Family Indonesia

Category: Uncategorized

Uncategorized

Stop FOMO, Start JOMO

Champs, coba bayangkan teman-temanmu sedang heboh membuat postingan dari liburan ke pantai, konser idola, atau hangout di kafe hits. Bagaimana perasaanmu ketika kamu cuman bisa melihat dari layar Handphone sambil rebahan? Kalau ada dorongan ingin juga berada di sana, berarti champs sedang merasakan Fear of Missing Out atau biasa disebut FOMO.

FOMO adalah perasaan takut atau cemas yang muncul ketika kita merasa ada pengalaman seru yang terjadi di luar sana tanpa melibatkan kita. Perasaan ini sering kali muncul saat kita menyaksikan aktivitas orang lain di media sosial. Akibatnya, kita bisa merasa takut tertinggal atau kurang puas dengan kehidupan sendiri.

Kabar baiknya, ada “penangkal” FOMO yang justru bikin kita hidup lebih tenang dan bahagia. Namanya Joy of Missing Out atau JOMO. Kalau FOMO bikin kita gelisah dan cemas karena merasa tertinggal, JOMO mengajak kita untuk keluar dari dunia maya dan kembali menikmati hal-hal sederhana di masa kini.

Apa itu FOMO?

 

FOMO mengacu pada perasaan takut atau cemas akan tertinggal dikarenakan orang lain mungkin sedang mengalami momen-momen tertentu tanpa kehadiran kita di dalamnya (Przybylski et al., 2013). Kalau dibiarkan, lama kelamaan FOMO bisa membawa dampak buruk bagi kesehatan mental seperti cemas berlebihan, merasa rendah diri, sulit fokus pada apa yang ada di depan mata, bahkan sampai terlalu memaksakan diri untuk mengikuti semua kegiatan demi menghilangkan rasa tertinggal.

Kondisi ini paling sering dialami remaja yang sedang dalam fase pencarian identitas dan penerimaan sosial. Kita ingin diakui, diterima, dan dianggap “part of circle”. Tapi, dunia maya membuat kita terpapar perbandingan sosial hampir 24/7. Akibatnya, kita jadi merasa harus selalu up-to-date biar nggak dicap “kudet” atau “nggak gaul”.

Tanya Dalton dalam bukunya yang berjudul The joy of missing out: Live more by doing less (2019) mengatakan bahwa tidak peduli sekeras apa pun kita mencoba mengikuti semua informasi dan kabar dari kehidupan orang lain, pada akhirnya kita pasti akan tertinggal juga. Ibaratnya, FOMO itu seperti lomba maraton yang nggak ada garis finish-nya. Kita terus berlari, tapi nggak pernah sampai.

Apa itu JOMO?

 

JOMO adalah rasa bahagia yang muncul saat kita memilih untuk lepas dari hiruk-pikuk update dunia maya, lalu fokus pada apa yang ada di depan mata. Menurut Tanya Dalton (2019), JOMO memberikan kesempatan untuk merasakan rasa syukur atas apa yang kita miliki saat ini. Bukan berarti kita menolak informasi atau menutup diri dari dunia luar, tetapi kita memberi ruang untuk diri sendiri tanpa harus membandingkan hidup kita dengan orang lain.

JOMO mengajarkan kita untuk tetap merasakan kedamaian meskipun “tertinggal”. Dengan JOMO, kita tidak lagi merasa takut saat memilih untuk tidak ikut dalam suatu kegiatan atau tren. Sebaliknya, kita belajar merayakan ruang kosong dalam hidup kita sebagai kesempatan untuk beristirahat, berefleksi, atau mengisi energi.

Siap untuk mengubah FOMO menjadi JOMO?

 

Daripada terus merasa cemas karena FOMO, champs dapat mencoba untuk belajar menikmati momen yang benar-benar membuat hidup lebih bermakna. Dengan begitu, champs bisa beralih dari perasaan takut ketinggalan menjadi rasa syukur atas apa yang sedang dijalani. Berikut 5 langkah praktis dari Tanya Dalton (2019) yang bisa membantu kita menemukan Joy of Missing Out:

1.     Membuat daftar aktivitas yang disenangi

Berhentilah mengkhawatirkan apa yang orang lain lakukan atau pikirkan, dan fokuslah pada dirimu serta kebahagiaanmu. Tanyakan pada dirimu, “Hal-hal apa yang memunculkan sukacita?”. Tulis semua aktivitas itu dalam daftar, lalu tempelkan di tempat yang mudah terlihat. Setelah itu, champs dapat meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas-aktivitas positif yang kamu sukai.

2.     Membuat rencana untuk waktu luang

Bagaimanapun, waktu adalah salah satu hal paling berharga yang kita miliki. Prioritaskan apa yang penting bagi champs seperti berolahraga, bertemu teman, atau menghabiskan waktu untuk hobi. Champs tidak perlu terlalu mengatur hidup secara kaku, cukup memberikan waktu untuk momen yang bermakna, kegiatan kreatif, atau apa pun yang membawa sukacita di luar dunia maya.

3.     Melakukan digital detox secara rutin

FOMO sering kali muncul akibat terlalu banyak waktu dihabiskan untuk scrolling media sosial. Pastikan champs memutuskan koneksi (unplug) untuk waktu tertentu setiap hari atau setiap minggu agar bisa kembali hadir di momen sekarang. Saat FOMO berkurang cukup banyak, champs akan mendapatkan kesempatan untuk lebih fokus pada tujuan, passion dan hal-hal yang meningkatkan rasa pemenuhan dalam dirimu.

4.     Membangun koneksi offline dengan orang lain

Melakukan aktivitas bersama adalah cara terbaik untuk membangun hubungan yang bermakna, dibandingkan menghabiskan waktu berinteraksi dengan orang asing di dunia maya. Champs bisa meluangkan waktu untuk terhubung dengan keluarga, pasangan, teman, dan tetangga. Tidak harus menghabiskan waktu yang banyak, yang penting ada momen kebersamaan.

5.     Menyediakan waktu untuk self-care

Bagian ini sering kali menjadi hal tersulit dilakukan bagi mereka yang memiliki hidup yang padat dan serba cepat, namun sangat penting untuk champs tetap menjaga kesehatan fisik maupun mental. Self-care bisa berupa meditasi, mendengarkan musik yang menenangkan, atau apa pun yang membuatmu merasa nyaman dengan dirimu sendiri. Dengan begitu, champs akan kembali terhubung dengan diri sendiri dan memahami apa yang benar-benar cocok untuk dirimu.

Hidup tidak selalu tentang mengikuti setiap tren atau berada di semua tempat sekaligus. Kadang, kebahagiaan sejati justru datang saat kita berani melepas, menikmati momen, dan mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Berhenti membandingkan, mulai merayakan hidupmu sendiri. Karena pada akhirnya, hidup yang damai dan penuh makna adalah hadiah terbaik yang bisa champs berikan untuk dirimu sendiri.

Don’t let FOMO delay your goals, embrace JOMO achieve your goals” — Unknown

Apabila champs merasa aktivitas sehari-hari mulai terganggu karena sulit mengatur waktu atau terjebak dalam FOMO, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia. Jangan ragu untuk menjangkau kami, karena setiap langkah kecil membawa perubahan besar di masa depan.

Referensi

  • Dalton, T. (2019). The joy of missing out: Live more by doing less. Thomas Nelson.
  • Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29, 1841-1848. https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014
Uncategorized

Menanamkan Jiwa Entrepreneur Pada Anak Sejak Dini

Parents, masa kanak-kanak adalah fase emas untuk menanamkan karakter yang kuat pada anak. Selain memberikan pendidikan akademik dan moral, penting juga untuk parents mengenalkan nilai-nilai entrepreneur sejak dini. Jiwa entrepreneur bukan hanya sekedar memulai bisnis, tetapi juga mencakup cara berpikir yang kreatif, inovatif, mampu menghadapi tantangan dan berani mengambil risiko.

Membekali anak dengan jiwa entrepreneur akan membentuk karakter yang mandiri dan tidak mudah menyerah. Dengan karakter-karakter tersebut, anak akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan, serta percaya diri dalam meraih impian mereka. Nilai-nilai ini akan menjadi bekal penting yang bisa anak bawa hingga dewasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap ini bisa muncul saat anak berinisiatif membuat mainan sendiri, mencari solusi saat menghadapi masalah, atau punya ide unik saat bermain. Semua itu adalah bentuk awal dari karakter entrepreneur yang bisa diasah. Fall (2024) membagikan beberapa cara yang bisa dilakukan parents untuk menanamkan jiwa entrepreneur pada anak:

     1.     Melatih Kreativitas

Kreativitas merupakan salah satu aspek penting dalam entrepreneur. Meskipun tidak bisa dipaksakan, kreativitas bisa ditumbuhkan dengan memberikan anak banyak kesempatan untuk berkreasi. Berikan mereka kepercayaan untuk menyelesaikan tugas-tugas sederhana dan mengeksplorasi ide-ide kreatifnya. Parents juga bisa mendukung dan menghargai setiap usaha dan pendapat mereka, walaupun hasilnya belum sempurna.

Menumbuhkan kreativitas juga berarti memberikan anak kesempatan yang sesuai usia mereka untuk memecahkan masalah, baik melalui kegiatan ekstrakurikuler, permainan puzzle, kompetisi, maupun perencanaan seperti menyusun rencana kegiatan keluarga. Pada akhirnya, parents perlu menyediakan media dan sarana untuk mendidik anak-anak tentang cara berpikir kreatif (Mahmoud, 2022). Dengan begitu, anak akan belajar berpikir inovatif, berani mengambil risiko, dan melihat peluang di balik setiap hambatan.

     2.     Belajar Dari Kegagalan

Sebagai orang tua, tentu parents ingin anak berhasil dalam segala hal yang mereka lakukan. Namun kenyataannya, kegagalan adalah bagian yang pasti akan dihadapi dalam kehidupan setiap orang.  Jika parents terus melindungi anak dari kegagalan, mereka akan tumbuh dengan harapan yang tidak realistis. Maka dari itu, penting untuk mengajarkan anak melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.

Daripada hanya memuji kecerdasan bawaan anak, sebaiknya berikan apresiasi atas usaha dan ketekunannya. Bantu mereka memahami bahwa kegagalan tidak dapat dihindari, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mereka bisa mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut dan mencoba kembali. Parents dapat memberikan dukungan dan semangat ketika mereka mengalami kegagalan, serta bantu mereka melihat setiap pengalaman secara positif sebagai pembelajaran yang berharga.

     3.     Dorong Rasa Ingin Tahu

Pada dasarnya anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka senang mengeksplorasi dan sering bertanya mengenai lingkungan di sekitar mereka. Rasa ingin tahu ini adalah dasar dari jiwa entrepreneur. Maka dari itu, parents sebaiknya tidak mengabaikan pertanyaan anak walaupun terdengar aneh atau tidak biasa.

Dukung rasa ingin tahu mereka dengan menyediakan buku, mainan edukatif, serta permainan yang dapat merangsang kreativitas dan proses menemukan hal-hal baru. Selain itu, parents dapat mengajak anak untuk mengunjungi tempat-tempat edukatif seperti museum atau perpustakaan. Lingkungan yang kaya akan stimulasi positif akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang inovatif dan berani mencoba hal baru.

     4.     Pengalaman Praktis

Memahami konsep dasar keuangan seperti menggunakan uang, menabung, dan membuat anggaran dapat memberdayakan anak untuk mengambil keputusan yang bijak. Parents dapat melibatkan mereka dalam diskusi sederhana seputar keuangan rumah tangga yang sesuai dengan usia mereka. Dorong anak untuk mendapatkan uang dari tugas rumah atau usaha kecil-kecilan, lalu bimbing mereka untuk menyisihkan sebagian uang tersebut untuk tujuan jangka panjang atau untuk hal yang benar-benar mereka butuhkan. Aktivitas ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk belajar tentang mengelola uang, bisnis, dan tanggung jawab.

     5.     Memberi Teladan Positif

Anak-anak adalah pengamat, mereka terus-menerus menyerap setiap hal yang terjadi di sekitar mereka. Sebagai orang tua, jadilah contoh positif dengan menampilkan jiwa entrepreneur dalam kehidupan sehari-hari. Ceritakan kisah-kisah inspiratif tentang entrepreneur yang berhasil meraih kesuksesan melalui kerja keras dan ketekunan. Tunjukkan keberanian dalam mengambil risiko, kemauan untuk belajar dari kegagalan, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Semangat dan dedikasi parents akan menjadi inspirasi yang kuat bagi anak-anak untuk berani berusaha dan bermimpi.

Menumbuhkan jiwa entrepreneur pada anak adalah proses jangka panjang yang dimulai dari hal-hal kecil di rumah. Dengan memberikan kebebasan namun tetap membimbing, parents dapat menciptakan lingkungan yang mendorong jiwa entrepreneur. Anak-anak yang dibekali dengan sikap entrepreneur tidak hanya akan berkembang menjadi pribadi yang tangguh dan kreatif, tetapi juga akan siap menghadapi berbagai tantangan dan berkompetisi secara sehat di dunia yang terus berubah.

Being young means you have time to experiment, fail, and succeed. Use it wisely.” —Unknown

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak Anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi

  • Fall, T. (2024, August 7). Cultivating Entrepreneurial Mindset in Children. edCollaborative. https://edcollaborative.com/blog/cultivating-entrepreneurial-mindset-children/
  • Mahmoud, F. Z. S. (2022). Preparing the child to become an entrepreneur, a futuristic framework. Higher Education Research, 7(1), 16-22. https://doi.org/10.11648/j.her.20220701.13
Uncategorized

Stop Menyakiti Pasangan: Tips Komunikasi Heart to Heart

Pernahkah couples tanpa sadar menyakiti perasaan pasangan Anda lewat perkataan atau sikap? Bukan karena niat buruk, tapi karena kita tidak benar-benar tahu apa yang dirasakan pasangan atau bahkan isi hati kita sendiri. Ketidakmampuan untuk bicara jujur soal perasaan bisa berujung saling menyakiti.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2025), dalam satu tahun terdapat 394.608 kasus perceraian di Indonesia. Sementara itu, laporan BPS (2024) menunjukkan bahwa penyebab perceraian yang paling sering muncul adalah perselisihan dan pertengkaran yang terus-menerus. Konflik ini seringkali berawal dari hal-hal kecil yang dibiarkan menumpuk tanpa pernah benar-benar diselesaikan.

Masalahnya, banyak pasangan tidak tahu bagaimana cara mengelola konflik secara sehat atau menemukan jalan keluar bersama. Kita terbiasa berbicara dengan logika seperti beradu pendapat, memberikan argumen, atau bahkan berdebat. Tapi komunikasi yang hanya dari kepala ke kepala (brain to brain) tidak cukup untuk mempererat hubungan. Dalam hubungan yang dibutuhkan adalah komunikasi dari hati ke hati yang mau hadir, mendengar, dan benar-benar memahami.

Kesalahan Umum dalam Komunikasi Pasangan

 

Dalam sebuah hubungan, sering kali cara kita berbicara justru menciptakan jarak dan menyakiti perasaan pasangan. Gottman (2018) mengidentifikasi beberapa kesalahan komunikasi yang seringkali membuat pasangan terjebak dalam perselisihan. Apakah ada dari kesalahan-kesalahan ini yang terjadi dalam hubungan couples?

     1.     Mengkritik / Menghakimi

“Tuh kan!”, mengeluarkan pernyataan menghakimi seperti “Tuh kan!” setelah terjadi hal negatif hanya akan memperkeruh konflik. Pernyataan seperti itu bisa membuat pasangan merasa merasa diserang, ditolak, dan terluka.  Jika dibiarkan, hal ini bisa memperparah emosi negatif pasangan dan menambah jarak dalam hubungan.

     2.     Defensif

Ketika merasa disalahkan, orang cenderung langsung membela diri. Bentuknya bisa macam-macam, seperti mencari alasan, menyangkal, atau menyerang balik. Meski terlihat wajar untuk melindungi diri, sikap defensif justru membuat konflik semakin parah karena pasangan jadi merasa tidak didengar.

Sikap defensif ini biasanya muncul karena kita lebih fokus membela diri daripada mendengarkan. Akibatnya, kemampuan untuk benar-benar memahami pasangan berkurang. Sering kali kita hanya menunggu kesempatan untuk berbicara daripada benar-benar memperhatikan apa yang disampaikan pasangan. Ini bisa menyebabkan luka emosional dan kesalahpahaman.

      3.     Menghina

Penghinaan adalah bentuk komunikasi yang paling berbahaya dalam sebuah hubungan. Bentuknya bisa berupa ejekan, sarkasme, atau bahkan ekspresi wajah seperti mendengus atau mengerutkan dahi. Semua itu menyiratkan rasa superioritas dari pasangan. Gottman (2018) menemukan bahwa penghinaan adalah indikator paling kuat dari perceraian karena merusak kedekatan dan keintiman.

      4.     Menarik Diri

Sikap menghindar biasanya muncul saat seseorang merasa kewalahan atau terlalu tertekan sehingga sulit mendengarkan maupun merespons dengan baik. Bentuknya bisa berupa menarik diri dari interaksi, menutup diri secara emosional, atau menolak berkomunikasi. Namun, menghindar justru dapat menimbulkan rasa frustasi dan menciptakan jarak secara emosional. Diam memang bisa menenangkan sesaat, tetapi tidak benar-benar menyelesaikan masalah.

Komunikasi Heart to Heart

 

Komunikasi heart to heart adalah saat dua orang berbicara bukan hanya dengan pikiran, tapi dengan hati. Couples tak perlu menunggu pertengkaran untuk bicara serius atau menunggu akhir pekan untuk menciptakan kedekatan. Justru lewat rutinitas sederhana setiap hari, couples bisa mulai membangun koneksi yang kuat dan hangat dengan pasangan. Corcoll-Iglesias (2017) membagikan beberapa pendekatan yang dapat membantu membangun percakapan heart to heart:

      1.     Rasa ingin tahu

Dalam percakapan, rasa ingin tahu berarti benar-benar berusaha memahami apa yang ingin disampaikan oleh pasangan Anda. Cobalah mulai dengan pertanyaan tulus, “Apa ada perkataan atau sikap aku yang menyakitimu hari ini?”. Pertanyaan seperti ini membuka ruang aman bagi pasangan untuk saling jujur tanpa rasa takut dihakimi.

      2.     Mendengarkan Pasangan

Couples dapat menyingkirkan ego sejenak dan memberikan perhatian penuh kepada pasangan Anda. Saat giliran pasangan berbicara, berusahalah untuk benar-benar mendengarkan. Dengarkan dengan niat untuk memahami, bukan untuk mengoreksi. Tatap matanya, beri anggukan kecil, dan biarkan pasangan tahu bahwa couples hadir sepenuhnya.

      3.     Mencari solusi bersama

Setelah saling mendengar, carilah langkah kecil yang bisa dilakukan bersama. Lakukan dengan hati yang terbuka, nada yang ramah, dan keinginan tulus untuk menemukan kesamaan, ide baru, atau mengatasi masalah. Tujuannya bukan menyelesaikan semua masalah sekaligus, melainkan memastikan kalian saling didengar, dihargai, dan tidak merasa sendirian.

      4.     Jarak

Dalam percakapan, jarak berarti memberi ruang bagi diri sendiri dan pasangan untuk mencerna apa yang sedang dibahas. Pasangan tidak akan mampu benar-benar mendengarkan atau mempertimbangkan pendapat Anda jika Anda mendominasi dengan kata-kata tanpa henti. Hindari nada suara yang keras atau bahasa tubuh yang terkesan menyerang agar komunikasi tetap sehat.

Ingat, komunikasi yang sehat tidak datang secara instan. Ini adalah keterampilan emosional yang bisa dilatih seperti otot. Semakin couples melatihnya, semakin kuat hubungan tersebut. Ketika couples membuka diri, pasangan Anda pun akan belajar melakukan hal yang sama. Saat pasangan bisa bicara dari hati, luka lama lebih mudah dipulihkan dan hubungan akan tumbuh lebih kuat.

“Being heard is so close to being loved that most people can’t tell the difference.” —David Augsburger

Focus on the Family Indonesia mendukung para couples melalui layanan konseling pasangan dan program Journey to Us. Kami berkomitmen untuk membantu couples memelihara hubungan pernikahan yang harmonis bersama pasangan Anda. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi

  • Badan Pusat Statistik. (2024, Februari 22). Jumlah Perceraian Menurut Provinsi dan Faktor, 2023.  BPS – Statistics Indonesia. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/YVdoU1IwVmlTM2h4YzFoV1psWkViRXhqTlZwRFVUMDkjMw==/jumlah-perceraian-menurut-provinsi-dan-faktor.html?year=2023
  • Badan Pusat Statistik. (2025, Februari 27). Nikah dan cerai menurut provinsi (kejadian), 2024. BPS – Statistics Indonesia. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/VkhwVUszTXJPVmQ2ZFRKamNIZG9RMVo2VEdsbVVUMDkjMw==/nikah-dan-cerai-menurut-provinsi.html
  • Gottman, J. (2018). The seven principles for making marriage work. Hachette UK
Uncategorized

Strategi Efektif untuk Melatih Anak Bertanggung Jawab Sejak Dini

Banyak dari orang tua yang mengharapkan agar anaknya tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab. Namun, yang perlu dipahami bahwasanya anak yang bertanggung jawab bukanlah bawaan sejak lahir atau muncul begitu saja. Anak menjadi bertanggung jawab karena  diajari, dibimbing, dan belajar untuk memiliki rasa tanggung jawab tersebut.

Bimbingan dari orang tua dan latihan terus-menerus lah yang membentuk anak menjadi bertanggung jawab dan menuntut akuntabilitas dari mereka. Memiliki sikap bertanggung jawab adalah salah satu komponen penting yang akan membantu anak untuk sukses kedepannya. Anak yang memiliki rasa tanggung jawab biasanya lebih mandiri dan dapat menjadi pribadi yang tidak menyalahkan orang lain ketika dirinya salah. Hal paling penting juga, sikap tanggung jawab membantu anak untuk lebih berhati-hati dan berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu.

Parents dapat memulai dengan membuat tanggung jawab sebagai sesuatu yang terasa bermakna dan menyenangkan bagi anak, bukan sebuah beban. Semua anak ingin merasa “mampu” dan “memiliki kekuatan” untuk menyelesaikan apa yang harus dilakukan. Perasaan ini sangat penting untuk mendukung terciptanya harga diri dan makna hidup mereka. Anak-anak tidak hanya ingin dimanja oleh orang tua mereka, anak perlu merasa bahwa keberadaan mereka berarti bahwa hidup mereka memberikan kontribusi positif, baik untuk diri mereka sendiri atau untuk orang sekitar. Jadi, parents tidak perlu mengajari anak untuk bertanggung jawab melalui paksaan, cukup tunjukkan bahwa mereka memiliki kekuatan untuk berkontribusi positif dan temukan cara agar mereka ingin melakukannya.

  1. Beri Pemahaman Apa Itu Tanggung Jawab

Ketika mengajarkan anak mengenai tanggung jawab, parents harus memberikan contoh yang mudah dimengerti atau melalui penjelasan sebab-akibat untuk membantu anak memahami apa itu tanggung jawab. Parents juga bisa menjabarkan tanggung jawab sebagai dapat diandalkan, menepati kata-katanya, melakukan yang terbaik dalam setiap kesempatan, berani mengakui kesalahan, dan dapat membantu keluarga, teman-teman, dan lingkungan sekitar.

  1. Ajak Anak Membantu Pekerjaan di Rumah

Parents dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk berkontribusi secara nyata di rumah. Anak-anak biasanya tidak menganggap tugas-tugas di rumah sebagai beban. Meskipun pekerjaan akan menjadi lebih lama selesai, tapi dengan melibatkan anak untuk membantu akan mengajarkan mereka mengenai tanggung jawab. Ajak anak melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana di rumah, seperti mencuci buah atau sayuran, mengelap meja makan, atau merapikan tempat tidur. Parents dapat berbagi tugas sederhana di rumah kepada anak yang sekaligus menjadi waktu untuk bonding bersama.

  1. Ajak Anak Berpikir, bukan Sekadar Memberi Perintah

Mengajak anak untuk berpikir daripada sekadar memberi perintah adalah strategi efektif dalam membangun kemandirian dan rasa tanggung jawab. Alih-alih membentak “Cepat sikat gigi!” atau “Pakai tasmu!”. Parents bisa mengubah hal ini menjadi pertanyaan, “Apa hal selanjutnya yang perlu kamu lakukan supaya siap sekolah?” Pertanyaan ini memicu anak untuk secara aktif menyusun urutan tugasnya sendiri setiap pagi dari menyikat gigi, mengenakan seragam, hingga menyiapkan tas dan sarapan. Pendekatan ini sejalan dengan konsep positive discipline dan authoritative parenting, di mana anak didorong untuk berpikir secara mandiri dan membuat keputusan sesuai kemampuannya.

  1. Beri Rutinitas dan Struktur

Rutinitas pagi dan malam penting agar anak terbiasa menghadapi serangkaian tugas yang mungkin tidak menyenangkan, seperti menyikat gigi, merapikan mainan, mandi, serta melakukan pekerjaan rumah sederhana. Pengulangan ini membentuk kebiasaan mandiri yang akan membantunya mengurus dirinya dan lingkungan secara konsisten

  1. Ajarkan Anak Memperbaiki Kesalahan

Parents dapat membantu anak-anak memahami bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar dan anak memiliki kesempatan untuk memperbaiki dan bertanggung jawab. Ketika anak melakukan kesalahan, bantu mereka untuk menyadari, memiliki ruang untuk mengakui apa yang salah, dan mengambil langkah perbaikan. Setelah anak mengakui kesalahan mereka, orang tua dapat mengajak anak untuk memikirkan bagaimana mereka bisa memperbaiki kesalahan tersebut. Hal ini bisa berupa meminta maaf, memperbaiki kerusakan yang ada, atau mencari cara untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

 

“It’s not what you do for your children but what you have taught them to do for themselves that  will make them successful human beings.”

  • Ann Landers
  1. Ajari Anak Memecahkan Masalah

Saat anak menghadapi situasi sulit atau suatu masalah, akan lebih baik bila anak diberikan kesempatan untuk menyelesaikan hal tersebut dengan kemampuan mereka. Parents dapat lebih berkontribusi dengan memberikan bimbingan dan ruang untuk mendengarkan perasaan mereka, membantu mereka melalui problem solving, dan mendorong anak agar tidak menghindar atau lari dari masalah tersebut. Cara ini mendorong anak belajar apa itu tanggung jawab dan kesempatan untuk belajar dari kesalahan atau situasi-situasi di luar kendali mereka.

  1. Beri Pujian dan Penghargaan

Pujian dan penghargaan memiliki peran krusial dalam memperkuat rasa tanggung jawab seorang anak. Saat mereka berhasil menyelesaikan tugas atau menunjukkan perilaku bertanggung jawab, apresiasi yang tulus, misalnya ucapan seperti “Hebat sekali, kamu berhasil menyelesaikannya!” dapat memberikan dorongan motivasi yang besar. Pujian ini sebaiknya berfokus pada usaha dan proses yang dilakukan anak, alih-alih dengan hasil yang mereka dapatkan. Dengan begitu, anak merasa usaha mereka dihargai dan terlihat. Rasa dihormati serta diakui ini memperkuat motivasi internal mereka untuk terus bersikap bertanggung jawab. Apalagi ketika pujian diberikan secara tepat, anak akan belajar dari kesalahan serta tetap mempertahankan semangat belajar dan bertindak bertanggung jawab.

  1. Orang Tua sebagai Panutan

Menjadi contoh yang baik bagi anak sangat penting dalam membentuk perilaku bertanggung jawab pada mereka. Anak-anak belajar paling banyak lewat pengamatan dan peniruan terhadap perilaku orangtua mereka. Ketika parents secara konsisten menunjukkan tanggung jawab, seperti menepati janji, mengakui kesalahan, atau menjaga kebersihan lingkungan. Anak lebih cenderung akan meniru sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka karena adanya contoh nyata sikap bertanggung jawab dalam kehidupan mereka.

 

Melatih anak agar bertanggung jawab sejak dini bukanlah proses instan, tetapi merupakan hasil dari bimbingan yang konsisten, penuh kasih sayang, dan keteladanan yang nyata dari orang tua. Dengan menerapkan delapan strategi di atas secara bertahap dan sesuai usia, anak akan belajar mengenali peran serta kewajibannya, tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Parents juga perlu memahami bahwa setiap anak memiliki kapasitas dan tahapan perkembangan yang berbeda, sehingga tanggung jawab yang diberikan harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan mereka. Memberikan tugas yang tepat akan membantu anak merasa mampu, percaya diri, dan lebih siap menjalankan tanggung jawabnya secara bertahap. Ingatlah, tanggung jawab bukan hanya soal menyelesaikan tugas, tetapi juga membentuk karakter yang kuat untuk masa depan anak kita.

 

“Children need to learn to take responsibility for their actions so that they do not become adults believing that nothing is ever their fault.”

  • Unknown

 

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Uncategorized

Menemukan Passion, Perjalanan Mengenal Diri Lebih Dalam

 

 Champs, mungkin sudah tidak asing lagi dengan kata “passion”. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan minat atau aktivitas yang sangat disukai dan memberikan rasa senang saat dilakukan. Kita juga sering kali mendapatkan pesan untuk mengejar passion yang dimiliki, baik dalam kehidupan profesional maupun pribadi. Salah satu ungkapan populer yang sering disebutkan adalah, “Pilih pekerjaan yang kamu suka, maka kamu tidak akan merasa bekerja lagi sepanjang hidupmu.” Namun, menerapkan pesan tersebut dalam kehidupan nyata tidak selalu semudah kedengarannya. Sebelum seseorang bisa mengejar passion, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menemukan terlebih dahulu apa sebenarnya passion mereka. Proses ini tidak selalu terjadi secara instan, sering kali dibutuhkan waktu yang panjang, berbagai pengalaman, dan perjalanan karier yang beragam hingga akhirnya menemukan bidang yang benar-benar membangkitkan semangat dalam diri kita.

Apa Itu Passion?

Passion adalah semangat yang kuat terhadap suatu aktivitas, objek, atau konsep yang kita rasa menarik dan bermakna. Ketika individu menjalani sesuatu yang sesuai dengan passionnya, individu bukan hanya merasakan rasa suka sesaat, tapi dorongan dalam diri yang membuat kita terus mau belajar, mencoba, dan bertahan, bahkan saat menghadapi tantangan. Passion juga bukan hanya tentang hal yang kita sukai saat ini. Passion berhubungan erat dengan siapa diri kita sebenarnya, arah/tujuan hidup kita, dan bagaimana kita ingin berdampak positif ke lingkungan sekitar.

Seringkali banyak orang yang mengira bahwa passion dan hobi adalah hal yang sama. Namun, keduanya adalah dua hal yang berbeda. Hobi sendiri lebih mengarah pada kegiatan yang kita nikmati saat waktu luang, sedangkan passion adalah aktivitas atau tujuan yang benar-benar memotivasi kita. Kadang-kadang, hobi bisa berkembang menjadi passion, dan sebaliknya passion pun bisa menjadi hobi.

Passion setiap orang tentunya bisa berbeda-beda, tergantung pada minat dan nilai-nilai pribadi yang dimiliki. Beberapa contoh passion yang sering dimiliki individu, antara lain:

  • Mengajar
  • Bermain gitar
  • Peduli terhadap kesejahteraan hewan
  • Isu-isu lingkungan
  • Memasak
  • Belajar bahasa asing
  • Menulis buku

 

Mengapa Menemukan Passion Itu Penting

  1. Membuat Kita Merasa Lebih Terpenuhi

Passion membantu kita menemukan arah dan tujuan hidup yang membuat kita merasa lebih utuh sebagai individu. Dengan mengetahui apa yang memotivasi dan membuat kita bersemangat, kita bisa membuat rencana hidup yang lebih jelas dan selaras dengan diri kita sesungguhnya. Ketika individu terhubung dengan passion dirinya, proses pengambilan keputusan dalam hidup juga akan terasa lebih mudah untuk dicapai karena individu sudah mengetahui apa yang ia inginkan, sukai, dan harapkan.

  1. Mendukung Kesehatan Mental

Ketika kita melakukan hal-hal yang benar-benar disukai, hal itu bisa membantu mengurangi stres, rasa cemas, dan bahkan depresi. Saat kita terlibat dalam kegiatan yang membuat diri senang, suasana hati bisa jadi lebih baik, muncul rasa bahagia, dan kita bisa sejenak lepas dari tekanan hidup sehari-hari. Aktivitas yang membuat kita bersemangat juga bisa membuat diri merasa lebih puas dan bahagia secara keseluruhan.

  1. Memberikan Lebih Banyak Energi dan Motivasi

Passion bisa menjadi sumber semangat yang mendorong kita untuk tetap kuat menghadapi tantangan dan terus melangkah menuju tujuan.

 

“Whatever makes you feel the sun from the inside out, chase that.”

  • Gemma Troy

Cara Menemukan Passion Diri

Cara terbaik untuk mengenali passion adalah dengan memperhatikan aktivitas sehari-hari yang membuat kita merasa bersemangat, termotivasi, atau terpenuhi. Berikut cara-cara lain untuk mengidentifikasi passion diri dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Waktu dan uang yang digunakan

Biasanya kita mengalokasikan waktu dan uang untuk hal-hal yang kita anggap penting. Coba periksa tagihan belanja, buku yang dibaca, film atau podcast yang ditonton. Apa tema atau aktivitas yang sering muncul dalam hidup kita.

  1. Topik yang kita suka bicarakan atau ajarkan ke orang lain

Merefleksikan topik yang membuat kita semangat saat membicarakannya dan yang sering kali kita bagikan ke orang lain, bisa menjadi hal yang kita anggap penting dan berarti.

  1. Memahami kekuatan atau keahlian diri

Kemampuan kita, baik soft skill maupun hard skill dapat menunjukkan passion yang sudah kita kembangkan sebelumnya. Terkadang, keahlian alami dari dalam diri kita juga bisa menjadi petunjuk karena membuat kita merasa percaya diri dan bersemangat saat melakukan sesuatu yang telah dikuasai.

  1. Memperhatikan hal yang dicintai

Masa kecil kita sering kali menyimpan petunjuk penting tentang hal-hal yang secara alami menarik perhatian dan minat kita. Saat diminta untuk mengecek kembali buku, film, atau aktivitas favorit di masa kecil, ini bertujuan untuk menggali kembali ketertarikan yang mungkin masih relevan hingga sekarang. Misalnya, jika dulu kita suka membaca buku detektif, bisa jadi kita memiliki minat terhadap pemecahan masalah atau berpikir analitis.

  1. Keluar dari zona nyaman

Zona nyaman adalah kondisi atau rutinitas yang kita jalani setiap hari dan terasa aman, familiar, dan tidak menantang. Misalnya, bekerja dari pagi sampai sore, pulang, makan malam, lalu menonton TV. Rutinitas ini memang terasa nyaman, tapi tidak memberi ruang untuk tumbuh atau menemukan hal-hal baru, termasuk passion kita. Passion sering muncul saat kita melakukan sesuatu yang berbeda, menantang, atau bahkan membuat kita merasakan kegugupan atau rasa takut. Saat individu keluar dari zona nyamannya, ini memberi diri kesempatan untuk menemukan minat baru, mengenal sisi diri yang belum pernah terlihat, dan menjelajahi peluang yang tidak disangka sebelumnya. Contoh konkret keluar dari zona nyaman untuk menemukan passion adalah dengan mengikuti kelas atau aktivitas baru, bergabung dengan suatu komunitas/klub, pergi menjelajahi tempat baru, atau bahkan mengikuti suatu kompetisi

  1. Percaya pada diri sendiri

Sering kali, passion sebenarnya sudah ada dalam diri kita, bahkan mungkin sudah terlihat sejak lama. Tapi masalahnya bukan karena kita belum tahu, melainkan karena kita takut akan kegagalan, takut tidak cukup baik, takut pendapat orang lain, atau takut meninggalkan zona nyaman. Rasa ragu ini bisa membuat kita menunda, menghindar, bahkan menyangkal apa yang sebenarnya kita sukai. Padahal, passion tidak menuntut kesempurnaan diri untuk melakukannya. Passion hanya butuh keberanian untuk memulai dan percaya bahwa hidup kita bisa lebih bermakna jika dijalani dengan sepenuh hati.

 

Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dapat dijadikan pertanyaan reflektif untuk menggali passion yang dimiliki. Champs dapat mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan terus terang dan menyingkirkan terlebih dahulu ketakutan atau halangan yang mungkin terjadi.

  • Apa yang akan saya lakukan jika waktu dan uang bukan masalah?
  • Bagaimana saya ingin dikenang oleh orang sekitar?
  • Bagaimana saya ingin berdampak untuk orang lain?
  • Apa pendapat orang lain tentang kelebihan saya?
  • Apa kekuatan diri saya?
  • Masalah apa yang ingin dapat saya selesaikan mengenai hal-hal di sekitar saya?
  • Apa nilai hidup saya?
  • Apa yang akan saya lakukan kalau saya dijamin tidak akan gagal?
  • Apa yang saya lihat dari orang lain yang membuat saya ingin melakukannya juga?
  • Hobi apa yang paling membuat saya bahagia?
  • Apa aktivitas yang membuat saya merasa paling bebas dan senang?

Sedikit pengingat untuk champs, jangan sampai kita memiliki pola pikir bahwa pekerjaan harus selalu sejalan dengan passion. Faktanya, ada kalanya kita tetap perlu bekerja meskipun pekerjaan tersebut belum sesuai dengan passion yang kita miliki. Hal ini wajar, terutama saat kita masih berada pada tahap eksplorasi untuk menemukan bidang yang benar-benar sesuai dengan minat dan bakat kita. Tetap menjalankan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab meski belum sesuai passion adalah bagian dari proses belajar dan membentuk karakter.

Menemukan passion bukan soal seberapa cepat kita menemukannya, tapi seberapa jujur kita membuka diri dan mendengarkan suara hati terdalam. Perlu yang dipahami juga, passion bukan hanya milik mereka yang sudah tahu tujuan hidupnya dari awal. Passion bisa ditemukan oleh siapa pun yang berani dan mau mulai mengeksplorasi, berani mencoba, dan tidak menyerah karena di sanalah individu dapat tumbuh seutuhnya. Jadi, untuk champs yang masih meragukan passion dirimu, mulailah hari ini, momen ini juga. Temukan apa yang membuat kita dapat merasa hidup sepenuhnya dan merasa berarti. Sebab, passion bukan hanya sesuatu yang ditemukan, tapi juga sesuatu yang kita bangun melalui perjalanan dan ketangguhan.

 

“Passion is energy. Feel the power that comes from focusing on what excites you.”

  • Oprah Winfrey

 

Bagi champs yang ingin mendapatkan info dan tips-tips aplikatif terkait remaja dan pengembangan diri, champs dapat mengunjungi laman website kami di “Focus on The Family Indonesia” dan dapat terhubung melalui Instagram kami @noapologiesindonesia, jangan lewatkan unggahan penuh inspirasi dan edukasi untukmu.

 

Uncategorized

Panduan Membangun Rasa Percaya Diri Anak di Rumah

 Parents, sejak awal kehidupan, anak-anak sudah mengembangkan berbagai keterampilan dengan sangat cepat yang secara bersamaan, mereka juga mulai membentuk rasa percaya diri untuk menggunakan keterampilan tersebut. Seiring bertambahnya usia, rasa percaya diri menjadi aspek yang tak kalah penting dibandingkan keterampilan itu sendiri. Untuk berkembang secara optimal, anak perlu yakin pada kemampuan mereka sendiri, sekaligus mampu menerima dan mengatasi kegagalan ketika hasil yang diharapkan tidak tercapai. Proses menguasai sesuatu dan belajar bangkit dari kegagalan inilah yang mendorong terbentuknya kepercayaan diri yang sehat pada anak.

Apa itu Kepercayaan Diri?

Kepercayaan diri merupakan aspek penting dalam kepribadian manusia. Individu yang percaya diri memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya dan memiliki harapan yang realistis. Bahkan ketika harapan tersebut tidak tercapai, mereka tetap mampu bersikap positif dan menerima kenyataan yang terjadi. Kepercayaan diri juga adalah suatu kondisi psikologis yang memberikan seseorang keyakinan kuat untuk bertindak. Sebaliknya, orang yang tidak percaya diri cenderung memiliki konsep diri negatif dan kurang yakin terhadap kemampuannya, serta sering menarik diri dari lingkungan sosial.

Kepercayaan diri pada anak adalah keyakinan yang mereka miliki terhadap kemampuan diri dalam menyelesaikan tugas atau menghadapi situasi tertentu, yang dapat berbeda-beda tergantung pada konteks. Misalnya, seorang anak bisa merasa yakin dengan kemampuan matematika, namun kurang percaya diri dalam bidang olahraga. Tingkat kepercayaan diri ini sangat memengaruhi bagaimana anak bereaksi terhadap tantangan yang mereka hadapi. Anak-anak dengan kepercayaan diri yang rendah umumnya menunjukkan ciri-ciri seperti enggan mencoba hal-hal baru, merasa tidak dicintai atau tidak diterima, cenderung menyalahkan orang lain, menekan atau menyembunyikan emosinya, mudah frustrasi, meremehkan potensi serta kemampuan diri sendiri, dan sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan kepercayaan diri sejak dini sangatlah penting, agar anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih berani, mandiri, dan mampu menghadapi berbagai situasi kehidupan dengan positif.

“Confidence isn’t about feeling good about yourself, it’s about trusting yourself no matter what you’re feeling.”

  • Unknown

Mengapa Kepercayaan Diri Penting?

Macarau and Stevanus (2022) menunjukkan bahwa anak yang memiliki rasa percaya diri tinggi cenderung lebih berani, tenang, dan mantap dalam mengambil keputusan di masa depan. Kepercayaan diri bukan hanya memengaruhi bagaimana anak menjalani keseharian, tetapi juga memainkan peran penting dalam pembentukan jati diri dan hubungan sosial mereka. Rasa percaya diri membantu anak membentuk pandangan positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap dunia di sekitarnya. Ketika anak merasa yakin akan kemampuan yang dimilikinya, mereka akan lebih terbuka untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial, mencoba hal-hal baru, serta menghadapi tantangan dengan sikap yang optimis. Dengan menumbuhkan kepercayaan diri sejak dini, anak akan lebih mampu mengeksplorasi potensinya, belajar dari kegagalan tanpa merasa terpuruk, serta tumbuh menjadi individu yang tangguh dan adaptif dalam berbagai situasi kehidupan. Mengingat pentingnya rasa percaya diri dalam kehidupan anak, peran orang tua dan pendidik menjadi krusial dalam menumbuhkan aspek ini melalui stimulasi yang tepat (Baharun & Jennah, 2019).

Kepercayaan diri membantu anak untuk:

  1. Mendorong pembelajaran dan rasa ingin tahu: Anak-anak yang percaya diri sering kali lebih ingin tahu dan terbuka untuk belajar. Mereka mungkin tidak terlalu takut untuk bertanya dan mencari informasi baru.
  2. Meningkatkan keterampilan sosial: Rasa percaya diri dapat membantu anak berteman dengan lebih mudah dan berinteraksi dengan nyaman dengan teman sebayanya, yang dapat mengarah pada hubungan yang lebih sehat dan keterampilan komunikasi yang lebih baik.
  3. Membangun ketahanan: Anak-anak yang percaya diri lebih cenderung melihat situasi sulit sebagai peluang untuk belajar dan tumbuh, daripada sebagai hambatan yang tidak dapat diatasi.
  4. Mendorong kemandirian dan kepemimpinan: Anak-anak yang percaya diri lebih mungkin untuk membuat keputusan. Hal ini dapat berkembang menjadi keterampilan kepemimpinan saat mereka tumbuh dewasa.
  5. Mendukung kesehatan mental: Anak-anak yang memiliki rasa percaya diri yang sehat umumnya akan lebih bahagia dan lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami perasaan tidak berdaya atau depresi. Rasa percaya diri dapat membantu mereka merasa lebih aman dengan kemampuan mereka dan lebih terbuka terhadap pengalaman baru.

Parents, dapat membantu anak untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka melalui banyak hal, seperti berikut ini:

  1. Jangan bereaksi negatif terhadap kesalahan
    Ajarkan kepada anak bahwa semua orang bisa melakukan kesalahan, namun yang terpenting adalah mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut dan bukan terjebak dalam penyesalan. Anak yang percaya diri tidak takut gagal, bukan karena mereka selalu berhasil, tetapi karena anak tahu cara bangkit kembali setelah gagal.
  2. Ajak anak mencoba pengalaman baru
    Daripada terus-menerus mengasah apa yang sudah dikuasai, dorong anak untuk memperluas keterampilannya di bidang lain. Ketika mereka menguasai hal-hal baru, akan tumbuh rasa mampu dalam diri anak yang memperkuat rasa percaya diri untuk menghadapi tantangan berikutnya.
  3. Biarkan anak mengalami kegagalan.
    Meskipun orang tua sering ingin melindungi anak dari rasa kecewa, penting untuk memberi mereka kesempatan belajar dari pengalaman sendiri. Saat anak gagal meraih sesuatu, mereka akan belajar bahwa kegagalan bukan berarti akhir dari segalanya. Justru dari kegagalan itu, anak bisa termotivasi untuk mencoba lagi dan berusaha lebih baik di lain waktu.
  4. Bantu anak menemukan apa yang mereka sukai

Saat anak diberi kesempatan untuk mencoba hal-hal yang mereka sukai, mereka bisa mengenal diri mereka lebih baik. Ini membantu membentuk jati diri yang kuat, yang sangat penting untuk membangun rasa percaya diri. Ketika anak menyadari bahwa mereka punya bakat dalam suatu hal dan melihat kemampuannya terus berkembang, mereka akan merasa bangga dan semakin percaya diri.

  1. Ajak anak menetapkan tujuan
    Membantu anak membuat tujuan, baik yang kecil maupun besar, bisa membuat mereka merasa mampu dan percaya diri. Anda bisa mendampingi mereka untuk mengubah keinginan menjadi rencana nyata, misalnya dengan membuat daftar hal-hal yang ingin mereka capai. Setelah itu, bantu anak membagi tujuan besar menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dilakukan. Cara ini tidak hanya menumbuhkan semangat, tapi juga melatih anak untuk merencanakan masa depannya dengan lebih baik.
  2. Hargai proses, bukan hanya hasil
    Memberikan pujian atas pencapaian itu penting, tetapi tak kalah penting adalah mengapresiasi usaha yang telah mereka lakukan, tanpa memandang hasil akhirnya. Tunjukkan bahwa parents merasa bangga pada usaha yang telah mereka lakukan.
  3. Libatkan mereka dalam tanggung jawab di rumah
    Meski mungkin awalnya mengeluh, anak akan merasa lebih dihargai saat diberi tanggung jawab yang sesuai dengan usianya, seperti merapikan mainan, membantu pekerjaan rumah, atau menjemput adik. Kegiatan seperti ini membuat anak merasa penting dan dibutuhkan, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri mereka.
  4. Ungkapkan kasih sayang secara konsisten
    Pastikan anak tahu bahwa parents mencintai mereka apapun keadaannya, baik saat mereka sedang berhasil atau mengalami kegagalan, mendapat nilai bagus atau tidak. Ketika anak merasa dicintai tanpa syarat, mereka akan merasa aman dan percaya diri, meskipun sedang gagal atau sedang meragukan diri mereka sendiri.

 

Membangun rasa percaya diri pada anak bukanlah proses instan, tetapi investasi jangka panjang yang akan membentuk karakter dan masa depan mereka. Dalam proses ini, peran orang tua sangatlah penting sebagai contoh, pendengar, penyemangat, sekaligus tempat anak untuk merasa aman. Dengan dukungan, kasih sayang, dan lingkungan yang tepat, orang tua turut menanamkan fondasi kepercayaan diri yang kuat untuk masa depan mereka karena setiap anak memiliki potensi untuk tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, tangguh, dan siap menghadapi dunia.

“Behind every young child who believes in himself is a parent who believed first.”

  • Matthew Jacobson

Focus on the Family Indonesia siap mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Baharun, H., & Jennah, M. (2019). Smart Parenting dalam Mengatasi Social Withdrawal pada Anak di Pondok Pesantren. Ta Allum Jurnal Pendidikan Islam, 7(1). https://doi.org/10.21274/taalum.2019.7.1.45-72

Macarau, V. V. V., & Stevanus, K. (2022). Peran Orangtua dalam Upaya Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak Usia Dini. EDULEAD Journal of Christian Education and Leadership, 3(2), 153–167. https://doi.org/10.47530/edulead.v3i2.113

 

 

Uncategorized

Bukan Hanya Status, Ini Hal-Hal yang Berubah Setelah Menikah

 Saat pasangan mengucapkan janji suci pernikahan, momen sakral ini menandai dimulainya babak baru dalam kehidupan keduanya. Berjalannya waktu, pasangan memasuki bulan-bulan pertama pernikahan. Di masa ini pasangan mungkin akan mulai merasakan dinamika kehidupan bersama yang tidak selalu serupa dengan masa pacaran. Pernikahan membawa berbagai penyesuaian dan perubahan signifikan, baik secara emosional, psikologis, maupun sosial. 

Apa saja yang berubah setelah menikah?

  1. Cara Bekerja dan Berpikir Berubah
    Segala hal yang dilakukan tidak lagi hanya untuk kepentingan pribadi. Bahkan pencapaian yang bersifat individual pun terasa sebagai keberhasilan bersama karena adanya dukungan penuh dari pasangan. Dalam pernikahan, banyak hal dijalani sebagai sebuah tim, dan keberhasilan satu pihak merupakan kebahagiaan bagi keduanya.
  2. Cara Menghadapi Konflik Berubah
    Konflik adalah hal yang wajar dalam hubungan apa pun. Namun dalam pernikahan, cara menyelesaikan konflik cenderung lebih matang yang tujuannya bukan lagi untuk “siapa yang benar” atau “menang”, melainkan untuk memahami satu sama lain dan mencari solusi yang bisa diterima bersama. Konflik dalam pernikahan tidak akan dapat diselesaikan dengan cara menghindar atau meninggalkan begitu saja. Dalam ikatan pernikahan, ada komitmen untuk bertahan dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama untuk mempertahankan hubungan. 
  3. Tanggung Jawab Bersama

Bayangkan suasana santai sebelum menikah, berbaring di sofa sambil menonton televisi, tanpa terlalu banyak beban pikiran. Setelah menikah, waktu malam bisa berubah menjadi diskusi mengenai siapa yang akan memasak makan malam, siapa yang membuang sampah, dan siapa yang mengerjakan tugas-tugas lainnya. Menjalani pernikahan berarti menjadi satu tim dengan tetap menjunjung keseimbangan dan kompromi terhadap satu sama lain. Pasangan suami istri harus bisa menemukan ritme yang sesuai dan memastikan bahwa keduanya merasa dihargai dan didengarkan.

  • Sistem Dukungan Emosional yang Lebih Kuat

Dalam pernikahan, pasangan menjadi sumber utama dukungan emosional. Ketika mengalami hari yang sulit, pasangan adalah orang pertama yang akan diandalkan untuk mendapatkan semangat dan penghiburan. Misalnya, saat menghadapi tekanan di tempat kerja, dukungan dari pasangan dapat membuat perbedaan besar dalam cara mengatasi situasi tersebut. Hubungan emosional yang semakin dalam ini memperkuat keintiman dan rasa saling percaya.

  • Penyesuaian Keuangan

Pernikahan juga membawa perubahan dalam pengelolaan keuangan. Pasangan mungkin akan menghubungkan rekening bank, menyusun anggaran bersama, serta merencanakan tujuan finansial jangka pendek dan panjang. Keterbukaan dan perencanaan keuangan bersama menjadi hal yang sangat penting. Bukan hanya soal mengatur pengeluaran, tetapi juga membangun masa depan keuangan secara bersama-sama.

  • Pembagian Tugas Rumah Tangga

Tugas rumah tangga bukan lagi tanggung jawab individu. Kini, semua dikerjakan bersama. Pasangan perlu berkomunikasi tentang apa yang disukai atau tidak disukai oleh masing-masing, lalu membagi tugas secara adil. Misalnya, jika seseorang tidak menyukai mencuci piring tetapi tidak keberatan menyapu, sementara pasangannya senang memasak tapi enggan mencuci pakaian, pembagian tugas bisa disesuaikan agar kedua pihak merasa nyaman dan tidak terbebani.

  • Dinamika Sosial yang Berubah

Kehidupan sosial pun mengalami pergeseran, lingkaran pergaulan mungkin akan berkembang atau berubah karena pasangan mulai lebih sering bersosialisasi sebagai satu kesatuan dibanding secara individu. Pertemanan baru terbentuk, acara yang dihadiri pun berbeda, dan kebiasaan lama mungkin mulai ditinggalkan demi menyesuaikan dengan kehidupan baru sebagai pasangan.

Selain tujuh hal di atas, tentunya ada banyak hal yang berubah dalam kehidupan pernikahan, entah itu sebagai individu atau kesatuan sebagai pasangan. Setiap pernikahan memiliki dinamika yang unik, sehingga bentuk dan dampak perubahan ini bisa sangat berbeda pada setiap pasangan. Perubahan-perubahan ini dapat mencakup cara mengambil keputusan, relasi dengan keluarga besar, pengelolaan waktu pribadi, hingga pemaknaan terhadap kebahagiaan dan tujuan hidup. Semua itu merupakan bagian dari proses penyesuaian yang alami dan menjadi ruang untuk bertumbuh bersama.

Proses Menghadapi dan Mengelola Perubahan

Menghadapi perubahan setelah menikah dengan sikap yang sehat dan terbuka sangat penting untuk menjaga ikatan tetap harmonis dan bertumbuh lebih kuat. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghadapi perubahan setelah menikah. 

  • Negosiasi

Negosiasi digunakan saat pasangan ingin melakukan perubahan secara sadar. Misalnya, ketika terjadi perbedaan pandangan, atau salah satu pihak memiliki gagasan untuk memperbaiki dinamika hubungan. Negosiasi yang sehat bersifat kolaboratif, bukan kompetitif dimana setiap pihak diberi ruang untuk menyampaikan pendapat, saling mendengarkan, dan bersama-sama mencari solusi yang adil dan saling menguntungkan keduanya.

  • Menghargai Perbedaan

Ketika dua individu dengan latar belakang dan kebiasaan berbeda dipersatukan dalam pernikahan, perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun, perbedaan tersebut seharusnya tidak membuat kita merasa tertekan atau kehilangan arah. Sebaliknya, belajarlah untuk bekerja sama sebagai satu tim guna membangun kehidupan yang kokoh dan penuh makna. Hadapi permasalahan sebagai “kita melawan masalah,” bukan “aku melawan kamu.” Sama seperti kita belajar mencintai dengan benar, kita juga harus belajar menyelesaikan konflik secara sehat dan dewasa.

“A great marriage is not when the ‘perfect couple’ comes together. It is when an imperfect couple learns to enjoy their differences.”

  • Dave Meurer
  • Menerima Perubahan dengan Lapang Dada

Banyak dari kita merasa takut terhadap perubahan yang datang setelah menikah. Takut kehilangan kebebasan, identitas diri, cara hidup yang sudah nyaman, dan lain sebagainya. Namun, kita harus menyadari bahwa perubahan adalah hal yang pasti dalam hidup. Couples dapat mengubah rasa takut dan ketidakamanan tersebut menjadi kekuatan yang mendorong kita untuk tumbuh dalam hubungan baru bersama pasangan. Hadapilah setiap perubahan dengan cinta, kerendahan hati, dan kepercayaan diri bahwa perubahan yang terjadi adalah bagian dari proses pendewasaan dan pembentukan ikatan yang lebih kuat. Dengan sikap yang terbuka dan saling mendukung, setiap tantangan yang muncul bisa menjadi peluang untuk lebih mengenal satu sama lain dan memperkuat fondasi pernikahan yang telah dibangun bersama.

  • Komitmen adalah Kunci Segalanya

Dalam pernikahan, komitmen adalah fondasi yang menjaga hubungan tetap kokoh, bahkan ketika cinta diuji oleh berbagai tantangan. Cinta memang penting, namun tanpa komitmen yang kuat untuk terus memilih dan memperjuangkan pasangan kita setiap hari, cinta bisa jadi memudar dan hilang. Komitmen berarti berpegang pada janji yang diucapkan di awal pernikahan, berusaha untuk terus memahami, dan tetap berjuang bersama meski situasi yang dihadapi tidak selalu mudah. Dengan memelihara cinta melalui komitmen yang konsisten, baik lewat sikap romantis, perhatian kecil, maupun dukungan emosional. Pernikahan akan memiliki kekuatan untuk bertahan dan berkembang sepanjang waktu. Karena pada akhirnya, bukan hanya rasa cinta yang membuat pernikahan langgeng, tetapi kesediaan untuk terus berkomitmen satu sama lain.

  • Accept More, Expect Less

Sikap menerima merupakan kunci dalam membangun hubungan yang kuat dan sehat. Dengan mengurangi ekspektasi yang berlebihan terhadap pasangan maupun terhadap kehidupan pernikahan itu sendiri, kita memberi ruang bagi hubungan untuk tumbuh secara alami. Couples dapat belajar untuk mengikuti alur kehidupan dan menikmati prosesnya tanpa terlalu membebani diri dengan harapan-harapan yang tidak realistis. Terkadang, ekspektasi yang terlalu banyak yang justru dapat menjadi sumber kekecewaan dan ketegangan. Sebaliknya, penerimaan membuka jalan bagi kedamaian batin, keharmonisan, serta memperkuat koneksi emosional antara pasangan. 

Hal penting yang dapat dilakukan couples sebelum memasuki pernikahan adalah dengan mempersiapkan diri dan berdiskusi secara terbuka mengenai kehidupan pernikahan yang akan dijalani. Diskusi ini bertujuan untuk menyamakan pandangan, menyelaraskan tujuan, serta memastikan bahwa ekspektasi dan realitas masing-masing tentang pernikahan saling dipahami. Dengan membicarakan hal ini sejak awal, pasangan dapat menghindari kesalahpahaman yang sering muncul karena perbedaan ekspektasi. Selain itu, proses diskusi juga membantu membangun keterbukaan, saling percaya, dan kemampuan untuk memecahkan masalah bersama.

Pernikahan tentunya membawa banyak perubahan, baik besar maupun kecil, yang secara perlahan membentuk dinamika baru dalam kehidupan berpasangan. Setiap perubahan yang terjadi setelah menikah bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan peluang untuk saling memahami, menyesuaikan, dan berkembang sebagai individu maupun sebagai pasangan. Dengan kesiapan, keterbukaan, dan komitmen untuk tumbuh bersama, setiap perubahan justru bisa menjadi fondasi yang memperkuat ikatan cinta dan kebersamaan. 

 

“A happy marriage is a choice. You don’t find a happy marriage, you make one.”

  • Jim Burns

Bagi pasangan yang sedang merencanakan pernikahan dan membutuhkan dukungan mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan dalam kehidupan pernikahan, Focus on the Family Indonesia hadir untuk mendampingi couples. Kami berkomitmen untuk membantu setiap individu dan pasangan membangun fondasi hubungan yang sehat dan harmonis melalui program premarital yang kami sediakan. Couples dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Uncategorized

Teknik-Teknik Manajemen Waktu untuk Jadi Lebih Produktif

Champs, di artikel sebelumnya kita sudah membahas mengenai pengertian time management dan strategi-strategi mengelola waktu secara efektif. Untuk memperlengkapi pembahasan mengenai time management, artikel kali ini akan lebih berfokus menjelaskan teknik-teknik manajemen waktu yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti yang kita tahu, manajemen waktu adalah kunci utama untuk mencapai produktivitas maksimal dan menjaga keseimbangan hidup seseorang. Dengan memilih strategi yang tepat, kita bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan tanpa merasa kewalahan dengan padatnya tugas dan aktivitas yang dimiliki. Champs, juga perlu memilih teknik manajemen waktu yang sesuai sebagai kunci efektivitas. Bila kita memilih teknik manajemen waktu yang cocok dengan gaya kerja dan kebutuhan masing-masing, kita bisa memaksimalkan hasil kerja dengan waktu yang ada. Berikut ini adalah beberapa teknik manajemen waktu yang telah terbukti efektif dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan serta gaya kerja masing-masing individu:

1.     Eat The Frog

Teknik ini berasal dari filosofi sederhana, kerjakan tugas tersulit dan terpenting di awal hari. Istilah “frog” merujuk pada pekerjaan besar yang sering kita tunda. Dengan menyelesaikannya terlebih dahulu, hari kita akan terasa lebih ringan dan produktif. Strategi ini mendorong kita untuk tidak menunda-nunda dan memulai hari dengan pencapaian signifikan. Metode ini cocok digunakan apabila champs merasa memiliki tugas yang menumpuk dalam pekerjaanmu.

2.     Metode Ivy Lee

Metode ini mengajarkan kita untuk menyusun enam prioritas utama setiap hari. Di malam hari, tulis enam tugas yang ingin diselesaikan esok, urutkan berdasarkan prioritas, dan kerjakan satu per satu secara berurutan. Tugas yang belum selesai cukup dipindahkan ke hari berikutnya. Metode ini mendorong fokus, mengurangi multitasking, dan menjaga keteraturan dalam bekerja.

3.     Teknik Pomodoro

Teknik Pomodoro dikembangkan oleh Francesco Cirillo, teknik ini membagi waktu kerja menjadi sesi 25 menit dengan jeda 5 menit. Setelah empat sesi, istirahat diperpanjang menjadi 15–30 menit. Teknik ini sangat cocok bagi mereka yang membutuhkan konsentrasi tinggi dalam waktu pendek, seperti saat menulis, menyusun laporan, atau menyelesaikan tugas administratif.

  1. Kanban

Metode Kanban adalah salah satu teknik manajemen waktu yang berfokus pada visualisasi progres sebuah pekerjaan. Pertama, champs bisa menyediakan lembaran kosong lalu membuat kolom, dan menuliskan apa saja yang harus dilakukan beserta setiap tahapannya. Kolom dalam tabel bisa dibagi menjadi tiga, yaitu “to-do” berisikan daftar tugas, “in progress” untuk tugas yang sedang dikerjakan, dan “done” untuk tugas yang sudah selesai.

5.     Flowtime

Berbeda dari Pomodoro, teknik Flowtime memberi keleluasaan untuk bekerja sesuai durasi alami fokus kita. Kamu bisa mulai bekerja dan berhenti hanya saat merasa lelah atau kehilangan fokus. Teknik ini ideal untuk pekerjaan kreatif seperti menulis, desain, atau coding, di mana “flow” atau aliran konsentrasi tidak boleh terganggu oleh alarm.

6.     Biological Prime Time

Setiap orang memiliki waktu biologis tersendiri di mana mereka merasa paling berenergi dan produktif. Teknik ini mendorong kita untuk melacak energi harian dan mengidentifikasi jam-jam puncak produktivitas. Gunakan waktu tersebut untuk mengerjakan tugas-tugas penting, sementara pekerjaan ringan dapat dilakukan saat energi mulai menurun.

  1. SMART Goals

Teknik manajemen waktu lainnya yang juga cukup populer adalah SMART goals. Teknik ini, membantu individu fokus pada membuat tujuan yang jelas, agar dapat mengalokasikan waktu sesuai dengan tujuan tersebut. SMART adalah akronim dari specific, measurable, achievable, relevant, dan time-bound.

  • Specific: Tujuan harus jelas dan tidak ambigu, menjawab pertanyaan siapa, apa, di mana, kapan, dan mengapa.
  • Measurable: Harus ada indikator yang memudahkan kita memantau kemajuan berapa banyak, seberapa jauh, dan kapan tugas harus selesai.
  • Achievable: Tujuan harus realistis dan sesuai dengan sumber daya yang dimiliki. Tujuan yang terlalu tinggi akan menurunkan motivasi, sedangkan terlalu mudah bisa tidak menantang.
  • Relevant: Tujuan harus selaras dengan visi hidup, nilai, atau tujuan jangka panjang.
  • Time‑bound: Tujuan harus memiliki batas waktu atau deadline yang jelas. Ini menciptakan urgensi dan membantu kita tetap fokus agar tidak menunda-nunda pekerjaan.

Dengan menerapkan teknik SMART Goals dalam rutinitas manajemen waktu, champs tidak hanya menetapkan tujuan yang terarah, tetapi juga membangun sistem kerja yang efisien, terukur, dan bermakna. Ini membuat pengelolaan waktu lebih terstruktur, termotivasi, dan mampu memberikan hasil nyata dalam batas waktu yang ditentukan.

8.     Deep Work

Dipopulerkan oleh Cal Newport, konsep “deep work” menekankan pentingnya bekerja dalam kondisi benar-benar fokus dan bebas dari gangguan. Dengan menciptakan lingkungan kerja yang sunyi, menonaktifkan notifikasi, dan membatasi gangguan, kita bisa menyelesaikan pekerjaan kompleks dengan kualitas yang jauh lebih baik.

  1. Sistem 4D

Teknik manajemen waktu ini membantu untuk membagi prioritas ke empat skala, yaitu:

  • Delete (Hapus): Singkirkan semua tugas yang tidak penting dan tidak mendesak dari daftar tugas.
  • Delegate (Delegasikan): Serahkan tugas penting yang bukan tanggung jawab utama kita kepada orang lain yang lebih tepat, sehingga kita bisa fokus pada hal-hal yang paling membutuhkan keahlian atau perhatian diri.
  • Defer (Tunda): Untuk tugas yang penting tapi belum mendesak, jadwalkan untuk dikerjakan nanti. Namun, pastikan bahwa kita telah menetapkan waktu atau pengingat agar tugas tersebut tidak terabaikan.
  • Do it now (Kerjakan sekarang): Jika ada tugas yang penting dan mendesak atau hanya butuh waktu singkat untuk dilakukan, kita bisa segera melakukannya agar tidak menumpuk dan mengganggu ritme kerja.

10. Time Blocking

Time blocking atau pengelompokan waktu berarti membagi hari ke dalam blok waktu yang telah ditentukan untuk masing-masing tugas. Misalnya, pagi hari untuk tugas analitis, siang untuk rapat, dan sore untuk menyusun laporan. Teknik ini mencegah kita mengerjakan banyak hal sekaligus dan memastikan setiap tugas mendapat waktu khusus.

11. Task Batching

Task batching adalah strategi mengelompokkan tugas-tugas serupa dan menyelesaikannya dalam satu waktu. Misalnya, menjawab semua email sekaligus, mengedit beberapa artikel dalam satu sesi, atau membuat konten media sosial untuk seminggu penuh. Dengan mengurangi frekuensi berpindah antar tugas yang berbeda, kita bisa bekerja lebih efisien dan fokus.

  1. The Glass Jar

Teknik the glass jar mengumpamakan waktu sebagai sebuah toples. Toples tersebut akan diisi oleh benda-benda seperti batu, kerikil, dan pasir yang mewakili kategori tugas-tugas tertentu.

  • Batu: Pekerjaan atau tugas yang perlu dikerjakan dan paling penting.
  • Kerikil: Pekerjaan atau tugas yang perlu dikerjakan, namun tidak terlalu penting.
  • Pasir: Pekerjaan atau tugas yang tidak terlalu penting dan bisa dikerjakan di lain waktu.

Mencoba berbagai teknik manajemen waktu mulai dari SMART Goals, Sistem 4D, Pomodoro, hingga Deep Work, bukan sekadar untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga menciptakan keseimbangan hidup yang lebih sehat dan bermakna. Dengan memahami dan menerapkan teknik yang paling sesuai kebutuhan, champs tidak hanya menyelesaikan lebih banyak tugas, tetapi juga meminimalkan stres, meningkatkan kualitas kerja, dan memberi ruang bagi hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup.

Seperti kata pepatah juga, bukanlah seberapa banyak yang kita kerjakan, tetapi seberapa bermakna dan efektif segala hal yang kita lakukan. Jadi, pilih teknik yang paling cocok dengan gaya kita, jalani hal itu dengan konsisten, dan rasakan perubahan signifikan dalam keseharian, serta kehidupan secara keseluruhan. Karena manajemen waktu yang baik adalah kunci menuju hidup yang lebih terarah, produktif, dan berkualitas.

Apabila champs mengalami penurunan dalam kegiatan sehari-hari karena kesulitan mengatur waktu. Focus on the Family Indonesia siap membantu champs melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait pengembangan diri self development melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia.

 

 

Uncategorized

Membantu Anak Mengenal dan Mengelola Emosinya Sejak Dini

 Parents, masa kanak-kanak merupakan golden age dalam kehidupan seseorang, terutama dalam perkembangan emosionalnya. Pada masa ini, anak mulai belajar mengenali, memahami, dan mengelola emosinya. Sayangnya, banyak anak yang belum memiliki keterampilan ini secara memadai, terutama jika tidak mendapatkan dukungan dari orang dewasa di sekitarnya. Orang tua memegang peran penting dalam proses pembelajaran emosi anak. Dengan kata lain, cara kita bereaksi terhadap emosi anak berdampak pada perkembangan kecerdasan emosional mereka. Ketika orang tua mengajari anak-anak untuk mengenali emosi mereka, parents memberikan mereka gambaran yang membantu menjelaskan apa yang sedang dirasakan, sehingga lebih mudah bagi mereka untuk mengelola emosi tersebut dengan cara yang tepat secara sosial.

 

Lima tahun pertama kehidupan manusia adalah masa kritis dalam pembentukan dasar bagi emosi yang sehat yang akan mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional individu sepanjang umur. Namun, anak-anak akan sangat mungkin mengalami kesulitan untuk mengenali dan memahami emosi dalam diri mereka sendiri dan orang lain, tanpa dukungan orang dewasa. Kemampuan untuk menenangkan diri saat marah, mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, dan menghadapi situasi yang menantang tidak muncul begitu saja, melainkan memerlukan proses belajar yang panjang serta dukungan pengalaman. Sebagai orang dewasa, orang tua memengaruhi kemampuan regulasi emosi anak melalui tiga mekanisme, yaitu pengamatan anak terhadap regulasi emosi orang tua, praktik pengasuhan terkait emosi, dan iklim emosional keluarga.

 

Regulasi emosi merupakan proses individu untuk membentuk emosi dan cara mereka mengekspresikan emosi yang dimilikinya (Gross, 2014). Sedangkan menurut Thompson (2001), regulasi  emosi  adalah  kemampuan  individu  dalam  mengevaluasi  serta  mengubah  reaksi emosional untuk  berperilaku  yang  sesuai  dengan  situasi  dan  kondisi.  Pada  anak,  regulasi emosi sendiri digambarkan sebagai kemampuan dalam mengenali emosi diri sendiri dan orang lain, serta kemampuan  mengomunikasikan  perasaannya  (Papalia  &  Martorell,  2014). Regulasi emosi memiliki peran besar dalam berbagai aspek kehidupan anak, termasuk kemampuan mereka untuk menjalin relasi yang sehat dengan teman sebaya dan beradaptasi dalam lingkungan sosialnya. Jika anak belum mampu mengelola emosinya, ada kekhawatiran bahwa emosi negatif yang muncul akan sulit dikendalikan dan berpotensi mengganggu kesejahteraan psikologis maupun fisiologis. Regulasi emosi mencakup kemampuan anak untuk mengatur, menilai, memodifikasi, dan menyampaikan perasaan emosional secara tepat, yang didasari oleh proses internal dan eksternal.

How to Help Kids Regulate Their Emotion

  1. Membantu Anak Mengenal Emosi

Langkah pertama yang penting dalam mengajarkan anak mengatur emosinya adalah dengan membantu mereka mengenali berbagai perasaan. Penting bagi anak untuk mampu mengenali emosi yang muncul, baik dalam dirinya sendiri maupun pada orang lain. Parents dapat membantu anak mengenal enam emosi dasar yang umum dialami, yaitu: senang, sedih, takut, marah, cemas, dan bosan. Semua bentuk emosi lainnya merupakan variasi atau turunan dari keenam emosi tersebut. Ketika anak sudah mampu mengidentifikasi emosi-emosi dasar tersebut, maka anak telah membangun kemampuan dasar dalam meregulasi emosi. Ada beberapa strategi yang dapat digunakan parents atau juga guru untuk membantu anak memahami dan mengenali emosi-emosi dasar tersebut, yaitu melalui pemberian label pada emosi karakter dalam film atau acara televisi yang ditonton bersama, menyebutkan emosi yang sedang dirasakan, atau juga dengan menggunakan emotion cards.

  1. Mencontohkan Perilaku yang Baik

Anak-anak sering kali belajar dengan mencontoh apa yang orang tua mereka lakukan daripada mendengarkan apa yang mereka katakan. Jika parents ingin anak memiliki strategi dan keterampilan pengaturan emosi yang lebih baik, maka penting juga bagi kita untuk mengatur emosi saat berinteraksi dengan anak-anak. Misalnya, ketika kita sedang merasa cemas atau kesal, parents dapat menggunakan teknik grounding DBT seperti bernafas untuk mengelola emosi. Anak akan belajar dari orang tuanya, bahwa ledakan emosi bukanlah reaksi yang tepat untuk perasaan yang sama dan akan mencontoh perilaku orang tua.

If we want children to regulate their emotions, we have to show them how.”

  • Unknown
  1. Bermain Peran (Role Play)

Bermain peran adalah metode efektif untuk mengajarkan anak mengendalikan emosi saat menghadapi situasi yang menegangkan atau membuat kesal. Saat anak sudah dalam keadaan tenang, ajak anak berdiskusi mengenai berbagai cara yang mereka bisa lakukan ketika bertemu situasi yang sulit. Misalnya, jika anak pernah merebut mainan yang dimiliki temannya, gunakan kesempatan untuk menjelaskan alternatif yang bisa anak lakukan, seperti menunggu giliran bermain, meminjam mainan dengan cara yang baik, atau memilih mainan lain. Dengan cara ini, anak belajar memecahkan masalah dan menyadari apa yang dirasakannya. Setelah berdiskusi, parents dapat melakukan simulasi skenario tersebut agar mereka bisa mempraktikkannya secara langsung. Setiap kali emosi anak mulai memuncak dan bisa berujung pada perilaku negatif, dukung mereka untuk mengambil pendekatan yang sebaliknya, yaitu dengan berpikir panjang sebelum bertindak dan memilih tindakan yang lebih positif atau aman untuk dilakukan.

  1. Berikan Pujian Lebih Banyak daripada Hukuman

Ketika anak menunjukkan manajemen atau kontrol emosi yang baik, parents dapat memberikan perhatian positif, pujian, atau hadiah kepada anak. Sebaliknya, ketika anak tidak berhasil meregulasi emosinya dengan cara yang tepat. Parents tidak boleh langsung menghukum perilaku buruk mereka karena ini hanya akan memperburuk keadaan bagi anak yang masih belajar mengatur emosinya. Memberikan pujian atau dorongan ketika anak berperilaku baik mengajarkan bahwa mereka tidak akan mendapatkan imbalan jika tantrum atau ledakan emosi muncul.

  1. Mengajarkan Coping Skills

Coping skills adalah strategi atau teknik yang dapat digunakan untuk mengurangi intensitas emosi yang sedang dialami, memulihkan ketenangan, dan memberikan kontrol sebelum melakukan respons atau tindakan. Hal ini penting untuk diajarkan agar anak tidak bertindak impulsif saat emosi tinggi. Salah satu cara efektif adalah dengan mengenalkan teknik relaksasi ringan seperti menarik napas dalam dengan menghitung 1–5 sembari menghirup dan hembuskan napas perlahan untuk membantu menurunkan ketegangan fisik dan memberi waktu bagi otak anak untuk berpikir sebelum bertindak. Dorong juga anak menggunakan positive self-talk, seperti “Aku bisa melewati ini” atau “Masih ada cara lain untuk melalui situasi ini”, sehingga mereka belajar memberi dukungan pada diri sendiri ketika dibutuhkan. Selain itu, bantu anak mengidentifikasi dan menamai emosi yang mereka rasakan, apakah itu marah, sedih, frustasi untuk membantu meregulasi emosi. Kemudian, ajak anak berpikir solusi ketika menghadapi suatu masalah, seperti meminta bantuan, berbicara ke orang lain, atau mencari aktivitas alternatif yang termasuk ke strategi pemecahan masalah.

Emotional regulation is not a skill set that we are born with. But with connection, it is never too late to learn.”

  • Suzanne Tucker

Keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk kemampuan regulasi emosi anak. Lingkungan keluarga yang hangat, konsisten, dan penuh dukungan menciptakan suasana aman di mana anak merasa nyaman mengekspresikan perasaannya dan belajar memahaminya. Investasi dalam kecerdasan emosional sejak dini bukanlah sekadar mempersiapkan mereka untuk hari ini, tetapi juga membentuk anak yang tangguh, mandiri, percaya diri, dan mampu membangun hubungan yang sehat dalam perjalanan hidupnya. Fondasi yang kuat ini akan menjadi bekal berharga sepanjang hidup mereka yang menjadi fondasi bagi kehidupan yang penuh makna dan keberhasilan.

Focus on the Family Indonesia mendukung para parents untuk membekali anak anda sesuai dengan tahap perkembangan mereka. FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Talk, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Uncategorized

Perjuangan Pasangan Menghadapi Rasa Bosan dalam Pernikahan

 Couples, setelah mengarungi pernikahan selama bertahun-tahun, apakah anda pernah berada di titik jenuh yang membuat anda merasa bosan dalam pernikahan? Momen ini tentunya bukan hal yang asing terjadi, setiap pernikahan akan mengalami yang namanya pasang surut dan berhenti di titik jenuh. Sayangnya, banyak couples yang merespon situasi ini dengan menyalahkan pasangannya karena dianggap tidak lagi menarik, tanpa menyadari bahwa kejenuhan tersebut terjadi karena andil dua pihak. Kejenuhan ini dapat diatasi ketika kedua pihak ingin mencari tahu apa yang salah dalam hubungannya dan berusaha mengubah situasi yang ada.

Kebosanan dalam pernikahan dapat diakibatkan oleh kurangnya hal baru dan stimulasi, serta faktor lain seperti penyakit, tekanan keuangan, isolasi sosial, atau ketidakcocokan intelektual (Harasymchuk & Fehr, 2010). Kurangnya hal baru dan stimulasi dapat membuat hubungan terasa membosankan dan mudah ditebak. Namun, ini adalah tantangan universal yang dapat diatasi dengan   dalam pernikahan. Kebosanan juga dapat mencerminkan kurangnya pertumbuhan pribadi yang dapat membuat pasangan tampak kurang menarik dan atraktif. Di negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, atau Inggris, kebosanan dalam pernikahan dapat dipengaruhi oleh tingginya ekspektasi orang terhadap pasangan dan hubungan mereka (Muturi, 2023).

Merasa bosan bukan berarti sudah tidak ada cinta lagi untuk pasangan kita. Kebosanan adalah respon alami terhadap perubahan cara kita mengalami cinta romantis seiring berjalannya waktu. Hal ini merupakan sebuah sinyal bahwa kita dan pasangan berkesempatan untuk berhenti sejenak, merenung, dan menghidupkan kembali keintiman melalui langkah-langkah baru yang positif. Melakukan aktivitas baru, baik secara individu maupun bersama, bisa menghidupkan kembali semangat dalam hubungan dengan membuka peluang untuk tumbuh dan berkembang. Namun, kebosanan yang dibiarkan begitu saja dapat membuat meningkatnya konflik, menurunkan keintiman, dan kepuasan pernikahan yang lebih rendah (Tsapelas et al., 2009). Oleh karena itu, mengenali tanda kebosanan yang dialami dalam pernikahan dapat menjadi langkah awal yang dilakukan untuk membangun ikatan yang lebih kuat.

Tanda-tanda individu sedang mengalami kebosanan dalam pernikahannya, yaitu:

  • Kurang atau tidak tertarik lagi dengan kehidupan, perasaan, pemikiran, atau minat pasangan.
  • Kurang atau tidak adanya perhatian terhadap satu sama lain.
  • Hal-hal kecil yang dulu terasa penting, sekarang mungkin terabaikan.
  • Pemikiran akan masa depan hubungan menimbulkan perasaan cemas, tidak bersemangat, dan ketidakbahagiaan.
  • Menghabiskan waktu dengan orang lain terasa jauh lebih menyenangkan, daripada bersama pasangan.
  • Percakapan terasa hambar karena sulit menemukan topik untuk dibicarakan atau tidak ada hal yang sama-sama disukai.
  • Keheningan yang dulu terasa nyaman kini berubah menjadi canggung.
  • Kegiatan yang dulu menyenangkan bersama pasangan kini terasa hambar atau membosankan.
  • Hal-hal kecil mudah memicu pertengkaran atau rasa jengkel.
  • Ketertarikan romantis atau seksual mulai memudar.

Baca juga: Kehilangan Semangat dalam Pernikahan, Memahami Marital Burnout

Ketika couples mulai merasa bosan dengan pernikahan anda, penting untuk mengambil langkah-langkah guna menumbuhkan kembali semangat dalam hubungan. Hal ini dapat dilakukan dengan menemukan hal-hal baru untuk dilakukan bersama. Couples juga bisa membuat perubahan lain dalam hidup keduanya, guna mengatasi perasaan tidak puas yang menciptakan rasa bosan itu.

“A good marriage is one which allows for change and growth in the individuals and in the way they express their love.”

  • Pearl S. Buck

 

Apa saja yang bisa couples lakukan untuk mengurangi rasa bosan yang dapat muncul sewaktu-waktu dalam pernikahan.

1.     Mengubah Rutinitas Sehari-hari

Rasa jenuh dalam hubungan sering kali mencerminkan kebosanan dalam rutinitas secara keseluruhan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan mengubah kebiasaan sehari-hari. Misalnya, daripada selalu makan di tempat yang sama, cobalah pergi ke restoran atau kafe baru bersama pasangan. Coba juga untuk meluangkan waktu secara rutin untuk benar-benar terhubung satu sama lain tanpa gangguan. Saat hubungan mulai terasa monoton, mencoba hal-hal baru secara bersama-sama bisa menghadirkan kembali antusiasme dan daya tarik dalam hubungan. Melakukan hal ini dengan sengaja merupakan bentuk komitmen nyata untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.

2.     Melakukan Proyek Bersama

Menjalani proyek bersama, baik dalam bentuk hobi, pekerjaan rumah, maupun bisnis kecil, dapat mempererat hubungan. Ketika pasangan bekerja sebagai tim, rasa saling kagum dan tertarik bisa tumbuh kembali. Penelitian menunjukkan bahwa melakukan aktivitas bersama pasangan merupakan salah satu cara efektif untuk mengatasi kebosanan dalam hubungan. Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberi penyegaran dalam rutinitas harian. Berikut beberapa kegiatan yang bisa dicoba untuk menghidupkan kembali semangat dalam hubungan:

  • Berolahraga bersama secara rutin
  • Mendaftar kelas memasak untuk pasangan
  • Menjelajahi tempat baru
  • Menonton serial atau acara TV baru bersama
  • Menyaksikan pertandingan olahraga
  • Membuat album foto atau scrapbook berisi kenangan-kenangan bersama
  • Menghadiri konser
  • Mendaki gunung atau menjelajah alam

 

3.     Kembali Berkencan Seperti Dulu Lagi

Jika hubungan terasa monoton, cobalah kembali ke masa awal ketika couples sering berkencan. Menyempatkan waktu untuk kencan setidaknya seminggu sekali dapat membantu membangun kembali keintiman dan membuka ruang untuk komunikasi. Agar lebih seru, sesekali berikan kejutan pada pasangan misalnya dengan membelikan tiket konser atau mengajak berpetualang secara spontan. Kuncinya adalah memberikan waktu untuk benar-benar fokus pada satu sama lain, tanpa gangguan pekerjaan atau urusan lain. Mengadakan kencan bersama pasangan dapat dibantu dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan seru yang bisa memancing percakapan mendalam. Couples juga dapat bergantian memilih tempat kencan atau aktivitas yang bisa menambah variasi dan keseruan saat pergi berkencan.

4.     Konseling Pasangan

Jika kebosanan yang dirasakan sudah mengarah pada perasaan terputus, tidak terhubung, atau bahkan munculnya masalah komunikasi yang serius, maka berbicara dengan konselor atau terapis bisa sangat membantu. Konseling bisa memberikan ruang yang aman bagi pasangan untuk mengungkapkan perasaan, mencari akar masalah, dan membangun kembali hubungan yang sehat dan bermakna. Konseling pasangan efektif dalam membantu meningkatkan kualitas komunikasi, kepuasan hubungan, serta keintiman emosional dan fisik. Jika kebosanan disertai dengan hilangnya minat dalam berbagai aspek kehidupan, ini bisa menjadi tanda adanya masalah psikologis seperti depresi, stres berat, atau gangguan kecemasan. Dalam kasus ini, penting untuk segera berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental.

 

Mengatasi kebosanan dalam rumah tangga bukanlah tugas yang mudah, namun juga bukan hal yang mustahil. Dengan komunikasi yang terbuka, saling memahami, dan berupaya memperbarui rutinitas bersama, couples dapat kembali menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan.  Komunikasi yang tulus dan kesediaan untuk tumbuh bersama, baik secara individu maupun bersama pasangan adalah kunci agar rumah tangga berkembang menjadi tempat yang penuh cinta, saling menghargai, dan bermakna. Couples, mari jadikan kebosanan bukan sebagai jurang pemisah, melainkan titik balik menuju rumah tangga yang lebih bahagia dan harmonis.

 

“There is no challenge strong enough to destroy your marriage as long as you are both willing to stop fighting against each other and start fighting for each other.”

  • Dave Willis

 

Focus on the Family Indonesia menyusun acara khusus untuk pasangan suami istri yang ingin mempererat hubungan dan menghidupkan kembali kehangatan cinta dalam pernikahan anda. Kegiatan “Date Night akan mencakup berbagai aktivitas pasangan dan tentunya makan malam bersama dengan orang terkasih. Bila couples juga membutuhkan bantuan dari tenaga profesional untuk membantu melewati titik balik kebosanan dalam pernikahan, FOFI menyediakan layanan konseling dengan para psikolog berpengalaman. Couples dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi:

Harasymchuk C., Fehr B. (2010). Looking back: The experience of first romantic boredom. Personal Relationships, 17(4), 513-534.

Muturi, E. (2023). The impact of boredom in marriage on marital satisfaction. International Journal of Psychology, 8(3), 43–54. https://doi.org/10.47604/ijp.2120

Tsapelas, I., Aron, A., & Orbuch, T. (2009). Marital boredom now predicts less satisfaction 9 years later. Psychological Science, 20(5), 543–545. https://doi.org/10.1111/j.1467-9280.2009.02332.x