinta dalam pernikahan mereka.

Konseling keluarga bukan hanya untuk pasangan yang bermasalah tetapi untuk setiap pasangan yang ingin memperkuat hubungan mereka. Melalui bimbingan profesional, pasangan memiliki ruang aman untuk membicarakan perasaan, mengurai luka lama, serta menemukan kembali tujuan bersama. Hal ini dapat membantu couples memahami nilai-nilai dan pribadi satu sama lain.

     3. Meminta nasihat dari pasangan mentor yang dewasa dan dapat dipercaya

Pikiran tentang perceraian memang bisa muncul, dan itu wajar. Namun, pikiran tersebut tidak selalu berarti pernikahan sudah berakhir. Mendengar nasihat dari mentor yang dewasa dan dapat dipercaya yang mengenal couples dapat memberi perspektif baru yang lebih seimbang, sekaligus menolong couples untuk melihat situasi dengan lebih bijak. Dengan keberanian untuk menghadapi masalah secara terbuka dan mencari pertolongan yang tepat, ada peluang untuk membangun kembali pernikahan dengan dasar yang lebih kuat, jujur, dewasa, dan kokoh.

Couples, pernikahan tidak pernah dijanjikan sebagai perjalanan yang tanpa masalah. Justru, di sinilah cinta diuji dan diperkuat. Komitmen seumur hidup yang couple ikrarkan saat menikah berarti memilih untuk saling setia, bukan hanya pada saat mudah, tetapi juga di tengah kesulitan. Harapan bisa dipulihkan ketika pasangan berani kembali melihat janji pernikahan mereka. Mengingat kembali alasan mengapa dulu memilih satu sama lain dapat memberi kekuatan baru untuk terus melangkah.

Cinta yang bertahan bukanlah cinta yang tidak pernah diuji, melainkan cinta yang justru ditempa melalui badai. Di balik setiap konflik yang dihadapi bersama, ada peluang untuk semakin dekat, saling memahami, dan membangun fondasi yang lebih kokoh untuk masa depan. Tentu, ada perbedaan besar antara menghadapi konflik wajar dalam rumah tangga dengan berada dalam hubungan yang berbahaya atau abusive. Jika terjadi kekerasan, bantuan profesional menjadi hal yang mutlak.

Two hearts, one promise, a lifetime together.” —Unknown

Jika couples telah memikirkan perceraian secara berulang atau dengan rasa sakit emosional, Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi

  • Yong, J. (2025, Juli 1). Is it normal to think about divorce?. Focus on the Family Singapore. https://family.org.sg/resource/is-it-normal-to-think-about-divorce/
Uncategorized

Overthinking bisa jadi alarm

Penelitian dari Health Collaborative Center (HCC, 2025) menemukan bahwa 50% orang Indonesia mengalami overthinking. Overthinking sendiri merupakan kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan, baik hal yang sudah lewat maupun yang bahkan belum terjadi. Misalnya, kepikiran terus soal nilai ujian yang belum keluar, membayangkan skenario terburuk, atau terlalu khawatir tentang apa yang dipikirkan orang lain. Sekilas memang terasa sepele, tapi kalau dibiarkan bisa bikin hati nggak tenang dan pikiran terasa penuh.

Overthinking sering kali dipandang negatif, namun sebenarnya ada sisi baik yang bisa kita ambil darinya. Pikiran berlebihan ini bisa diibaratkan seperti alarm yang memberi tanda kalau kita sedang berada dalam situasi yang perlu kita hadapi. Jika dikelola dengan baik, overthinking bisa berubah menjadi kesempatan untuk champs dapat berpikir lebih mendalam dan terarah.

Masalahnya, banyak orang tidak punya waktu atau kesabaran untuk benar-benar memahami isi pikirannya. Kita cenderung lebih banyak fokus pada aspek negatif dari suatu masalah. Padahal, ketika memikirkan suatu masalah secara mendalam, champs punya peluang untuk menganalisisnya dari berbagai sudut pandang. Berpikir secara mendalam sangat berguna jika menghasilkan pemahaman yang lebih jelas, rencana yang matang, dan keputusan yang kuat.

Dampak Overthinking

 

Overthinking bisa menjadi bumerang. Kalau tidak dikelola dengan baik, overthinking justru akan menjerumuskan kita ke dalam periode kebingungan, rasa cemas yang berkepanjangan, bahkan ketidakmampuan untuk mengambil keputusan. Lama-kelamaan, keresahan dan kekhawatiran yang terus menerus bukan cuman mengikis kedamaian, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik dan mental champs dalam jangka panjang. Menurut Suroiyya & Habsy (2024), terdapat beberapa dampak negatif dari overthinking:

  • Stress dan kecemasan
  • Insomnia
  • Sering merasa pusing
  • Masalah pencernaan
  • Hipertensi dan penyakit jantung

Tips Mengelola Overthinking

 

Kabar baiknya, overthinking bisa dikelola kok! Nggak harus terus-terusan jadi beban pikiran. Menurut Witmer (2024), terdapat beberapa cara untuk menghentikan overthinking:

     1. Kenali Pemicu Pikiran Negatif

Cobalah menuliskan pengalaman atau momen yang sering membuat champs berpikir berlebihan. Dengan mencatatnya secara rutin, champs bisa menemukan pola tertentu yang menjadi pemicu overthinking. Saat pola itu mulai terlihat, champs akan lebih mudah mengenali kapan overthinking muncul dan bisa menyiapkan strategi untuk menghadapinya.

     2. Mengalihkan Perhatian

Daripada hanya duduk dan memikirkan masalah selama berjam-jam, champs bisa mengalihkan perhatianmu sejenak. Mengalihkan perhatian sejenak dapat memberikan otak ruang untuk beristirahat dan lebih fokus pada hal yang produktif. Champs dapat melakukan teknik pernafasan, olahraga, meditasi, atau aktivitas lain yang kamu sukai. Cara ini dapat membantu menenangkan, mengatasi dan mengendalikan pemikiran yang tidak diinginkan.

     3. Melihat Pikiran Secara Objektif

Champs perlu melihat suatu pemikiran secara objektif. Apakah sebuah pemikiran itu logis, masuk akal, atau bermanfaat? Jika champs menyadari bahwa pikiran kamu tidak masuk akal atau tidak berguna, maka hal itu akan membuat pikiran champs lebih mudah dikelola. Dengan begitu, champs dapat belajar membangun pola pikir yang lebih sehat.

     4. Mengubah Pikiran Negatif

Mengubah perspektif menjadi lebih positif dapat membantu mengurangi kecenderungan untuk overthinking.  Misalnya, daripada langsung fokus pada kemungkinan gagal, lebih baik memikirkan langkah apa yang bisa champs lakukan supaya berhasil. Mungkin akan terasa sulit pada awalnya, tapi dengan melatih diri champs dapat mengganti pikiran negatif dengan pikiran yang lebih bermanfaat.

     5. Mencari Bantuan

Champs bisa mencari dukungan dari teman atau anggota keluarga yang dipercaya. Mendapatkan perspektif dan dukungan dari orang terdekat akan sangat membantu dalam mengelola pikiran. Namun. jika champs merasa terus-menerus kewalahan dengan pemikiran sendiri atau tidak bisa berhenti overthinking, pertimbangkan untuk berbicara dengan profesional kesehatan mental. Mereka juga dapat membantu mengidentifikasi dan mengobati penyebab yang mendasari overthinking, seperti kecemasan atau depresi.

Apabila champs mengalami overthinking sampai mengganggu kegiatan sehari-hari, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil membawa perubahan besar di masa depan.

Referensi

  • Health Collaborative Center. (2025, Februari 24). Studi temukan separuh orang Indonesia overthinking, kebanyakan perempuan muda. Health Collaborative Center. https://healthcollaborativecenter.or.id/studi-temukan-separuh-orang-indonesia-overthinking-kebanyakan-perempuan-muda/
  • Suroiyya, F. O., & Habsy, B. A. (2024). Tinjauan Overthingking dan Berbagai Intervensi Konseling Untuk Mengatasinya. Jurnal BK UNESA, 14(2).
  • Witmer, S. A. (2024, Agustus 14). What is overthinking, and how do I stop overthinking everything? https://www.goodrx.com/health-topic/mental-health/how-can-i-stop-overthinking-everything?srsltid=AfmBOoooeozroWVujtm6E3GMh015w9m
    T4FEscJRztkjpsthDbROCbXuJ
Uncategorized

Sindrom Anak Tengah: Karakteristik &  Cara Orang Tua Mendukungnya

Pernahkah parents merasa anak tengah Anda tampak lebih pendiam, mudah tersisih, atau seakan mencari perhatian lebih dibandingkan kakak dan adiknya? Fenomena ini sering dikenal dengan istilah sindrom anak tengah atau Middle Child Syndrome. Secara sederhana, sindrom anak tengah merujuk pada anggapan bahwa anak yang lahir di antara yang lebih tua dan lebih muda mungkin mengalami tantangan tertentu, seperti kurang diperhatikan, merasa diabaikan, atau berupaya lebih keras untuk menemukan identitas dirinya di antara saudara-saudaranya.

Istilah sindrom anak tengah pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikolog bernama Alfred Adler. Menurutnya, urutan kelahiran dan jumlah saudara kandung dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian, kondisi psikologis, dan potensi seorang anak. Eckstein et al. (2010) memaparkan beberapa pola umum sebagai berikut:

  • Anak pertama biasanya digambarkan lebih cerdas, bertanggung jawab, patuh, dan stabil, namun cenderung kurang emosional dan kurang kreatif.
  • Anak tunggal sering kali dianggap paling “tidak menyenangkan” karena terbiasa menjadi pusat perhatian tanpa harus berbagi dengan saudara.
  • Anak tengah cenderung digambarkan sebagai yang paling iri hati, kurang berani, namun banyak bicara.
  • Anak bungsu sering kali lebih kreatif, emosional, ekstrovert, tetapi juga bisa jadi kurang patuh, kurang bertanggung jawab, dan banyak bicara.

Karakteristik Anak Tengah

 

Setiap anak memiliki keunikan tersendiri, termasuk anak yang lahir di urutan tengah. Menurut  Adler (1964), terdapat pola tertentu yang sering muncul pada anak tengah. Berikut beberapa gagasan umum tentang karakteristik anak tengah:

1.     Kepribadian

Anak tengah memiliki kepribadian yang sering kali dipengaruhi oleh saudara-saudaranya yang lain. Kakak yang lebih tua memiliki sifat yang dominan sedangkan adik yang lebih muda dianggap masih membutuhkan banyak perhatian. Hal ini membuat kepribadian anak tengah cenderung lebih pendiam dan pemarah.

2.     Hubungan dengan Orang Tua

Anak tengah mungkin mengalami kesulitan untuk merasa setara dengan saudara kandung mereka dalam hubungan dengan orang tua mereka. Mereka dapat merasa terabaikan karena orang tua mereka terganggu oleh kebutuhan perkembangan saudara-saudaranya. Akibatnya, mereka mungkin merasa bahwa orang tua mereka lebih memperhatikan adik atau kakak mereka.

3.     Sikap Kompetitif

Salah satu kesamaan yang terlihat pada banyak anak tengah adalah mereka tampak terlalu kompetitif. Hal ini mungkin disebabkan oleh perasaan bahwa mereka harus selalu bersaing untuk mendapatkan waktu dan perhatian orang tua mereka. Anak tengah mungkin mengalami kesulitan untuk mendapatkan perhatian yang mereka dambakan dari orang tua atau saudara mereka.

4.     Favoritisme

Anak tengah biasanya tidak merasa bahwa mereka adalah anak favorit dalam keluarga. Favoritisme mungkin ada pada anak tertua yang dianggap istimewa atau pada anak bungsu yang dimanja. Anak tengah sering kali merasa kesulitan untuk menjadi kesayangan orang tua mereka.

Bagaimana Cara Orang Tua Mendukung Anak Tengah?

 

Sindrom anak tengah bukanlah vonis atau label yang mengekang anak, melainkan cara untuk membantu parents memahami tantangan yang mungkin mereka hadapi. Dengan begitu, parents dapat menemukan cara untuk mendukung mereka untuk lebih percaya diri, merasa dicintai dan tumbuh sesuai dengan tahap perkembangannya. Martino (2025) memberikan beberapa tips untuk memastikan semua anak Anda merasa dicintai, terlepas dari urutan kelahirannya:

     1.     Meluangkan Waktu Khusus

Pastikan parents menghabiskan banyak waktu dengan anak tengah Anda seperti dengan anak-anak lainnya. Hal ini dapat mengurangi perasaan kurang percaya diri dan persaingan. Tunjukkan ketertarikan parents terhadap hal-hal yang mereka minati dan hal-hal yang penting bagi mereka.

     2.     Memberikan Apresiasi

Jika anak tengah Anda merasa diabaikan, cobalah untuk menemukan beberapa cara sederhana untuk merayakan pencapaian mereka. Memberikan apresiasi atas prestasi mereka dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri dan identitas diri. Parents juga dapat merayakan ciri-ciri kepribadian unik atau istimewa setiap anak.

     3.     Mengetahui Kebutuhan dan Perasaan Anak

Dorong anak Anda untuk mengutarakan pikiran dan perasaannya agar mereka tidak merasa diabaikan atau tidak dipahami. Jadilah tempat yang aman bagi anak Anda untuk berbagi perasaan dan kebutuhannya. Parents dapat mengajak mereka untuk berbagi hal-hal tersebut saat menghabiskan waktu bersama.

     4.     Membangun Rasa Keterikatan

Buatlah aktivitas keluarga yang memungkinkan semua anak merasa dihargai. Hal ini menumbuhkan rasa persatuan dan mengurangi perasaan persaingan. Dengan begitu, anak tengah dapat memahami bahwa mereka juga memiliki peran penting di dalam keluarganya.

     5.     Kembangkan Keterampilan Kepemimpinan

Parents dapat mendorong anak Anda untuk berani memimpin, baik dalam kegiatan keluarga maupun sekolah. Peran ini membantu mereka melatih tanggung jawab sekaligus keterampilan kepemimpinan. Dengan begitu, rasa percaya diri dan jati diri anak dapat berkembang lebih kuat.

Parents, setiap anak adalah anugerah dari Tuhan dengan kelebihannya masing-masing. Anak tengah bukanlah anak yang “tersisih” atau kurang istimewa, melainkan pribadi dengan potensi besar yang bisa berkembang bila mendapat dukungan dan kasih sayang dari orang tua. Dengan perhatian yang seimbang, setiap anak baik sulung, tengah, maupun bungsu akan merasa dihargai dan dicintai.

As your kids grow up, they may forget what you said, but they won’t forget how you made them feel.” — Kevin Heath

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk memahami dan mendampingi setiap anak sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan mereka. Kami percaya bahwa dengan kasih sayang dan perhatian yang seimbang, setiap anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan percaya diri. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti yaitu Raising Future-Ready Kids, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Adler A. (1964) Problems of Neurosis: A Book of Case Histories. New York, NY: Harper & Row, Publishers, Incorporated.
  • Eckstein, D., Aycock, K. J., Sperber, M. A., McDonald, J., Van Wiesner, V. III, Watts, R. E., & Ginsburg, P. (2010). A review of 200 birth-order studies: Lifestyle characteristics. The Journal of Individual Psychology, 66(4), 408–434.
  • Martino, M. (2025, April 4). How middle child syndrome affects kids & ways to foster balance. Handspring Health. https://www.handspringhealth.com/post/understanding-middle-child-syndrome#header-1

 

 

Uncategorized

Tiga Komponen Cinta: Passion, Commitment, dan Intimacy

Sebuah hubungan sering kali diawali dengan perasaan yang menggebu-gebu. Akan tetapi apakah perasaan saja cukup untuk membuat suatu hubungan bertahan? Couples, mempertahankan hubungan yang sehat membutuhkan perasaan, tindakan, dan komitmen yang saling menguatkan.

Psikolog Robert Sternberg memperkenalkan sebuah teori yang dikenal sebagai Triangular Theory of Love. Meskipun sebagian besar fokusnya ada pada hubungan romantis, konsep ini juga relevan untuk berbagai bentuk hubungan antarpribadi lainnya. Menurut Sternberg (1986), teori ini terdiri dari tiga komponen utama:

     1.     Passion

Passion adalah perasaan naksir yang memunculkan ketertarikan fisik dalam hubungan penuh cinta. Ketika passion hadir, seseorang sering kali merasakan perasaan yang menyenangkan saat berada di dekat orang yang dicintai. Selain itu, mereka mungkin merasa sangat bahagia atau bersemangat bersama pasangannya, serta mengalami emosi yang kuat baik positif maupun negatif dalam menjalani hubungan tersebut.

     2.     Commitment

Commitment mengacu pada keputusan sadar untuk tetap bersama pasangan dan membuat rencana jangka panjang demi kebahagiaan bersama di masa depan. Commitment juga dapat mencakup janji untuk melakukan aktivitas tertentu, seperti janji untuk tetap setia seperti dalam lamaran pernikahan. Namun, bisa juga hadir dalam janji yang lebih sederhana dan informal dalam keseharian.

     3.     Intimacy

Intimacy merujuk pada perasaan kedekatan, keterhubungan, dan ikatan dalam hubungan penuh cinta. Mereka yang merasakan cinta dengan intimacy biasanya memiliki ikatan emosional dan intelektual yang sangat kuat. Pasangan yang memiliki intimacy sering merasa nyaman satu sama lain, tanpa rasa gugup atau cemas saat bersama pasangannya.

Cara menjaga Passion, Commitment, dan Intimacy

 

Hubungan yang sehat tidak hanya bertahan karena rasa cinta, tetapi juga karena adanya upaya menjaga kualitas hubungan setiap hari. Jika  salah satu komponen cinta goyah, hubungan bisa terasa hambar atau bahkan rapuh Sternberg (1986). Maka dari itu, couples perlu merawat ketiga komponen cinta ini agar tetap kokoh seiring berjalannya waktu. Menurut Taqiyuddin (2023), terdapat beberapa cara untuk menjaga ketiga  komponen cinta:

     1.     Menjaga Passion dalam Hubungan

Passion sering kali menjadi komponen yang paling menantang untuk dipertahankan dalam hubungan jangka panjang karena mudah terkikis oleh rutinitas sehari-hari. Couples dapat menciptakan momen spesial, seperti kencan rutin, kejutan sederhana yang menyenangkan, dan mencoba pengalaman baru bersama. Dengan begitu, hubungan akan terasa lebih menyenangkan dan terhindar dari kebosanan.

     2.     Menjaga Commitment dalam Hubungan

Komitmen biasanya tetap kuat ketika couples menjadikan hubungan sebagai bagian penting dalam hidup Anda. Commitment yang kuat akan memberi landasan stabil bagi intimacy dan passion untuk terus bertumbuh. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga commitment:

  • Menyepakati tujuan dan arah hubungan, sehingga kedua pihak berjalan dengan visi yang sama.
  • Menjaga kepercayaan dengan bersikap jujur, konsisten, dan setia pada janji yang telah dibuat.
  • Menunjukkan komitmen melalui tindakan nyata, baik dalam hal kecil sehari-hari maupun keputusan besar bersama

     3.     Menjaga Intimacy dalam Hubungan

Intimacy tumbuh dari kedekatan emosional dan keterbukaan satu sama lain. Kedekatan ini akan membuat hubungan terasa hangat, aman, dan penuh rasa percaya. Couples dapat mengembangkan kebiasaan berbagi cerita, pikiran, maupun perasaan secara jujur dan terbuka. Saling mendengarkan dan memberikan dukungan juga akan memperkuat keintiman.

Pada akhirnya, cinta yang sehat dan langgeng tidak hanya bertumpu pada rasa yang menggebu, janji yang terucap, atau kedekatan yang hangat. Karena itu, penting bagi setiap pasangan untuk secara sadar merawat passion, menjaga commitment, dan memperdalam intimacy dalam hubungan mereka. Ketiga unsur ini bagaikan penopang meja, jika salah satunya goyah, keseimbangan hubungan pun terganggu. Couples, cinta tidak tumbuh begitu saja, tetapi dipelihara, dijaga, dan dirayakan setiap hari.

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Sternberg, R. J. (1986). A triangular theory of love. Psychological Review, 93(2), 119–135. https://doi.org/10.1037/0033-295X.93.2.119
  • Taqiyuddin, M. R. (2023, 13 Juni). Cinta ada teorinya? Triangular Theory of Love: Robert Sternberg. Kanal Pengetahuan Psikologi. https://kanal.psikologi.ugm.ac.id/cinta-ada-teorinya-triangular-theory-of-love-robert-sternberg/