Family Indonesia

Category: Uncategorized

Uncategorized

The Power of Listening: Memahami Suara Anak

Parents, sebagai seorang orang tua apakah Anda pernah bertanya-tanya, mengapa penting untuk Anda mendengarkan suara anak? Setiap individu, baik orang dewasa juga anak-anak memiliki kebutuhan untuk didengarkan dengan seksama. Mendengarkan suara anak juga menjadi salah satu alat yang efektif untuk menciptakan hubungan yang mendalam dengan mereka. Tidak sampai disitu, ketika orang tua mendengarkan anak mereka, orang tua secara langsung menciptakan ruang bagi anak untuk dapat mengekspresikan diri mereka sendiri, tempat yang aman di mana mereka merasa didengar.

Listen with Love and Care

Mendengarkan adalah sebuah seni, namun mendengarkan anak kita dan memahami kata-kata, serta makna di baliknya lebih dari sekadar seni. Seni ini mengharuskan orang tua untuk hadir sepenuhnya, baik secara fisik dan mental untuk dapat memperhatikan setiap kata dan makna yang disampaikan oleh anak. Pendekatan dengan mendengarkan dapat menghasilkan ikatan yang lebih kuat antara orang tua dan anak. Hal ini didukung oleh terbentuknya kepercayaan dan konektivitas emosional, dimana anak dapat merasa pikiran, pendapat, dan perasaannya istimewa serta dihargai oleh orang tua mereka. Maka, penting untuk parents dapat secara aktif mendengarkan, menghargai setiap pendapat, dan mencoba memahami perasaan dibalik ungkapan yang anak bagikan. Sebagai orang tua, kita selalu bisa memilih untuk mendengarkan anak dengan penuh perhatian, terutama melalui bahasa tubuh, ekspresi wajah, nada suara, dan perilaku yang mereka tunjukkan. Memahami anak secara keseluruhan saat mereka sedang berbicara, dapat membantu kita memahami mereka dengan lebih baik lagi.

Mendengarkan secara mendalam adalah sebuah keterampilan yang membutuhkan latihan dan komitmen. Hal ini mengharuskan kita untuk mengesampingkan ego, pendapat, penilaian, dan pengetahuan kita. Kita berkomitmen hanya untuk benar-benar mendengar apa yang dikatakan orang lain karena fokusnya adalah untuk meringankan penderitaan orang yang berbicara. Ketika parents mengizinkan anak untuk mengekspresikan perasaan, kata-kata, dan pikiran mereka dengan bebas, kita memberikan kesempatan yang luar biasa untuk mereka dapat mengurangi beban yang mengganjal. Pada dasarnya karena kita semua manusia, pun anak-anak kita, mereka hanya ingin didengarkan dan merasa dimengerti oleh orang-orang terdekat, terutama oleh orang tua mereka.

Parents, seperti yang sudah dituliskan di atas bahwa penting untuk mendengarkan tidak hanya kata-kata yang diucapkan oleh anak, tetapi juga perasaan yang tersembunyi di baliknya. Contohnya, jika anak mengatakan, “Aku benci teman-temanku dan tidak ingin bertemu dengan mereka lagi,” perasaan yang tidak terucapkan bisa berupa rasa terluka, kesepian, atau ditolak. Dalam situasi seperti ini, perasaan yang mendasari pernyataan tersebut lebih menggambarkan situasi yang sedang dihadapi oleh anak. Maka, parents dapat mencoba mendorong anak untuk mengungkapkan perasaan yang sedang dirasakannya

“Listening is one of the loudest forms of kindness”

The Benefits of Listening to Children

  • Memahami Sudut Pandang Anak

Ketika kita mendengarkan anak dengan penuh perhatian, kita membuka ruang bagi mereka untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran dan perasaan mereka. Seperti yang kita tahu, anak-anak sering kali kesulitan mengungkapkan perasaan mereka dengan kata-kata yang tepat, sehingga melalui mendengarkan secara aktif, kita bisa lebih mudah memahami perasaan mereka, baik itu kegembiraan, ketakutan, atau bahkan kekhawatiran.

Mendengarkan juga membantu kita sebagai orang tua untuk dapat lebih memahami perspektif anak, yang sering kali berbeda dari perspektif orang dewasa. Memahami sudut pandang anak dapat memungkinkan kita untuk memberikan dukungan yang lebih baik, baik dalam bentuk kata-kata maupun tindakan sesuai dengan apa yang anak butuhkan.

  • Anak Belajar Keterampilan Berkomunikasi 

Saat orang tua mendengarkan anak secara mendalam, mereka akan belajar bahwa pendapat dan perasaannya dihargai dan dianggap penting. Hal ini membentuk fondasi yang kuat untuk hubungan yang saling menghormati. Saat orang tua memberikan perhatian penuh saat mendengarkan anak, kita sekaligus mengajarkan mereka cara berkomunikasi yang baik, yaitu penuh empati, tanpa distraksi, dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara. Anak-anak yang terbiasa didengarkan sedari kecil, akan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain dengan lebih efektif. Juga, anak yang sudah terbiasa berkomunikasi dengan orang tua bahkan sampai nanti mereka beranjak dewasa, mereka akan tetap merasa nyaman berbagi cerita atau masalah kepada orang tua. Orang tua yang sejak awal sudah menjaga jalur komunikasi yang terbuka bersama anak, bermanfaat membangun kepercayaan dan mempermudah anak untuk berbicara tanpa rasa takut akan penilaian atau penolakan.

  • Membangun Self Esteem Anak

Mendengarkan anak juga berperan penting dalam meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri mereka. Ketika anak didengarkan, mereka akan merasa bahwa pendapat mereka dihargai dan dihormati. Selain itu, hal ini memberi kesempatan bagi anak untuk belajar dan berlatih mengungkapkan ide atau pandangannya, meskipun dengan pengalaman yang terbatas. Saat terbentuknya rasa percaya diri ini, anak akan lebih mudah mengembangkan keterampilan baru, seperti keterampilan sosial atau kemampuan untuk merefleksikan pengalamannya. 

  • Mengurangi Kecemasan pada Anak

Saat orang tua mendengarkan anak, kita membantu proses saat anak sedang menghadapi kecemasan dan peristiwa tidak menyenangkan yang mereka alami. Sebagai pendengar yang penuh kasih, tugas kita bukanlah langsung memberikan nasihat atau pembenaran, tetapi memberikan mereka ruang untuk mengungkapkan perasaan dan meringankan beban. Mereka dapat berbagi apa yang ada dalam pikiran mereka secara terbuka dengan kita.

Mendengarkan yang baik adalah mendengarkan secara aktif, termasuk saat kita sedang berkomunikasi dengan anak. Mendengarkan secara aktif membuat anak tahu bahwa kita tertarik dengan apa yang mereka katakan. Berikut adalah cara untuk mendengarkan secara aktif.

  • Memberikan perhatian penuh saat anak berbicara, termasuk melalui bahasa tubuh yang positif, seperti menjaga kontak mata, tubuh menghadap ke arah pembicara, dan merilekskan ekspresi wajah. Parents juga dapat menempatkan diri pada ketinggian yang sama atau lebih rendah dari anak. Selain itu, coba berikan anggukan atau tanggapan sederhana untuk menunjukkan bahwa kita tetap mendengarkan. 
  • Saat anak sedang berbicara dengan serius, kita dapat menghentikan terlebih dahulu hal-hal yang sedang dilakukan dan memberikan atensi penuh pada anak. Terutama saat sedang bermain ponsel, kita dapat meletakkannya agar tidak mendistraksi. 
  • Setelah anak selesai berbicara, kita dapat merefleksikan atau mengulangi kembali apa yang mereka katakan atau apa yang mereka rasakan untuk memastikan pesan yang mereka sampaikan.
  • Orang tua dapat selalu memberikan pelukan yang dibutuhkan kepada anak saat mereka sedang bercerita hal yang membuat mereka sedih.

“Having a parent that listens creates a child who believes they have a voice that matters in this world” – Rachel Macy Stafford

 

Saat parents mempraktikkan mendengarkan dengan penuh kasih sayang, kita telah membangun rasa saling percaya, hubungan yang tulus, dan ikatan yang kuat dengan anak-anak. Berlatih mendengarkan dengan penuh kasih dan aktif adalah kunci untuk menciptakan hubungan yang penuh kepercayaan. Mari kita berkomitmen untuk membesarkan anak-anak yang merasakan didengar dan dimengerti secara penuh. Mari kita ciptakan rumah sebagai tempat yang aman bagi anak untuk dapat selalu berbagi perasaan mereka.

Bila parents mengalami kesulitan saat mendengarkan dan memahami suara mereka. FOFI menyediakan program konseling untuk parents agar bisa berdiskusi dengan tenaga profesional untuk perkembangan keluarga Anda. FOFI juga menyediakan program parenting ‘Raising Future Ready Kids’ yang dapat membekali parents dengan skills untuk mendampingi pertumbuhan anak dalam membangun komunikasi yang efektif. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Bloom Learning Centre. (2024, November 12). Why is it important to listen to your child. Bloom. https://www.bloom.ky/blogs/important-to-listen-to-your-child

Smith, L. (2025, February 21). EP #172: How to listen to your children So it makes a difference – the Peaceful Parent. The Peaceful Parent. https://thepeacefulparent.com/2024/04/24/compassionate-listening-children-connection/

 

Uncategorized

Reparenting Inner Child: Menemukan Kedamaian dengan Diri Sendiri

Champs, dalam perjalanan hidup ini, kita bisa jadi merasa bahwa kita tidak sepenuhnya hidup sesuai dengan potensi yang dimiliki. Mungkin saja kita mengalami perasaan hampa, ketidakberdayaan, dan mungkin juga merasa sangat tidak terhubung dengan orang lain yang membuat kesulitan dalam menjalin hubungan, merasa tidak seimbang secara emosional, atau merasa sulit untuk membuat keputusan yang benar-benar sesuai dengan nilai-nilai diri. Masalah-masalah seperti ini sering kali dapat ditelusuri ke emosi yang belum terselesaikan di masa kecil, di sinilah konsep inner child berperan.

What is an Inner Child?

Inner child didefinisikan sebagai bagian dari diri yang merefleksikan pengalaman masa kecil anak dalam diri dan bermanifestasi di masa dewasa sebagai persepsi, emosi, pikiran, dan keyakinan yang dirasakan secara internal, atau sebagai perilaku dan tindakan eksternal. Kadang-kadang, kita mungkin menyadari bahwa perilaku atau emosi tertentu yang kita rasakan menyerupai apa yang kita alami di masa kecil, yang membuat kita merasa tertekan saat mencoba untuk menavigasi dunia ketika dewasa. Beberapa perilaku ini dapat berasal dari trauma, rasa sakit, dan pengabaian emosional yang dialami saat masih kecil. Perasaan dan rasa sakit yang tidak terselesaikan ini terkubur jauh di dalam alam bawah sadar kita, yang bagi banyak orang adalah cara mereka melindungi diri dari penderitaan tersebut. Namun, perasaan-perasaan tersebut bisa muncul kembali dalam bentuk penarikan diri, agresi pasif, ketakutan akan ditinggalkan, ketidakmampuan untuk menerima, dan berbagai bentuk lainnya.

“My life consists of doing things my inner child would appreciate. I honor that kid.”

Bekerja sama dengan inner child kita berkaitan dengan satu pengamatan sederhana, bahwa setiap orang dewasa pernah menjadi anak-anak. Anak-anak dalam diri kita tidak hilang begitu saja seiring kita bertumbuh dewasa. Bagian dari diri inner child kita tetap tinggal di dalam ketidaksadaran yang mewakili kualitas dan pola hidup masa kecil kita. Inner child sering kali muncul saat kita menghadapi tantangan yang mengingatkan kita pada kenangan traumatis dari masa kecil. Selama kita belum secara sadar memproses dan mengintegrasikan kenangan-kenangan tersebut, inner child akan terus berperan. Memahami apakah inner child membutuhkan perhatian kita dimulai dengan mengenali pola emosi dan perilaku tertentu. Beberapa tanda yang umum, sebagai berikut:

  • Self-criticism and low self-esteem.
  • Kesulitan mengidentifikasi atau mengekspresikan emosi.
  • Keterampilan mengatasi masalah yang tidak sehat, seperti penggunaan narkoba, minum-minuman keras, atau menjauhkan diri dari kenyataan melalui permainan game dan media sosial yang berlebihan.
  • Perasaan tidak layak atau keraguan diri yang terus-menerus.
  • Reaksi terhadap situasi tampak ‘berlebihan’ atau ‘tidak sesuai dengan keadaan’.
  • Kesulitan membentuk atau mempertahankan hubungan yang sehat.

Baca juga: Inner Child Wounds: Bagian Diri yang Butuh direngkuh

Reparenting Inner Child

Proses reparenting inner child berfokus untuk memastikan inner child merasakan nilai, cinta, dan perlindungan yang tidak didapatkan selama masa kanak-kanak. Beberapa dari kita mungkin tinggal di lingkungan dimana figur orang tua yang tidak hadir sepenuhnya, baik secara fisik maupun emosional. Maka, reparenting dapat diartikan juga sebagai memberikan diri apa yang tidak diterima di masa kecil dari orang tua kita. Konsep ini berfokus pada cara kita mengasuh dan merawat diri sendiri dengan cara yang penuh kasih sayang dan perhatian, seolah kita merawat anak kecil dalam diri kita yang terluka atau memiliki kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Selama masa kecil, kita mungkin mengalami pengalaman yang menyakitkan atau kurang mendapatkan perhatian emosional yang dibutuhkan, yang bisa meninggalkan luka atau pola perilaku negatif yang terbawa hingga dewasa. Reparenting mengajak kita untuk kembali ke masa lalu tersebut dan memberi perhatian yang mungkin kurang kita terima pada saat itu. Tujuannya adalah untuk menyembuhkan luka emosional, mengubah pola pikir atau perilaku yang maladaptif, dan menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri dan orang lain.

Reparenting dapat dilakukan oleh diri sendiri yang bertujuan untuk merawat diri, memberi, dan memungkinkan diri kita menerima validasi, cinta, dan pengasuhan yang mungkin tidak diterima saat kita kecil. Latihan reparenting ini bisa dilakukan di pagi hari, saat sebelum tidur, atau ketika kita merasa frustrasi dan sedang membutuhkan dukungan. Semakin kita mencoba untuk terhubung dengan inner child kita, semakin mudah untuk mengenali tanda-tanda luka emosional dan bagaimana luka tersebut muncul. Namun, bila champs merasa luka dari inner child terlalu berat untuk dihadapi sendirian, champs sangat disarankan untuk berkomunikasi dengan terapis atau konselor yang dapat membimbing latihan reparenting dan memberikan dukungan profesional lebih lanjut.

Cara Mendorong Dialog Terapeutik dengan Inner Child

1.  Menulis Surat Kepada Inner Child 

Menulis surat adalah salah satu cara efektif untuk memulai dialog dengan bagian diri yang lebih muda. Kita bisa mulai dengan menyiapkan dua lembar kertas dan dua amplop, yang masing-masing surat akan ditujukan kepada diri kita saat ini dan diri kita di masa kecil. Surat-surat ini sebagai ruang untuk mengekspresikan, melepaskan, dan menyembuhkan diri. Surat yang ditulis kepada versi dewasa diri yang berasal dari inner child kita, seharusnya bebas dari segala batasan. Kita bisa mengekspresikan emosi tanpa rasa takut akan penilaian atau pengekangan, sesuai dengan perspektif inner child kita. Dalam surat kepada inner child, penting untuk memilih kata-kata dengan hati-hati karena kita sedang berbicara dengan bagian diri yang sangat rentan, yang akan menyerap kata-kata baik secara sadar maupun tidak sadar. Proses ini bertujuan untuk memberikan kasih sayang, validasi, dan dukungan kepada inner child di masa lalu, guna membantu menyembuhkan luka emosional yang masih ada.

2.  Berkomunikasi dengan Inner Child 

Dalam latihan ini, champs dapat duduk atau berdiri di depan cermin, atau juga duduk dengan nyaman tanpa cermin. Jika menggunakan cermin, champs dapat berbicara secara langsung dengan bayangan diri, lalu ajukan pertanyaan dan jawab dengan bebas tanpa menahan diri sendiri. Jika kita mulai merasa tegang atau tertekan, coba berikan penghiburan kepada bayangan kita di cermin. Ucapkan kata-kata yang sangat ingin kita dengar dari seseorang yang dicintai, yang dulunya tidak pernah kita dengar saat masih kecil atau berikan pelukan yang sangat ingin didapatkan. Sampaikan dengan tepat apa yang perlu didengar oleh inner child kita sekarang untuk menyembuhkan dan menenangkan inner child, agar diri kita yang sekarang juga bisa merasakan kedamaian dan ketenangan.

3. Membuat Jurnal 

Seperti halnya menulis jurnal dapat membantu kita mengidentifikasi pola-pola dalam kehidupan dewasa yang ingin diubah, menulis jurnal dari sudut pandang inner child juga bisa membantu kita melihat pola-pola negatif yang sudah terbentuk sejak masa kecil. Saat latihan jurnal ini, coba tinggalkan sejenak diri kita yang sekarang dan coba salurkan sebagai diri yang masih anak-anak. Kita bisa mencoba foto atau latihan visualisasi singkat untuk membantu mengingat kembali bagaimana perasaan atau peristiwa pada usia tertentu yang ingin dieksplorasi.

4. Meluangkan Waktu untuk Bermain 

Cobalah luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang kita sukai saat masih kecil. Ambil buku mewarnai, dengarkan musik, bermain dengan tanah liat, menulis cerita, berlari tanpa alas kaki di rumput, atau bahkan menonton film kartun. Hal yang terpenting adalah agar kita bisa merasakan kembali kreativitas dan inspirasi saat kecil dulu. Champs dapat membuat daftar acara, film, buku, dan aktivitas yang disukai ketika kecil. Lalu, coba tonton kembali beberapa acara dari daftar atau baca buku tersebut yang membawa kita ke masa yang berbeda. Tidak masalah jika hal itu terasa kekanak-kanakan atau aneh karena setelah dewasa pun, kita masih berhak untuk bermain. Kesenangan dari bermain ini dapat membantu kita lebih dekat dengan diri sendiri.

“We don’t stop playing because we grow old. We grow old because we stop playing” – George Bernard Shaw

 

Dengan waktu, usaha dan bimbingan yang berkelanjutan, mereparasi inner child dapat membuka pintu-pintu baru dalam perjalanan penyembuhan kita. Meskipun bertahun-tahun telah berlalu, inner child kita masih menunggu pelukan penuh kasih yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pelukan kepada diri sendiri adalah sesuatu yang dapat kita ciptakan dan pertahankan selalu kepada diri kita sendiri. Juga, memvalidasi rasa sakit yang muncul akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi saat masih kecil dan meyakinkan inner child kita, bahwa meskipun kita mungkin pernah berada dalam situasi yang tidak aman pada waktu itu, sekarang kita adalah orang dewasa yang mampu dan akan melindungi anak itu dengan cara apa pun.

“Healing your inner child means giving yourself the love, protection, and safety that was missing. It’s never too late to rewrite your story with kindness.” – Sunrise Serenity

 

Jika champs tertarik untuk mengeksplorasi masa lalu dan mengenal inner child diri, champs dapat meminta bantuan oleh terapis atau profesional yang memiliki pengalaman di bidang ini. Focus on the Family Indonesia siap membantu champs berproses dalam menavigasi gejolak emosi ini dan mempelajari strategi yang bermanfaat untuk menyembuhkan inner child melalui program konseling. Champs dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi:

Ford, D. (2021, July 16). Reparenting your Inner Child: Ways to encourage therapeutic dialogue. Step up for Mental Health – to Educate. Fight Causes. Change Minds on Mental Health. https://www.stepupformentalhealth.org/reparenting-your-inner-child/#:~:text=When%20you%20communicate%20with%20your,%2C%20important%2C%20and%20in%20control 

8 Ways to start Healing your inner Child. (2023, February 13). Healthline. https://www.healthline.com/health/mental-health/inner-child-healing#reach-out

Uncategorized

Figur Ayah, Cinta Pertama di Kehidupan Anak Perempuannya

Ungkapan bahwa ayah merupakan cinta pertama bagi putrinya bukan sekadar kata-kata tanpa makna. Namun, kalimat tersebut menegaskan bahwa selalu ada tempat dalam jiwa seorang perempuan yang dikhususkan untuk sosok ayahnya. Tentu saja, tidak semua anak perempuan sama, tetapi hampir setiap anak perempuan pasti menginginkan ikatan yang erat dengan pria paling penting dalam hidupnya. Hubungan antara ayah dan anak perempuannya sangat memengaruhi bagaimana sang anak akan memandang pria lain dalam hidupnya.

Ketika Ayah Adalah Cinta Pertama Putrinya

Sebagai seorang ayah, mungkin anda masih mengingat dengan jelas momen ketika perawat pertama kali meletakkan bayi yang dibungkus selimut merah muda ke dalam pelukan anda. Ayah juga mungkin masih ingat betapa halus dan lembutnya saat kulit bayi perempuan anda bergesekan dengan jari jemari besar kita. Pada saat itu, ayah barangkali berjanji dalam hati bahwa akan selalu melindungi bayi kecil yang polos dan manis itu dari segala hal buruk. Ketika ia mulai tumbuh dan belajar berjalan, ayah ada di sana untuk menangkapnya setiap kali ia hampir terjatuh saat mencoba langkah pertamanya. Besar kemungkinan, anak perempuan kita pernah memandang wajah ayahnya dengan wajah tersenyum lebar dan dalam hati mengagumi sosok ayah yang hadir di hidupnya. Sejak momen itu, ayah sudah menempati ruang istimewa di hati anak perempuannya sebagai cinta pertama sang anak.

“The love between father and daughter knows no distance.”

Bagi seorang perempuan, ikatan dengan ayahnya merupakan pengalaman awal yang sangat berharga dalam menjalin hubungan dengan sosok laki-laki lain dalam hidupnya. Ayah adalah pria pertama yang ingin ia kagumi dan dapatkan perhatiannya. Ayah adalah pria pertama yang diajak bercanda, yang memeluk dan mencium dengan penuh kasih, serta yang membuatnya merasa sebagai perempuan paling istimewa di antara yang lain. Semua momen berharga ini memainkan peran penting dalam membentuk sisi kewanitaannya. Cinta dan perhatian tulus seorang ayah turut mempersiapkan anak perempuannya untuk menjalani peran sebagai kekasih, tunangan, dan istri kelak.

Dalam konteks hubungan antara ayah dan anak, keterlibatan seorang ayah memiliki pengaruh yang khas dan mendalam. Pola interaksi dan persepsi anak perempuan terhadap ayahnya akan membentuk dasar bagi hubungan romantis yang ia jalani di masa depan, baik dalam aspek positif maupun negatif. Apabila ayah bersikap menolak atau mengabaikan, anak perempuan cenderung menghabiskan hidupnya dengan upaya untuk mengisi kekosongan emosional yang ditinggalkan figur ayah dalam dirinya. Sebaliknya, jika ayah menunjukkan sikap hangat, peduli, dan melindungi, anak perempuan akan cenderung mencari pasangan yang mencerminkan kualitas tersebut. Pandangan seorang ayah terhadap putrinya, seperti menganggapnya cantik, berharga, dan feminin, juga akan memengaruhi cara anak perempuan memandang dirinya sendiri.

Secara lebih luas, ayah berperan penting dalam memberi contoh bagaimana pria yang baik memperlakukan wanita, sekaligus menetapkan standar bagi hubungan interpersonal anak perempuan dengan sosok pria lainnya di kemudian hari. Ketidakhadiran kasih sayang dan perhatian dari ayah berisiko menimbulkan perasaan diabaikan, tidak dihargai, dan mendorong anak perempuan untuk mencari penerimaan di lingkungan lain. Dampak dari pengalaman ini bersifat jangka panjang, memengaruhi citra diri, kemampuan membangun relasi, dan peran sosial yang dijalani anak perempuan dalam lingkungan sosialnya.

1 .Harga diri yang rendah

Sejak masa kanak-kanak, interaksi dengan orang tua, terutama ayah berperan penting dalam membentuk konsep diri dan pandangan terhadap hubungan sosial. Anak perempuan yang tidak mendapatkan dukungan emosional dan kasih sayang yang memadai dari ayahnya cenderung merasa tidak dihargai atau tidak dicintai. Hal ini dapat menanamkan keyakinan bahwa dirinya tidak pantas menerima perhatian atau kasih sayang, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan harga diri.

2. Masalah keterikatan (attachment issues)

Anak perempuan yang dibesarkan oleh ayah yang tidak hadir secara emosional berisiko mengalami masalah keterikatan saat dewasa. Gangguan keterikatan (attachment disorder) merupakan kondisi yang mempengaruhi perilaku dan suasana hati seseorang, sehingga menyulitkan mereka dalam membangun dan mempertahankan hubungan. Mereka bisa mengembangkan pola keterikatan yang menghindar (avoidant) atau cemas (anxious). Individu dengan pola avoidant cenderung menjauh dari keintiman, enggan berkomitmen, dan menahan diri dari ketergantungan pada orang lain. Sebaliknya, mereka yang anxious cenderung sangat mendambakan kedekatan, takut kehilangan, dan cenderung bersikap posesif atau terlalu bergantung pada pasangannya.

3. Rasa takut diabaikan

Hubungan yang renggang atau jauh dengan ayah dapat membuat anak perempuan merasa terabaikan. Kondisi ini berisiko menimbulkan ketakutan akan penolakan atau pengabaian. Dalam upaya mengatasi rasa takut tersebut, mereka mungkin mencari perhatian dari lingkungan lain, seperti teman, pasangan, atau komunitas tertentu karena mereka merasa kekurangan dan berusaha memastikan agar keberadaannya tidak diabaikan.

4. Masalah kepercayaan (trust issues)

Pengalaman awal anak perempuan dengan figur pria atau ayah yang tidak aman dan tidak stabil, membuat anak perempuan sering kali kesulitan mempercayai pria lain. Jika mereka tidak merasa aman, terlindungi, atau didukung oleh ayahnya, akan muncul ketakutan akan ditinggalkan, dikhianati, atau disakiti dalam hubungan selanjutnya yang mereka miliki. Kondisi ini juga dapat merusak kepercayaan terhadap diri sendiri, membuat mereka terlalu waspada dan curiga terhadap orang lain.

5. Berusaha keras demi mendapatkan cinta

Kurangnya dukungan emosional dari ayah bisa membuat anak perempuan terdorong untuk mendapatkan cinta dengan segala cara di masa depan. Mereka cenderung mengorbankan kebutuhan dan batasan diri demi pasangan, dengan harapan bahwa upaya tersebut akan menghasilkan cinta yang diinginkan. Sikap ini membuat seseorang sering menempatkan diri di posisi terakhir dan tidak mendapatkan  perlakuan yang setara dari pasangan.

Peran Ayah dalam Menyayangi Anak Perempuannya 

Pada setiap tahap perkembangan, ayah memiliki peran yang krusial dalam membentuk kehidupan emosional dan sosial anak perempuannya. Terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan ayah untuk menunjukkan kasih sayang dan penerimaan kepada anak perempuannya.

  • Masa bayi dan balita

Pada tahap awal kehidupan ini, keterlibatan aktif ayah dalam perawatan sehari-hari sangat penting. Partisipasi dalam kegiatan seperti memandikan, memberi makan, atau menidurkan anak di malam hari dapat memperkuat ikatan emosional di antara keduanya. Selain itu, meluangkan waktu untuk berinteraksi secara langsung, seperti mengajak bicara, bernyanyi, memperlihatkan gambar atau mainan, dan membacakan cerita akan memberikan stimulasi positif bagi perkembangan anak. Mengajak anak dalam aktivitas sederhana seperti berjalan-jalan ke taman, taman bermain, toko buku, atau bahkan berbelanja juga menciptakan momen kebersamaan yang berarti. 

  • Masa sekolah dasar

Pada periode ini, berbagi kegiatan yang disukai bersama, seperti bersepeda, berolahraga, atau menjelajahi alam dapat mempererat hubungan ayah dan anak. Selain itu, mengajak anak pada “kencan dad & daughter” secara berkala, seperti makan es krim atau menonton film di bioskop dapat menjadi contoh kegiatan yang membuat anak merasa disayangi terus-menerus dan menjadi contoh bagaimana ia memiliki perhatian yang sama dari pria lain di masa depannya. 

  • Masa remaja dan dewasa awal

Ketika anak memasuki masa remaja, penting bagi ayah untuk menunjukkan minat terhadap hal-hal yang diminati oleh anak, meskipun tidak sepenuhnya memahami semua hal yang sedang disukai. Menghindari sikap meremehkan atau menghakimi, serta menunjukkan rasa hormat, menjadi kunci dalam menjaga kedekatan emosional ini. Penting juga untuk tetap menyediakan waktu untuk berbagi cerita yang penuh perhatian, ini menunjukkan kesediaan ayah untuk mendengarkan dan membuka ruang aman untuk berdialog dengan anak. Gestur sederhana seperti memberi bunga, meninggalkan catatan dukungan, dan memberikan pujian yang spesifik atas pilihan atau prestasi anak, juga dapat memperkuat keyakinan diri dan rasa aman emosional anak perempuan.

Saat ini, tidak sedikit anak perempuan yang tumbuh tanpa memiliki figur laki-laki yang menjadi teladan positif dalam kehidupannya. Seorang ayah adalah pria pertama yang diharapkan dekat secara emosional dengan anak perempuan. Hubungan ini akan membentuk standar dan ekspektasi anak terhadap pria lain yang akan hadir dalam hidupnya di kemudian hari. Ayah yang menjadi panutan yang baik, akan membantu putrinya dalam mengembangkan kemampuan untuk memilih pasangan yang sehat dan mendukung di masa depan.

Kasih sayang seorang ayah bersifat tanpa syarat dan konsisten. Melalui kehadiran dan keterlibatan aktif, ayah menciptakan ruang yang aman bagi anak perempuannya untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan aspirasinya. Dukungan ini berkontribusi pada pengembangan kecerdasan emosional yang sehat serta membentuk dasar yang kokoh bagi kemampuan anak perempuan dalam menjalin relasi yang positif di masa depan. Oleh karena itu, penting bagi ayah untuk berani terlibat, berempati, dan memberikan dukungan yang konsisten dalam setiap tahap kehidupan anak perempuannya.

“A father’s job isn’t to teach his daughter how to be a lady. It’s to teach her how a lady should be treated.”

Jika parents ingin belajar lebih jauh mengenai hubungan antara ayah dan anak perempuannya, parents dapat mengikuti berbagai program dari Focus on the Family Indonesia. Terkhusus untuk para ayah, FOFI menyediakan program bonding event yaitu Dad and Daughter Date. Info lebih lanjut dapat parents dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi:

Focus on the Family Australia. (2022, August 23). The impact a father’s love has on his daughter – Focus on the Family Australia. https://families.org.au/article/impact-fathers-love-has-his-daughter/

Uncategorized

Figur Ayah, Cinta Pertama di Kehidupan Anak Perempuannya

Ungkapan bahwa ayah merupakan cinta pertama bagi putrinya bukan sekadar kata-kata tanpa makna. Namun, kalimat tersebut menegaskan bahwa selalu ada tempat dalam jiwa seorang perempuan yang dikhususkan untuk sosok ayahnya. Tentu saja, tidak semua anak perempuan sama, tetapi hampir setiap anak perempuan pasti menginginkan ikatan yang erat dengan pria paling penting dalam hidupnya. Hubungan antara ayah dan anak perempuannya sangat memengaruhi bagaimana sang anak akan memandang pria lain dalam hidupnya.

Ketika Ayah Adalah Cinta Pertama Putrinya

Sebagai seorang ayah, mungkin anda masih mengingat dengan jelas momen ketika perawat pertama kali meletakkan bayi yang dibungkus selimut merah muda ke dalam pelukan anda. Ayah juga mungkin masih ingat betapa halus dan lembutnya saat kulit bayi perempuan anda bergesekan dengan jari jemari besar kita. Pada saat itu, ayah barangkali berjanji dalam hati bahwa akan selalu melindungi bayi kecil yang polos dan manis itu dari segala hal buruk. Ketika ia mulai tumbuh dan belajar berjalan, ayah ada di sana untuk menangkapnya setiap kali ia hampir terjatuh saat mencoba langkah pertamanya. Besar kemungkinan, anak perempuan kita pernah memandang wajah ayahnya dengan wajah tersenyum lebar dan dalam hati mengagumi sosok ayah yang hadir di hidupnya. Sejak momen itu, ayah sudah menempati ruang istimewa di hati anak perempuannya sebagai cinta pertama sang anak.

“The love between father and daughter knows no distance.”

Bagi seorang perempuan, ikatan dengan ayahnya merupakan pengalaman awal yang sangat berharga dalam menjalin hubungan dengan sosok laki-laki lain dalam hidupnya. Ayah adalah pria pertama yang ingin ia kagumi dan dapatkan perhatiannya. Ayah adalah pria pertama yang diajak bercanda, yang memeluk dan mencium dengan penuh kasih, serta yang membuatnya merasa sebagai perempuan paling istimewa di antara yang lain. Semua momen berharga ini memainkan peran penting dalam membentuk sisi kewanitaannya. Cinta dan perhatian tulus seorang ayah turut mempersiapkan anak perempuannya untuk menjalani peran sebagai kekasih, tunangan, dan istri kelak.

Dalam konteks hubungan antara ayah dan anak, keterlibatan seorang ayah memiliki pengaruh yang khas dan mendalam. Pola interaksi dan persepsi anak perempuan terhadap ayahnya akan membentuk dasar bagi hubungan romantis yang ia jalani di masa depan, baik dalam aspek positif maupun negatif. Apabila ayah bersikap menolak atau mengabaikan, anak perempuan cenderung menghabiskan hidupnya dengan upaya untuk mengisi kekosongan emosional yang ditinggalkan figur ayah dalam dirinya. Sebaliknya, jika ayah menunjukkan sikap hangat, peduli, dan melindungi, anak perempuan akan cenderung mencari pasangan yang mencerminkan kualitas tersebut. Pandangan seorang ayah terhadap putrinya, seperti menganggapnya cantik, berharga, dan feminin, juga akan memengaruhi cara anak perempuan memandang dirinya sendiri.

Secara lebih luas, ayah berperan penting dalam memberi contoh bagaimana pria yang baik memperlakukan wanita, sekaligus menetapkan standar bagi hubungan interpersonal anak perempuan dengan sosok pria lainnya di kemudian hari. Ketidakhadiran kasih sayang dan perhatian dari ayah berisiko menimbulkan perasaan diabaikan, tidak dihargai, dan mendorong anak perempuan untuk mencari penerimaan di lingkungan lain. Dampak dari pengalaman ini bersifat jangka panjang, memengaruhi citra diri, kemampuan membangun relasi, dan peran sosial yang dijalani anak perempuan dalam lingkungan sosialnya.

  1. Harga diri yang rendah

Sejak masa kanak-kanak, interaksi dengan orang tua, terutama ayah berperan penting dalam membentuk konsep diri dan pandangan terhadap hubungan sosial. Anak perempuan yang tidak mendapatkan dukungan emosional dan kasih sayang yang memadai dari ayahnya cenderung merasa tidak dihargai atau tidak dicintai. Hal ini dapat menanamkan keyakinan bahwa dirinya tidak pantas menerima perhatian atau kasih sayang, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan harga diri.

  2. Masalah keterikatan (attachment issues)

Anak perempuan yang dibesarkan oleh ayah yang tidak hadir secara emosional berisiko mengalami masalah keterikatan saat dewasa. Gangguan keterikatan (attachment disorder) merupakan kondisi yang mempengaruhi perilaku dan suasana hati seseorang, sehingga menyulitkan mereka dalam membangun dan mempertahankan hubungan. Mereka bisa mengembangkan pola keterikatan yang menghindar (avoidant) atau cemas (anxious). Individu dengan pola avoidant cenderung menjauh dari keintiman, enggan berkomitmen, dan menahan diri dari ketergantungan pada orang lain. Sebaliknya, mereka yang anxious cenderung sangat mendambakan kedekatan, takut kehilangan, dan cenderung bersikap posesif atau terlalu bergantung pada pasangannya.

3. Rasa takut diabaikan

Hubungan yang renggang atau jauh dengan ayah dapat membuat anak perempuan merasa terabaikan. Kondisi ini berisiko menimbulkan ketakutan akan penolakan atau pengabaian. Dalam upaya mengatasi rasa takut tersebut, mereka mungkin mencari perhatian dari lingkungan lain, seperti teman, pasangan, atau komunitas tertentu karena mereka merasa kekurangan dan berusaha memastikan agar keberadaannya tidak diabaikan.

4.  Masalah kepercayaan (trust issues)

Pengalaman awal anak perempuan dengan figur pria atau ayah yang tidak aman dan tidak stabil, membuat anak perempuan sering kali kesulitan mempercayai pria lain. Jika mereka tidak merasa aman, terlindungi, atau didukung oleh ayahnya, akan muncul ketakutan akan ditinggalkan, dikhianati, atau disakiti dalam hubungan selanjutnya yang mereka miliki. Kondisi ini juga dapat merusak kepercayaan terhadap diri sendiri, membuat mereka terlalu waspada dan curiga terhadap orang lain.

5. Berusaha keras demi mendapatkan cinta

Kurangnya dukungan emosional dari ayah bisa membuat anak perempuan terdorong untuk mendapatkan cinta dengan segala cara di masa depan. Mereka cenderung mengorbankan kebutuhan dan batasan diri demi pasangan, dengan harapan bahwa upaya tersebut akan menghasilkan cinta yang diinginkan. Sikap ini membuat seseorang sering menempatkan diri di posisi terakhir dan tidak mendapatkan  perlakuan yang setara dari pasangan.

Peran Ayah dalam Menyayangi Anak Perempuannya 

Pada setiap tahap perkembangan, ayah memiliki peran yang krusial dalam membentuk kehidupan emosional dan sosial anak perempuannya. Terdapat berbagai cara yang dapat dilakukan ayah untuk menunjukkan kasih sayang dan penerimaan kepada anak perempuannya.

  • Masa bayi dan balita

Pada tahap awal kehidupan ini, keterlibatan aktif ayah dalam perawatan sehari-hari sangat penting. Partisipasi dalam kegiatan seperti memandikan, memberi makan, atau menidurkan anak di malam hari dapat memperkuat ikatan emosional di antara keduanya. Selain itu, meluangkan waktu untuk berinteraksi secara langsung, seperti mengajak bicara, bernyanyi, memperlihatkan gambar atau mainan, dan membacakan cerita akan memberikan stimulasi positif bagi perkembangan anak. Mengajak anak dalam aktivitas sederhana seperti berjalan-jalan ke taman, taman bermain, toko buku, atau bahkan berbelanja juga menciptakan momen kebersamaan yang berarti.

  • Masa sekolah dasar

Pada periode ini, berbagi kegiatan yang disukai bersama, seperti bersepeda, berolahraga, atau menjelajahi alam dapat mempererat hubungan ayah dan anak. Selain itu, mengajak anak pada “kencan dad & daughter” secara berkala, seperti makan es krim atau menonton film di bioskop dapat menjadi contoh kegiatan yang membuat anak merasa disayangi terus-menerus dan menjadi contoh bagaimana ia memiliki perhatian yang sama dari pria lain di masa depannya.

  • Masa remaja dan dewasa awal

Ketika anak memasuki masa remaja, penting bagi ayah untuk menunjukkan minat terhadap hal-hal yang diminati oleh anak, meskipun tidak sepenuhnya memahami semua hal yang sedang disukai. Menghindari sikap meremehkan atau menghakimi, serta menunjukkan rasa hormat, menjadi kunci dalam menjaga kedekatan emosional ini. Penting juga untuk tetap menyediakan waktu untuk berbagi cerita yang penuh perhatian, ini menunjukkan kesediaan ayah untuk mendengarkan dan membuka ruang aman untuk berdialog dengan anak. Gestur sederhana seperti memberi bunga, meninggalkan catatan dukungan, dan memberikan pujian yang spesifik atas pilihan atau prestasi anak, juga dapat memperkuat keyakinan diri dan rasa aman emosional anak perempuan.

Saat ini, tidak sedikit anak perempuan yang tumbuh tanpa memiliki figur laki-laki yang menjadi teladan positif dalam kehidupannya. Seorang ayah adalah pria pertama yang diharapkan dekat secara emosional dengan anak perempuan. Hubungan ini akan membentuk standar dan ekspektasi anak terhadap pria lain yang akan hadir dalam hidupnya di kemudian hari. Ayah yang menjadi panutan yang baik, akan membantu putrinya dalam mengembangkan kemampuan untuk memilih pasangan yang sehat dan mendukung di masa depan.

Kasih sayang seorang ayah bersifat tanpa syarat dan konsisten. Melalui kehadiran dan keterlibatan aktif, ayah menciptakan ruang yang aman bagi anak perempuannya untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan aspirasinya. Dukungan ini berkontribusi pada pengembangan kecerdasan emosional yang sehat serta membentuk dasar yang kokoh bagi kemampuan anak perempuan dalam menjalin relasi yang positif di masa depan. Oleh karena itu, penting bagi ayah untuk berani terlibat, berempati, dan memberikan dukungan yang konsisten dalam setiap tahap kehidupan anak perempuannya.

“A father’s job isn’t to teach his daughter how to be a lady. It’s to teach her how a lady should be treated.”

 

Jika parents ingin belajar lebih jauh mengenai hubungan antara ayah dan anak perempuannya, parents dapat mengikuti berbagai program dari Focus on the Family Indonesia. Terkhusus untuk para ayah, FOFI menyediakan program bonding event yaitu Dad and Daughter Date. Info lebih lanjut dapat parents dapatkan melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

 

Referensi:

Focus on the Family Australia. (2022, August 23). The impact a father’s love has on his daughter – Focus on the Family Australia. https://families.org.au/article/impact-fathers-love-has-his-daughter/

 

Uncategorized

The Power of Self Hug

Kapan terakhir kali champs memberikan pelukan pada diri sendiri atau mendapatkan pelukan dari orang lain? Pelukan yang hangat dan menenangkan?

Ketika hidup sedang tidak baik-baik saja, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk memulihkan diri. Beberapa orang dapat merasa lebih baik ketika mendapatkan sebuah pelukan, baik dari dirinya sendiri maupun dari orang lain, seperti keluarga dan teman dekat. Pelukan memiliki kekuatan luar biasa yang memberikan kenyamanan dan efek penyembuhan.

Kulit merupakan indera terbesar di tubuh manusia dan melalui kulit kita dapat merasakan rangsangan/sentuhan dari lingkungan sekitar. Kontak kulit-ke-kulit dan bentuk lain dari stimulasi sentuhan membantu meningkatkan penanganan stres pada hewan dan manusia (Dunbar, 2008). Sentuhan adalah indera pertama yang mulai bekerja ketika kita berada dalam rahim ibu, yaitu sekitar usia kehamilan 14 minggu. Kemudian, sejak kita dilahirkan, kita mendapatkan belaian lembut seorang ibu yang bermanfaat pada kesehatan, seperti menurunkan detak jantung dan mendorong pertumbuhan koneksi sel otak.

Pelukan adalah bentuk kontak fisik yang intim, non-verbal, dan non-seksual di mana manusia (dan primata lain) dapat mengomunikasikan konsep emosional seperti kebaikan, kehangatan, kelembutan, dukungan, penyembuhan, keamanan, serta cinta dan penerimaan tanpa syarat (Washington, 2014). Pelukan adalah hal yang universal dan merupakan tindakan penting untuk menciptakan dan memelihara ikatan sosial.

Individu yang sering menerima pelukan berkorelasi dengan penurunan tekanan darah dan detak jantung (Light et al., 2004). Penelitian oleh Dreisoerner et al. (2021), menemukan bahwa individu yang menerima pelukan dari orang lain atau bahkan memeluk dirinya sendiri dapat membantu mengurangi dampak negatif dari stres. Pelukan dapat meningkatkan rasa saling memiliki, rasa keterhubungan, dan perasaan dicintai.

Baca juga: Memahami Self-Hatred: Langkah Menuju Penerimaan Diri

Ketika seseorang memeluk kita, stimulasi c-tactile afferents di kulit kita bekerja untuk mendeteksi rangsangan yang bersifat menyenangkan dan penuh kasih, seperti pelukan dan belaian. C-tactile afferents sendiri adalah jenis serabut saraf (neurons) di kulit yang sangat sensitif terhadap sentuhan lembut atau halus. Lalu, c-tactile afferents akan mengirimkan sinyal elektrik ke sumsum tulang belakang dan diteruskan ke bagian otak yang mengendalikan pemrosesan rasa sentuhan dan emosi. Setelah sinyal-sinyal ini sampai di jaringan otak yang terkait dengan emosi, otak akan merespons dengan melepaskan neurotransmitter dan hormon kimia yang memainkan peran dalam kesejahteraan fisik dan emosional, seperti oksitosin dan endorfin.

“I have learned that there is more power in a good strong hug than in a thousand meaningful words.” – Ann Hood

 

Manfaat dari Pelukan

Pelukan dapat disertai dengan senyuman dan kata-kata penghibur, baik yang diberikan oleh orang lain (keluarga dan sahabat) maupun saat kita memeluk diri sendiri. Pelukan terhadap diri dapat meningkatkan kesehatan mental dan fisik melalui berbagai cara, yaitu sebagai berikut.

1 . Meningkatkan Produksi Oksitosin

Oksitosin yang dikenal sebagai ‘hormon cinta’ atau ‘hormon pelukan’, dilepaskan ketika kita memeluk seseorang yang disayangi. Oksitosin memainkan peran penting dalam mengatur perasaan ikatan sosial dan meningkatkan rasa percaya diri, kenyamanan, serta kedekatan emosional. Kadar oksitosin yang meningkat, menyebabkan berkurangnya perasaan marah, kesepian, dan terisolasi dalam diri individu.

2 .  Mengurangi Tingkat Stres

Pelukan membantu tubuh meredakan stres dan mengurangi kecemasan, yaitu dengan mengurangi kadar hormon kortisol (hormon stres) dalam tubuh. Ketika kortisol berkurang, seseorang akan merasa lebih tenang dan rileks. Pelukan juga dapat memengaruhi sistem saraf otonom yang mengatur respons tubuh terhadap stres. Hal ini menyebabkan tubuh beralih ke respon relaksasi saat dipeluk. Jadi, ketika kita sedang merasa tertekan oleh masalah di kehidupan, kita dapat membuat suasana hati yang lebih baik dengan meluangkan waktu untuk berpelukan. Berpelukan baik dengan keluarga, teman, atau hewan peliharaan, membantu untuk meredakan stres dan memperbaiki suasana hati.

3.  Meningkatkan Kesehatan Mental

Berpelukan secara rutin dapat meningkatkan kadar serotonin (hormon kebahagiaan), yang berkontribusi pada peningkatan kesehatan mental dan kesejahteraan secara keseluruhan. Peningkatan kadar serotonin dapat membuat suasana hati menjadi lebih baik, menciptakan rasa nyaman, dan membantu menyeimbangkan siklus tidur. Ketika kita sedang merasa sedih, cobalah untuk memeluk diri sendiri. Pelukan kepada diri sendiri memberikan efek yang sama seperti saat orang lain memeluk kita. Rasa dukungan yang diterima melalui pelukan membuat seseorang merasa lebih kuat dalam menghadapi tantangan emosional dan meningkatkan kesehatan mental secara keseluruhan.

4.  Meningkatkan Mood dan Perasaan Bahagia

Pelukan merangsang pelepasan endorfin, hormon yang dapat menciptakan perasaan bahagia, mengurangi rasa sakit, dan meningkatkan suasana hati. Sebagai pereda nyeri alami tubuh, endorfin yang dilepaskan saat berpelukan juga membantu meredakan rasa sakit dan ketegangan. Selain itu, pelepasan oksitosin selama pelukan memiliki peran penting dalam meningkatkan suasana hati, memberikan kebahagiaan, serta memperkuat ikatan emosional antar individu.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa kita bisa memberikan pelukan kepada diri sendiri atau yang biasa disebut sebagai “Self Hug”. Saat seseorang sedang membutuhkan pelukan, namun pelukan dari orang lain tidak tersedia atau tidak terasa nyaman untuk diri. Pelukan yang menenangkan diri sendiri dapat menjadi cara alternatif untuk memberikan dukungan dan kasih sayang dalam menghadapi stres. Sentuhan yang menenangkan diri merupakan bentuk dari belas kasih terhadap diri kita (Neff, 2003). Sentuhan ini dapat diartikan sebagai sikap penuh perhatian dan kebaikan terhadap diri sendiri saat sedang mengalami penderitaan, serta terbukti efektif dalam membantu mengatasi stres.

How to Give Yourself a Hug

  1. Cari tempat yang tenang dan nyaman di mana champs bisa duduk atau berdiri tanpa gangguan. Hal ini bisa dilakukan di ruang tamu, kamar tidur, atau di luar ruangan yang sepi.
  2. Lalu, letakkan kedua tangan di bahu atau di sekitar lengan atas. Champs bisa saling merangkul kedua lengan atau menempatkan satu tangan di bagian belakang punggung/pinggang dan tangan satunya di depan dada. Pelukan ini juga dapat disertai dengan tepukan lembut di bahu untuk memberikan efek menenangkan.
  3. Ambil napas secara perlahan dan dalam untuk membantu tubuh menjadi lebih rileks. Champs dapat mencoba untuk merasakan setiap tarikan napas yang masuk dan keluar.
  4. Sambil memeluk diri sendiri dan mengatur napas secara teratur, champs dapat memfokuskan diri pada perasaan hangat dan nyaman yang dirasakan saat memeluk diri. Kita juga memberikan afirmasi positif dan kata-kata penyemangat bila diinginkan.
  5. Coba untuk mempertahankan posisi memeluk diri selama beberapa detik hingga beberapa menit untuk merasakan manfaat relaksasi yang lebih mendalam.

Memeluk diri sendiri dapat membuat kita merasa dicintai, rileks, dan menghadirkan rasa tenang. Self hug juga membantu melepaskan diri dari perasaan cemas atau ketegangan yang sering muncul dalam situasi stres. Pilihan untuk memeluk diri sendiri dilakukan karena cara ini adalah yang paling mudah, gratis, dan bisa dilakukan kapan saja ketika kita membutuhkannya. Memeluk diri kita juga dapat menjadi kesempatan untuk terhubung lebih dalam dengan diri kita sendiri. 

Jika champs merasa ingin membutuhkan pelukan, namun sedang sendirian. Mengapa tidak mencoba memeluk diri kita sendiri?

Self-hugging is an incredible way to help lessen those feelings while growing confidence in our own ability to soothe, love and take care of ourselves.” – Gerrilyn Smith

 

Bila champs sedang membutuhkan pelukan atau ruang yang aman untuk berbicara. FOFI menyediakan layanan konseling yang siap mendengarkan dan memberikan dukungan yang diperlukan oleh Anda. Champs juga dapat menemukan tips-tips seputar diri dan kesehatan mental di laman Instagram kami. Champs dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi: 

Dunbar, R. (2008). The social role of touch in humans and primates: Behavioural function and neurobiological mechanisms. Neuroscience & Biobehavioral Reviews, 34(2), 260–268. https://doi.org/10.1016/j.neubiorev.2008.07.001  

Dreisoerner, A., Junker, N. M., Schlotz, W., Heimrich, J., Bloemeke, S., Ditzen, B., & Van Dick, R. (2021). Self-soothing touch and being hugged reduce cortisol responses to stress: A randomized controlled trial on stress, physical touch, and social identity. Comprehensive Psychoneuroendocrinology, 8, 100091. https://doi.org/10.1016/j.cpnec.2021.100091

Light, K. C., Grewen, K. M., & Amico, J. A. (2004). More frequent partner hugs and higher oxytocin levels are linked to lower blood pressure and heart rate in premenopausal women. Biological Psychology, 69(1), 5–21. https://doi.org/10.1016/j.biopsycho.2004.11.002

Neff, K. (2003). Self-Compassion: an alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101. https://doi.org/10.1080/15298860309032 

Washington, G. D. M. (2014). The healing power of hugs. Rockies. https://www.academia.edu/8062471/The_Healing_Power_of_Hugs

 

Uncategorized

Tips Membangun Rasa Percaya Diri Pada Anak

Parents, pernahkah anda melihat anak kecil yang begitu percaya diri saat tampil di depan kelas? Atau mungkin anda mengenal seorang anak yang selalu ragu dengan kemampuan dirinya? 

Kedua contoh di atas merupakan bentuk nyata dari perbedaan tingkat kepercayaan diri pada anak, nyatanya rasa percaya diri adalah fondasi yang penting untuk masa depannya.

 

Kepercayaan diri adalah kemampuan untuk percaya pada diri sendiri dan pada kemampuan yang dimiliki (Messaoud, 2022). Orang yang percaya diri adalah mereka yang yakin akan kemampuannya dan memiliki harapan yang realistis, sekalipun harapannya tidak terwujud, mereka tetap positif dan dapat menerimanya. Maka, saat mereka dihadapi oleh kegagalan, mereka dapat menerima kesalahan dan kekurangannya tanpa merasa takut akan hal tersebut.  Sedangkan, orang yang tidak percaya diri adalah mereka yang memiliki konsep diri yang negatif, juga kurang yakin akan kemampuan yang dimilikinya karena mereka seringkali bersikap menutup diri.

Kepercayaan diri adalah salah satu aspek kepribadian yang sangat penting dalam diri seseorang. Hal ini dikarenakan rasa percaya diri dapat membuat seseorang mengaktualisasikan segala potensi yang dimilikinya dan memungkinkan seseorang untuk mengambil risiko, serta mencoba hal-hal baru yang akan membawanya pada kesuksesan.

Setiap manusia diciptakan dengan rasa percaya diri, namun rasa percaya diri yang dimiliki berbeda antara satu dengan yang lainnya. Setiap orang dapat hidup dengan penuh percaya diri selama mereka terus melatih dan mengembangkannya. Pada anak, kepercayaan diri dapat dikembangkan atau dirangsang melalui lingkungan keluarga (Hulukati, 2016). Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak. Salah satu upaya pembentukan karakter adalah dengan membangun rasa percaya diri pada anak. Pola asuh yang diberikan kepada anak dengan baik akan membuat anak merasa berharga dan percaya diri (Rahman et al., 2022).

Peran orang tua dalam membangun kepercayaan diri anak, antara lain adalah dengan menjadi pendengar yang baik bagi anak, menunjukkan respek, memberikan anak kesempatan untuk membantu, melatih kemandirian anak, memberi pujian kepada anak, membantu anak untuk lebih optimis, menumbuhkan minat dan bakat anak, mengajak anak untuk memecahkan masalah, memberi kesempatan anak untuk berkumpul dengan orang dewasa, dan mengarahkan anak untuk mempersiapkan masa depan (Rahman, 2013). Percaya diri penting untuk anak dapat beradaptasi di lingkungan baru terlebih saat anak masuk ke lingkungan sekolah, anak harus menghadapi situasi baru, seperti bertemu dengan teman dan guru baru.

Baca juga: Terlalu Sayang? Waspada Overparenting pada Anak

Adapun, anak yang memiliki kepercayaan diri yang rendah akan memiliki ciri-ciri dan perilaku antara lain (Adywibowo, 2010). 

  • Tidak mau mencoba hal-hal baru.
  • Merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan.
  • Memiliki kecenderungan menyalahkan orang lain.
  • Memiliki emosi yang kaku dan disembunyikan.
  • Mudah frustasi dan meremehkan bakat, serta kemampuan diri sendiri.
  • Mudah dipengaruhi oleh orang lain.

Tips Membangun Kepercayaan Diri Anak

Parents, membangun kepercayaan diri pada anak-anak adalah bagian penting dalam membantu mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang tangguh dan memiliki keterampilan sosial yang baik.

1.  Mengutamakan proses daripada hasil

Daripada hanya menilai hasil akhirnya, tunjukkan apresiasi kita pada usaha keras yang dilakukan anak. Pujilah setiap langkah yang mereka ambil, setiap tantangan yang mereka hadapi, dan setiap upaya yang telah mereka lakukan. Ketika kita memuji proses yang mereka lalui, mereka akan terdorong untuk terus mencoba dan belajar, terlepas dari apakah mereka berhasil atau tidak. Sebagai contoh, saat anak membuat sebuah karya seni cobalah untuk memuji pilihan gambar atau cara mereka membuat karya tersebut.

2.  Mendukung kebranian mengambil risiko

Memberikan dukungan kepada anak saat mereka mencoba hal baru atau memiliki ide baru, dengan menekankan bahwa kegagalan bukanlah masalah dan merupakan bagian dari proses belajar. Dorongan ini dapat membantu mereka belajar bahwa kegagalan dapat menjadi langkah penting menuju kesuksesan. Menciptakan lingkungan yang aman dimana anak dapat menguji batas kemampuan mereka dan belajar dari kesalahan tanpa takut dikritik.

3. Orang tua Sebagai Role Model

Sebagai orang tua, penting untuk menunjukkan rasa percaya diri dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil, terutama ketika menghadapi tantangan dan kegagalan dengan penuh keteguhan. Berbagi proses berpikir kita kepada anak, dalam membuat keputusan atau menyelesaikan masalah dapat mengajarkan anak bahwa merasa ragu atau tidak yakin adalah hal yang wajar. Dengan memberi contoh nyata tentang bagaimana mengatasi kesulitan dengan sikap positif, kita dapat mengajarkan anak-anak cara menghadapi tantangan dengan percaya diri.

4. Berikan Dukungan Tanpa Syarat

Tunjukkan cinta dan dukungan tanpa syarat kepada anak kita, terlepas dari keberhasilan atau kegagalan mereka. Membiarkan mereka mengeksplorasi kemampuan dan minat mereka secara bebas dapat membantu mereka mengembangkan kepercayaan diri.

5. Dorong interaksi sosial anak 

Mendorong anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, seperti olahraga, klub, atau teman bermain dapat membantu mereka membangun keterampilan komunikasi, memahami isyarat sosial, dan meningkatkan kepercayaan diri dalam berhubungan dengan orang lain. Lalu, diskusikan pengalaman mereka dengan fokus pada apa yang mereka nikmati dan pelajari saat berinteraksi dengan orang lain.

6. Mengajarkan keterampilan problem-solving

Membimbing anak untuk mengembangkan solusi mereka sendiri daripada terburu-buru ingin menyelesaikan masalah untuk mereka. Hal ini dapat membantu meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan dan berpikir kritis anak, serta mendorong kemandirian anak. Hal ini bisa dimulai dengan meminta anak memecahkan masalah sederhana di rumah atau pekerjaan rumah, lalu mendiskusikan solusi yang memungkinkan.

7. Mendukung anak untuk mengutarakan pendapatnya

Ajak anak untuk berbagi pemikiran dan pendapat mereka tentang berbagai hal. Saat mereka menyampaikan pendapatnya, tunjukkan ketertarikan yang tulus, dan ikuti saran mereka kapan pun kita bisa untuk menunjukkan bahwa pendapat mereka dihargai.

8. Mendukung anak mencoba hal baru

Ketika anak mencoba hal-hal baru, mereka akan belajar untuk keluar dari zona nyaman mereka. Doronglah anak untuk mengeksplorasi minat dan hobi baru yang positif sebagai sarana untuk tumbuh dan mengekspresikan diri. Saat mereka mencapai hal-hal baru dari proses ini, anak akan merasa mampu dan percaya diri karena mereka telah memiliki keberanian untuk menghadapinya.

9. Biarkan anak mengalami kegagalan

Kegagalan adalah proses untuk anak dapat belajar dan mengetahui cara untuk dapat bangkit kembali. Belajar untuk berani gagal akan mengajarkan anak menjadi percaya diri menghadapi apa pun yang terjadi. Hal ini juga dapat mendorong anak-anak untuk berusaha lebih keras, yang akan sangat berguna bagi mereka saat dewasa.

10. Menerima ketidaksempurnaan

Sebagai orang dewasa, kita tahu bahwa kesempurnaan adalah hal yang tidak realistis. Penting bagi anak untuk mengetahui fakta tersebut sedini mungkin. Sampaikan kepada anak bahwa menjadi tidak sempurna adalah hal yang manusiawi.

Parents, membangun rasa percaya diri pada anak bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah proses. Dengan memberikan dukungan, penguatan positif, dan kesempatan untuk berkembang, kita membantu mereka mengembangkan potensi terbaik yang ada dalam diri mereka. Jadi, jangan pernah lelah untuk memberikan dukungan kepada anak, baik di saat-saat terbaik maupun terburuknya. Katakan pada anak kita, bahwa kita akan selalu mendukung dan berada di sisinya.

“Confidence isn’t about feeling good about yourself, it’s about trusting yourself no matter what you’re feeling.”

 

Untuk parents yang mengalami hambatan membangun kepercayaan diri anak dan ingin berkonsultasi dengan tenaga ahli, FOFI menyediakan berbagai program dan layanan seputar parenting, seperti Parental Guidance, Parenting Seminar, dan Parenting Counseling. Parents dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Adywibowo, I. P. (2010). Memperkuat Kepercayaan Diri Anak melalui Percakapan Referensial. Jurnal Pendidikan Penabur, 37

Hulukati, W. (2016, April 9). Buku Pengembangan Diri Siswa Sma. Ung Repository. https://repository.ung.ac.id/karyailmiah/show/569/buku-pengembangan-diri-siswa-sma.html 

Messaoud, H. E. B. (2022). A Review on Self-Confidence and How to Improve It. Global Journal of Human Resource Management, 10(5), 26-32.

Rahman, M. M. (2013). Peran Orang Tua Dalam Membangun Kepercayaan Diri Pada Anak Usia Dini. Edukasia Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 8(2). https://doi.org/10.21043/edukasia.v8i2.759

Sitepu, D. L., Opod, H., & Pali, C. (2016). Hubungan tingkat kepercayaan diri dengan obesitas pada siswa SMA Negeri 1 Manado. eBiomedik, 4(1).

 

Uncategorized

Rahasia Merawat Komitmen Agar Pernikahan Tetap Kuat

Couples, bersama pasangan, Anda telah melalui fase jatuh cinta dan mengikat janji pernikahan, serta menjalani hidup bersama orang terkasih. Perjalanan untuk mempertahankan hubungan pernikahan yang sehat bisa jadi jauh lebih sulit karena cinta dalam pernikahan membutuhkan kerja keras, dedikasi, kesabaran, pengertian, dan komitmen untuk hubungan yang dapat bertahan lama.

Apa itu Komitmen?

Pernikahan adalah sebuah janji antara dua orang untuk saling mencintai dan mendukung satu sama lain selama sisa hidup mereka. Hal ini merupakan bentuk dari komitmen dalam pernikahan. Komitmen dalam pernikahan mungkin memiliki pengertian yang berbeda dari satu individu dengan yang lainnya, tapi yang pasti komitmen adalah keputusan pribadi. Keputusan untuk setia pada pasangan, tidak peduli apapun rintangan yang mungkin terjadi di depan nanti. Hal ini juga berarti menempatkan kebutuhan pasangan di atas kebutuhan diri sendiri, serta keteguhan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang ada bersama-sama. Sebagai contoh, jika salah satu pasangan menerima tawaran pekerjaan di kota lain untuk memberikan stabilitas keuangan yang lebih baik, pasangan yang berkomitmen mungkin akan bersedia untuk pindah mengikuti pasangannya.

Menurut Nemati et al. (2020), komitmen adalah faktor utama dalam kehidupan pernikahan dan memainkan peran penting dalam menjaga kelangsungan dan kesehatan pernikahan. Ketiadaan komitmen dapat menghancurkan ikatan pernikahan dan mengguncang fondasi keluarga yang dapat berujung pada perceraian. Komitmen dalam sebuah hubungan dapat diartikan sebagai seberapa besar seseorang menilai hubungan tersebut layak untuk dilanjutkan dan sejauh mana ia memiliki rasa aman, damai, dan percaya (Allendorf & Ghimire, 2012). Komitmen dalam pernikahan sendiri menunjukkan keinginan seseorang untuk melanjutkan pernikahannya, memiliki stabilitas pernikahan, mengekspresikan cinta, dan menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih tepat.

“A strong relationship starts when two brave people who are ready to sacrifice anything to each other.” – Mary Robertson

 

Komitmen dalam pernikahan mencakup tiga dimensi, yaitu personal, moral, dan struktural (Nemati et al., 2022). Komitmen pribadi merujuk pada perhatian dan keinginan seseorang untuk terus menjaga hubungan pernikahan. Komitmen ini mencerminkan pemahaman individu tentang pasangannya dan hubungan mereka, serta seberapa berharga hubungan itu bagi dirinya. Komitmen moral menggambarkan sejauh mana seseorang merasa memiliki kewajiban untuk mempertahankan hubungan, dengan nilai dan keyakinan yang menjadi dasar bagi perilakunya yang dianggap benar atau tepat dalam konteks hubungan tersebut. Sementara itu, komitmen struktural menunjukkan bahwa seseorang merasakan keharusan untuk mempertahankan hubungan karena faktor eksternal yang mempengaruhi, seperti norma budaya atau kebiasaan.

Seperti halnya dalam interaksi manusia pada umumnya, komitmen dalam pernikahan merupakan elemen penting dalam setiap hubungan yang berhasil. Komitmen menjadi dasar yang memperkuat kepercayaan, cinta, dan rasa saling menghormati. Adanya komitmen dalam sebuah pernikahan, membuat hubungan memiliki peluang besar untuk dapat bertahan saat menghadapi berbagai tantangan berat.

Elemen Vital Komitmen dalam Pernikahan

1 . Komunikasi

Salah satu elemen paling penting dalam komitmen pernikahan adalah komunikasi yang efektif. Melalui komunikasi, pasangan dapat saling berbagi pikiran, perasaan, dan kebutuhan mereka. Menjaga komunikasi tetap terbuka dapat membantu pasangan untuk saling mengungkapkan perasaan, kebutuhan, dan kekhawatiran mereka. Komunikasi dengan jujur juga dapat membantu pasangan agar saling memahami dan bekerja sama dalam menyelesaikan masalah yang muncul dalam hubungan.

2.  Forgiveness

Dalam pernikahan, kita perlu menyadari bahwa tidak ada pasangan yang sempurna. Setiap orang pasti pernah berbuat salah, baik itu dalam kata-kata, tindakan, atau bahkan tanpa disengaja. Menyadari hal ini membantu kita untuk lebih bijaksana dan realistis dalam menghadapi masalah yang mungkin muncul. Kemampuan untuk memaafkan pasangan saat mereka melakukan kesalahan berarti memberikan kesempatan kedua dan menunjukkan kematangan dalam hubungan. Memaafkan juga dapat mengurangi ketegangan dan memberi ruang pemulihan hubungan. Selain itu, saat kita yang melakukan kesalahan, sangat penting untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan sebagai bagian dari tanggung jawab kita dalam hubungan. Hal ini membantu membangun kepercayaan dan mempererat ikatan emosional di antara couples. Ketika kedua belah pihak dapat saling memaafkan dan terbuka dalam mengakui kesalahan, pernikahan akan menjadi lebih kuat dan lebih mampu bertahan menghadapi tantangan.

3. Menghargai Pasangan

Menunjukkan rasa terima kasih dan penghargaan kepada pasangan merupakan cara yang sangat efektif untuk memperkuat hubungan emosional dalam pernikahan. Tindakan sederhana seperti mengucapkan “terima kasih” atau memberikan pujian sebagai ungkapan, bahwa kita menghargai apa yang mereka lakukan, baik dalam aktivitas sehari-hari maupun tindakan besar yang mereka lakukan untuk kita. Ini juga membuat pasangan merasa dihargai dan diperhatikan. Ketika pasangan merasa dihargai, mereka akan lebih termotivasi untuk menjaga hubungan yang sehat dan penuh kasih. Hal ini tidak hanya mempererat kedekatan emosional, tetapi juga memperkuat cinta dan komitmen dalam pernikahan. Selain itu, menunjukkan penghargaan secara konsisten terhadap pasangan menciptakan suasana positif dalam pernikahan, di mana kedua pihak dapat merasa saling mendukung dan dihargai.

4. Sacrifice & Compromise

Komitmen dalam pernikahan membutuhkan yang namanya pengorbanan dan kompromi karena seperti yang kita tahu, bahwa pernikahan tidak akan selalu berjalan lancar. Terkadang, ketika menghadapi tantangan atau perbedaan pendapat, salah satu pasangan harus rela mengesampingkan kepentingan pribadi demi kebaikan hubungan atau kebahagiaan pasangannya. Pengorbanan ini bisa berupa waktu, energi, atau bahkan perubahan prioritas hidup yang dilakukan untuk mendukung pasangan atau menjaga keharmonisan rumah tangga. Komitmen dalam pernikahan juga berarti kesiapan untuk berkompromi karena keinginan, harapan, atau pandangan yang berbeda bersama pasangan. Makna kompromi bukan berarti kita tutup mata atas segala kesalahan, entah itu kekerasan atau kebohongan yang dilakukan oleh pasangan. Namun, kompromi mengarahkan bahwasanya kita dan pasangan akan sangat mungkin melakukan kesalahan, tapi juga memiliki kesempatan untuk sama-sama belajar menjadi lebih baik bagi satu sama lain. Dalam banyak situasi, pasangan harus bisa menemukan solusi yang dapat diterima bersama, sehingga tetap saling menghargai kepentingan masing-masing. Hal terpenting yang dapat pasangan lakukan adalah menjadikan hubungan sebagai prioritas utama dalam setiap keputusan yang diambil. Ketika kedua pasangan menyadari bahwa hubungan mereka lebih penting daripada kepentingan pribadi, mereka akan lebih mudah untuk berkompromi dan saling berkorban demi kebahagiaan bersama.

5. Waktu untuk Satu Sama Lain

Memberikan waktu untuk satu sama lain adalah aspek krusial dalam komitmen pernikahan. Menghabiskan waktu berkualitas bersama dapat membantu menjaga kedekatan emosional dan memperkuat ikatan dalam hubungan. Hal ini juga menjadi bukti nyata bahwa kita tetap memprioritaskan pasangan di atas segalanya. Couples dapat melakukannya dengan berbagai cara yang disukai oleh pasangan, seperti mengadakan kencan malam atau melakukan aktivitas bersama. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan bersama dapat memperbarui dan menjaga kebahagiaan, serta keharmonisan antar pasangan. Ini juga membantu untuk mempertahankan “percikan api” dalam hubungan, guna mencegah rutinitas yang bisa menyebabkan hubungan menjadi kering atau monoton.

6. Kepercayaan

Kepercayaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam komitmen pernikahan. Kepercayaan dibangun secara bertahap melalui konsistensi dalam kata dan tindakan yang berarti pasangan harus dapat diandalkan, jujur, dan terbuka satu sama lain. Kejujuran dalam berbicara, mengungkapkan perasaan, dan bahkan dalam hal-hal kecil sangat penting untuk memperkuat kepercayaan. Selain itu, menepati janji adalah cara lain untuk menunjukkan bahwa pasangan dapat dipercaya karena tanpa adanya kepercayaan, hubungan tidak dapat bertahan lama akibat hilangnya rasa aman dan nyaman yang diberikan di hubungan tersebut. 

Meningkatkan komitmen dalam pernikahan tentunya memerlukan usaha dan kesadaran dari kedua belah pihak untuk bersama-sama membangun hubungan yang lebih kuat. Berikut ini beberapa cara untuk pasangan dapat meningkatkan komitmen dalam pernikahan:

  • Menetapkan Tujuan Bersama

Salah satu cara untuk meningkatkan komitmen dalam pernikahan adalah dengan menetapkan tujuan bersama dan berusaha mencapainya bersama-sama. Tujuan bersama bisa berupa berbagai hal, mulai dari tujuan keuangan hingga pengembangan diri atau bahkan rencana perjalanan. Memiliki tujuan yang ingin dicapai bersama dapat mempererat hubungan dan membuat pasangan merasa lebih terhubung. Komitmen akan semakin kokoh ketika pasangan bekerja bersama untuk meraih tujuan yang sama, baik itu terkait dengan keluarga, karier, atau impian lainnya.

  • Menghadapi Tantangan Bersama

Ketika pasangan berkomitmen untuk terus memperbaiki dan menjaga hubungan yang sehat, ini menegaskan bahwa hubungan pernikahan adalah prioritas yang perlu dijaga. Hal ini juga berarti pasangan harus siap untuk saling membantu dan mendukung, terutama saat menghadapi masa-masa sulit. Saat pasangan bekerja sama untuk menghadapi tantangan dan cobaan yang ada, sebenarnya couples sedang memperkuat komitmen terhadap satu sama lain. Menghadapi masalah bersama-sama bukan hanya soal menyelesaikan masalahnya, tetapi juga tentang proses saling mendukung, saling percaya, dan saling menghargai dalam menghadapi situasi sulit. Pada akhirnya, pasangan tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga memperkokoh fondasi hubungan dan memperkuat komitmen untuk tetap bersama dalam waktu yang lama.

  • Mencari Bantuan professional

Untuk menjaga komitmen dalam hubungan, mencari bantuan saat dibutuhkan adalah langkah yang sangat penting. Tidak ada hubungan yang sempurna, dimana setiap pernikahan pasti akan menghadapi tantangan atau kesulitan di suatu waktu. Jika masalah dalam hubungan tidak segera diselesaikan, masalah tersebut dapat berkembang menjadi lebih besar dan lebih sulit diatasi. Mencari bantuan baik itu dari konselor pernikahan, terapis, atau bahkan teman dan keluarga yang dapat memberikan dukungan, dapat mencegah masalah kecil berkembang menjadi masalah yang besar. Mencari bantuan pada saat yang tepat, membantu pasangan untuk terus berkembang bersama dengan keterampilan mengelola masalah yang efektif untuk memperkuat komitmen dan menjaga keharmonisan dalam hubungan.

Komitmen dalam pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dicapai secara instan. Komitmen membutuhkan kerja keras dan kesabaran yang konsisten setiap harinya untuk menjaga hubungan pasangan tetap sehat dan berkembang. Terkadang, ada masa-masa sulit yang perlu dihadapi oleh setiap pasangan, dimana komitmen yang dimiliki akan diuji pada saat tersebut.  Namun, dengan dedikasi dan niat yang kuat untuk mempertahankan dan menjaga hubungan, pasangan tentu dapat mengatasi rintangan tersebut. Melalui waktu, pengorbanan, dan usaha yang berkelanjutan, komitmen ini akan menciptakan kebahagiaan serta keharmonisan bersama.

“Love is an unconditional commitment to an imperfect person. To love somebody isn’t just a strong feeling. It is a decision, a judgement, and a promise.” – Erich Fromm

 

Jatuh cinta adalah mudah, namun membangun cinta setiap hari tidaklah mudah karena membutuhkan usaha dan komitmen untuk terus memupuk dan menjaganya. Kami menyediakan beragam seminar bagi pasangan suami istri yang sesuai dengan kebutuhan Anda, juga program “Journey to Us” untuk menjaga dan meningkatkan hubungan Anda dengan orang terkasih. Couples juga bisa mendapatkan layanan konseling bersama pasangan untuk mengelola masalah secara lebih efektif dengan bantuan profesional. Anda dapat menghubungi kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Allendorf, K., & Ghimire, D. J. (2012). Determinants of marital quality in an arranged marriage society. Social Science Research, 42(1), 59–70. https://doi.org/10.1016/j.ssresearch.2012.09.002

Nemati, M., Behmanesh, F., Kheirkhah, F., Geraili, Z., & Pasha, H. (2022). Marital commitment and Mental health in Different Patterns of mate selection: A comparison of modern, mixed, and traditional patterns. Iranian Journal of Psychiatry. https://doi.org/10.18502/ijps.v17i4.10691 

Nemati, M., Pasha, H., Kheirkhah, F., Geraili, Z., & Behmanesh, F. (2020). General health, economic status, and marriage duration as predictors of marital commitment during reproductive age among Iranian married women. Caspian Journal of Reproductive Medicine, 6(2), 6-11.

Uncategorized

Stres yang Positif, Mengapa Stres Tidak Selalu Buruk

Champs, sebagian besar dari kita mungkin berpikir bahwa stres adalah hal yang buruk dan perlu untuk dihindari. Namun, sebenarnya stres merupakan bagian alami dari kehidupan sehari-hari dan hal yang mendasar dalam sistem pertahanan kita. Stres yang kita anggap berbahaya dan mengurangi respons kekebalan tubuh adalah stress yang bersifat kronis atau berkelanjutan. Namun, stres jangka pendek dengan respons “fight or flight” justru dapat bermanfaat.

Stres dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi kekhawatiran atau ketegangan mental yang disebabkan oleh situasi yang sulit. Stres adalah respons alami manusia yang mendorong kita untuk menghadapi tantangan dan ancaman dalam hidup kita. Setiap orang memiliki perbedaan dan mengalami stres sampai tingkat tertentu dan cara kita merespons stres, membuat perbedaan besar pada kesehatan kita secara keseluruhan.

Stres yang jumlahnya cukup memiliki dampak yang baik dan dapat membantu individu beraktivitas sehari-hari. Namun, stres yang jumlahnya terlalu banyak dapat menyebabkan masalah, baik itu kesehatan fisik dan mental. Saat sedang stres, tubuh melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin. Hal ini dapat menyebabkan gejala fisik seperti peningkatan detak jantung, otot tegang, dan napas cepat, serta gejala mental seperti kecemasan, lekas marah, atau depresi.

Positive vs Negative Stress

Stres positif atau ‘eustress’ adalah jenis stres yang kita rasakan saat kita sedang bersemangat dan dapat bermanfaat bagi kesehatan secara keseluruhan. Eustress dapat memotivasi seseorang untuk mengambil tindakan dan mencapai tujuan. Bentuk stres ini yang mungkin dirasakan saat sebelum kencan pertama atau kompetisi penting yang kita ikuti (Pluut et al., 2022). Eustress dalam keseharian, seperti saat seseorang yang merasa sedikit tertekan saat mempersiapkan ujian, tetapi rasa stres ini justru memotivasi untuk belajar lebih giat dan fokus, sehingga meningkatkan kinerja di ujian. Ketika kita merasakan stres yang baik, detak jantung kita meningkat, laju pernapasan kita meningkat, dan kita merasakan sensasi kegembiraan.

Stres negatif atau ‘distress’ terjadi ketika kita merasa kewalahan dan tidak mampu mengatasi tuntutan yang dibebankan kepada diri kita. Saat distress menjadi kronis (berlangsung dalam jangka waktu yang lama), hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti gangguan kecemasan dan tekanan darah tinggi.

Dengan mengenali perbedaan antara stresor positif dan negatif, kita juga dapat membuat keputusan yang lebih baik tentang bagaimana cara merespons stres. Meskipun, tidak semua bentuk stres negatif dapat menjadi stres positif. Namun, kita dapat mengubah persepsi terhadap beberapa pemicu stres dalam hidup, perubahan ini yang dapat mengubah pengalaman kita terhadap stres (Lu et al., 2021).

Baca juga: Lost in the 20s: Menemukan Makna dalam Quarter Life Crisis 

“Adopting the right attitude can convert a negative stress into a positive one.” – Hana Selye

 

Respon Terhadap Stres

Beberapa ilmu pengetahuan membahas bagaimana persepsi kita tentang stres dan bagaimana mengubah persepsi tersebut, dapat mengubah cara tubuh kita merespons stres. Salah satu alasan mengapa cara kita berpikir tentang stres itu penting adalah karena hal tersebut dapat mengubah cara kita merespons stres. Memandang stres sebagai sesuatu yang berbahaya membuat orang mengatasinya dengan cara yang kurang efektif, entah itu dengan mabuk untuk “melepaskan” stres, menunda-nunda pekerjaan untuk menghindari stres, atau cara lainnya yang berdampak buruk pada tubuh. Sebaliknya, saat kita memandang stres secara lebih positif, mendorong orang untuk mengatasi stres dengan cara-cara yang membantu individu untuk lebih berkembang, entah itu mengatasi sumber stres, mencari dukungan sosial, atau bahkan menemukan makna di dalamnya.

Kita sering kali dapat mengubah persepsi terhadap stres dengan beberapa cara berikut:

  • Berfokus pada sumber daya yang dimiliki untuk menghadapi tantangan tersebut.
  • Melihat potensi dan manfaat dari sebuah situasi.
  • Mengingatkan diri sendiri tentang kemampuan yang dimiliki.
  • Memiliki pola pikir yang positif (membiasakan diri untuk berpikir seperti orang yang optimis).

 

Bagaimana Stres Bisa Bermanfaat?

1 .  Stres membantu menghadapi tantangan 

Respons stres secara fisiologis dapat mempersiapkan tubuh untuk menghadapi tantangan dan mencapai tujuan yang ingin dicapai. Ketika kita membahas efek berbahaya dari stres, kita biasanya mengacu pada respons stres adrenal yang terjadi, ketika kita percaya bahwa kita tidak memiliki sumber daya untuk mengatasi atau menghadapi tantangan. Hal ini membawa kita ke mode fight or flight. Alih-alih langsung merasa khawatir ketika kita merasakan respons stres terhadap suatu situasi, cobalah untuk membayangkan situasi tersebut sebagai sesuatu yang menantang kita untuk bertumbuh dan mendorong diri kita menjadi lebih baik lagi, bukan sebagai sesuatu hal yang menegangkan. Kita dapat menggunakan self talk, seperti “Saya kuat dan mampu menghadapi tantangan hidup ini.”

2. Stres adalah motivator yang kuat

Ketika dihadapkan pada tenggat waktu atau tugas yang menantang, tekanan yang kita rasakan dapat mendorong kita untuk bekerja lebih keras dan bekerja lebih baik dari biasanya. Hal ini dapat memicu semangat dan tekad untuk mencapai tujuan kita.

3. Stres menunjukkan apa yang paling penting

Stres dapat membantu kita mendapatkan makna dari kehidupan. Jika sesuatu menyebabkan seseorang stres, kemungkinan besar hal tersebut adalah yang sangat penting bagi individu. Banyak hal dalam hidup ini yang membutuhkan kerja keras dan energi, seperti ketika membangun sebuah karier, mengasuh keluarga, dan membina pernikahan yang sehat. Aktivitas-aktivitas ini mungkin menyebabkan stres untuk kita, tetapi semua itu layak untuk dilakukan dan membuat kita tahu apa yang kita pedulikan dalam hidup ini.

4. Stres meningkatkan problem solving

Ketika dihadapkan pada situasi yang penuh tekanan, otak akan bekerja lebih keras, mencari solus, dan cara-cara kreatif untuk mengatasi rintangan tersebut. Kondisi waspada yang tinggi ini memungkinkan kita untuk dapat berpikir out of the box dan menghasilkan solusi yang inovatif terhadap suatu masalah.

5. Stres dapat mendorong pertumbuhan pribadi

Stres membantu mendorong kita keluar dari zona nyaman dan memaksa kita untuk menghadapi tantangan secara langsung. Melalui pengalaman ini, kita belajar lebih banyak tentang diri kita sendiri, baik itu mengenai kekuatan, kelemahan, dan kemampuan kita yang mengarah pada pengembangan pribadi dan pencarian jati diri.

6. Stres memperkuat hubungan interpersonal

Di saat-saat sulit atau krisis, kita sering mengandalkan dukungan yang didapatkan dari orang lain. Saat kita stres, tubuh akan melepaskan hormon oksitosin atau yang biasa dikenal sebagai hormon stres. Ketika oksitosin dilepaskan sebagai respons stres, hal itu memotivasi kita untuk mencari dukungan dengan memberitahu seseorang tentang apa yang kita rasakan, alih-alih memendamnya. Saat hidup terasa sulit, respon stres ingin agar kita dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dengan diri kita. Situasi yang penuh tekanan memiliki cara untuk menyatukan orang-orang dengan menumbuhkan empati dan kasih sayang terhadap satu sama lain.

Satu perubahan pola pikir sederhana yang dapat membantu kita menghadapi dan menemukan sisi baik dari stres adalah dengan melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Kemampuan untuk belajar dari stres sudah tertanam dalam biologi dasar dari respon stres kita. Selama beberapa jam setelah kita mengalami respons stres yang kuat, otak kita akan melakukan pemrograman ulang untuk mengingat dan belajar dari pengalaman tersebut. Stres meninggalkan jejak di otak untuk mempersiapkan kita menghadapi stres yang sama di lain waktu.

“Stress is not what happens to us, it’s how we respond to what happens. Shift our mindset and peace will follow.” – Hana Selye

 

Apabila champs mengalami kebingungan dalam memproses stres, Focus on the Family Indonesia siap membantu champs untuk meningkatkan cara merespons stres yang efektif melalui program konseling. Champs juga dapat menemukan tips-tips aplikatif terkait pengembangan diri melalui Instagram kami @noapologiesindonesia atau melalui website Focus on the Family Indonesia.

Referensi:

Embracing stress is more important than reducing stress, Stanford psychologist says. (n.d.). Stanford University. https://news.stanford.edu/stories/2015/05/embracing-stress-is-more-important-than-reducing-stress,-stanford-psychologist-says 

Good stress, bad stress. (2012, December 21). News Center. https://med.stanford.edu/news/all-news/2012/12/good-stress-bad-stress.html 

Lu, S., Wei, F., & Li, G. (2021). The evolution of the concept of stress and the framework of the stress system. Cell Stress, 5(6), 76–85. https://doi.org/10.15698/cst2021.06.250 

Pluut, H., Curșeu, P. L., & Fodor, O. C. (2022). Development and validation of a short measure of emotional, Physical, and Behavioral Markers of eUstress and Distress (MEDS). Healthcare, 10(2), 339. https://doi.org/10.3390/healthcare10020339 

Scott, E. (2023, September 27). The benefits of good stress. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-kind-of-stress-is-good-for-you-3145055

Uncategorized

Mengajarkan Tiga Kata Ajaib untuk Membangun Karakter Anak

Parents, pendidikan karakter pada anak menjadi penting untuk diajarkan sedini mungkin. Pendidikan karakter dapat dimulai dari hal-hal kecil yang sering kali dianggap sepele, seperti penggunaan tiga kata ajaib, tolong, terima kasih, dan maaf. Meskipun sederhana, ketiga kata ini memiliki dampak yang luar biasa dalam membentuk kepribadian anak sejak dini.

Anak usia dini (0-6 tahun) adalah masa anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat atau biasa disebut dengan masa emas (golden age) (Pujianti et al., 2021). Pada masa ini, anak juga membentuk karakter pribadinya melalui rasa ingin tahu terhadap keadaan lingkungannya, bagaimana cara mereka dapat menjadi bagian dari lingkungannya, dan juga pada masa awal anak memasuki dunia pendidikan, dimana mereka mulai berinteraksi lebih banyak dengan teman-teman sebayanya secara positif maupun negatif, sehingga hal ini dapat membantu anak dalam mengembangkan sosialnya (Andarbeni, 2013). Pembentukan karakter pada anak sejalan juga dengan perkembangan sosial mereka. Perkembangan sosial adalah proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku dalam bergaul dan bersosial di lingkungan masyarakat (Aprily et al., 2023).

Pendidikan karakter sejak dini dapat parents atau tenaga pendidik tanamkan melalui pengalaman positif dengan pembiasaan hal-hal kecil, seperti mengajarkan anak untuk membiasakan mengucapkan tiga kata ajaib. Meskipun terlihat sederhana, membiasakan mengucapkan tiga kata ajaib kepada anak dan membantu anak mempraktekkan hal tersebut, menjadi modal dasar untuk anak belajar berinteraksi sosial dengan baik di lingkungannya, serta akan memberikan dampak baik untuk kehidupan di masa depan. Manfaat dari tiga kata ajaib (tolong, terima kasih, dan maaf) lebih dari sekadar sopan santun. Ketiga kata ini mengajarkan nilai-nilai penting seperti rasa hormat, rendah hati, empati, serta tanggung jawab.

Ketika anak diajarkan untuk menggunakan kata “tolong, mereka belajar untuk menghargai orang lain dan menunjukkan permintaan yang sopan. Kata “terima kasih” secara tulus akan menumbuhkan rasa syukur dalam diri anak atas segala kebaikan yang telah diterimanya. Sementara kata “maaf mengajarkan anak untuk mengakui kesalahan yang telah mereka lakukan, kesempatan untuk memperbaiki diri, dan belajar bertanggung jawab atas tindakannya. Mempraktikkan ketiga kata ini secara konsisten, anak tidak hanya menjadi pribadi yang lebih sopan ketika berinteraksi dengan orang lain, tetapi juga membangun kepekaan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan belajar bahwa komunikasi yang baik bukan hanya melibatkan perkataan mereka, tetapi juga dicerminkan melalui sikap dan penghargaan terhadap orang di sekitar.

Baca juga: Bimbing Anak untuk Mengenal Sentuhan yang Aman (Good Touch Bad Touch)

Parents memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong anak untuk menggunakan ketiga kata ini dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini ada empat cara yang dapat parents terapkan untuk membentuk karakter anak dengan tiga kata ajaib.

1 .  Jelaskan Pengertian dari Tiga Kata Ajaib

Mengajari anak mengenai makna dari ketiga kata ajaib dengan cara yang anak mudah pahami, akan membantu mereka mudah dalam menerapkannya. Kata “terima kasih” digunakan saat kita ingin menunjukkan rasa syukur terhadap suatu kebaikan, seperti ketika ada orang lain yang membantu anak. Kata “tolong” digunakan saat anak ingin meminta bantuan dari orang lain, parents dapat juga menambahkan bahwa permintaan tolong perlu disebutkan dengan nada yang  lembut dan sopan.  Kata “maaf” merupakan ungkapan tulus saat anak berbuat salah lalu ingin mengakui kesalahannya, serta anak berusaha untuk memperbaiki kesalahannya.

2.  Orang Tua sebagai Teladan

Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat dan dengar dari orang tua. Ketika parents memperlakukan orang di sekitar dengan penuh hormat, termasuk kepada anak-anak, mereka juga akan belajar untuk melakukan hal tersebut. Jika kita dengan sengaja menggunakan kata tolong, maaf, dan terima kasih dalam percakapan bersama anak, mereka akan lebih mudah memahami dan mengikuti perilaku tersebut. Selain itu, ketika parents secara konsisten menggunakan ketiga kata ini, menunjukkan kepada anak bahwa sopan santun bukan hanya sekedar formalitas, tetapi bagian dari nilai-nilai yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua yang menjadi teladan akan membantu anak untuk internalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka sendiri. 

Contoh kalimat yang bisa orang tua berikan kepada anak, seperti:

  • “Terima kasih sudah membantu Mama membereskan mainan dan merapikan tempat tidurnya ya.”
  • “Maaf, tadi Ayah sedang menyetir sehingga tidak bisa mengangkat panggilan videonya.”
  • “Nak, boleh tolong ambilkan kursi kecil untuk Mama kah? Terima kasih ya.”

Kalimat-kalimat tersebut bukan hanya berisikan tiga kata ajaib, tetapi juga alasan dari mengapa ketiga kata tersebut digunakan.

3. Berlatih dengan Permainan atau Cerita

Bila anak merasa kesulitan atau bingung ketika memahami penjelasan terkait tiga kata ajaib secara langsung. Parents dapat menggunakan metode yang lebih interaktif dan kreatif, seperti bermain peran dan membacakan anak buku cerita. Ketika bermain peran, orang tua dapat menyisipkan adegan yang terdiri dari permintaan tolong, ucapan terima kasih, dan maaf. Aktivitas seperti ini tidak hanya menyenangkan untuk anak, tetapi juga membantu mereka mempraktikkan penggunaan kata-kata tersebut dalam situasi yang relevan. Parents juga dapat menggunakan buku cerita yang memasukkan percakapan tiga kata ajaib di dalamnya.

4. Percaya pada Proses dan Apresiasi Anak Ketika Berhasil

Percaya bahwa anak sedang melakukan proses yang signifikan, juga bahwa mereka sedang belajar dari melihat tindakan kita sebagai orang tuanya. Dengan tidak memaksa anak untuk “bersikap sopan”’, kita menyiapkan mereka untuk sukses dengan belajar menghargai apa arti ketiga kata tersebut dan seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh ketiganya. Bila anak lupa untuk mengatakan tolong, terima kasih, dan maaf. Cara terbaik yang dapat parents lakukan adalah dengan mendorong anak melalui pengingat yang lembut, daripada memarahi mereka. Jika anak lupa mengucapkan “terima kasih” setelah mendapatkan bantuan, coba ingatkan dengan perlahan seperti berikut ini. “Barusan Mama membantu mengambilkan tas tersebut, lalu yang harus dilakukan adalah…”. Ketika anak diberikan pengingat seperti ini, mereka akan lebih mudah menerima dan memberikan respon positif terhadap pendekatan tersebut.  

Memberikan apresiasi kepada anak ketika mereka berhasil menggunakan tiga kata ajaib, sangat penting dalam proses pembelajaran mereka. Apresiasi diberikan sebagai penguatan positif agar untuk anak akan terus melakukan perilaku yang baik di masa depan. Juga memperkuat perilaku baik yang mereka tunjukkan.

Seiring bertambahnya usia anak, mereka akan menghadapi banyak interaksi dengan orang lain, baik di sekolah, lingkungan sosial, atau bahkan dalam dunia kerja nantinya. Memiliki kebiasaan untuk selalu mengucapkan tolong, terima kasih, dan maaf, anak-anak akan lebih mudah beradaptasi dengan berbagai situasi sosial dan membangun hubungan yang sehat dengan orang di sekitarnya. Bekal ini sangat berharga bagi anak untuk menjadi individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki empati dan kemampuan sosial yang baik.

Perlu diingat oleh parents bahwa cara terbaik untuk mendidik anak yang menghormati orang lain dan berbelas kasih adalah dengan mencontohkan hal tersebut dalam cara kita memperlakukan mereka. Memperlakukan anak-anak dengan hormat akan membantu orang tua membesarkan anak-anak yang penuh rasa hormat juga.

“Children learn to be kind by experiencing kindness.”

 

Bila parents ingin mendapatkan informasi seputar tips-tips parenting dari ahli, parents dapat mengunjungi laman website kami di “Focus on The Family Indonesia” dan dapat terhubung melalui Instagram kami @focusonthefamilyindonesia.

Referensi:

Andarbeni, S. L. (2013). Studi Tentang Tentang Kemampuan Interaksi Sosial Anak Kelompok A Dalam Kegiatan Metode Proyek Di Tk Plus Al-Falah Pungging Mojokerto. Jurnal Mahasiswa Bimbingan Konseling UNESA, 4(1), 249562. http://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-bk-unesa/article/view/6592 

Aprily, N. M., Rosidah, A. K., & Hashipah, H. (2023). Maaf, terima kasih, tolong dan permisi: empat kata ajaib dalam pembentukan karakter sosial anak. As-Sibyan Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 8(1), 123–132. https://doi.org/10.32678/assibyan.v8i1.8312 

Pujianti, R., Sumardi, S., & Mulyadi, S. (2021). Perkembangan sosial emosional anak usia 5-6 tahun selama pembelajaran jarak jauh di Raudhatul Athfal. As-Sibyan Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6(2), 117–126. https://doi.org/10.32678/as-sibyan.v6i2.4919

Uncategorized

Memahami Diri Sendiri: Kunci Kesiapan Berkomitmen

Couples, banyak orang yang tentu menginginkan hubungan yang sehat dan serius, tetapi menginginkannya bukan berarti tanda bahwa kita benar-benar siap untuk itu. Ketidaksiapan berkomitmen dalam hubungan akan menimbulkan berbagai konsekuensi, antara lain kita tidak dapat melangkah ke suatu hubungan sama sekali, atau kita akan masuk ke dalam hubungan jangka pendek, atau bahkan kita dapat berakhir ke dalam toxic relationship.

Banyak orang yang masuk ke dalam komitmen serius dengan pikiran bahwa mereka sudah siap karena mereka menginginkannya atau karena merasa tertekan dengan tuntutan dari sekitar. Memiliki kesiapan lebih dari sekadar merasa nyaman ketika bersama pasangan. Hal ini melibatkan kesiapan mental dan emosional untuk mendukung kebahagiaan orang lain seperti halnya kebahagiaan diri kita sendiri. Kesiapan yang sejati tidak hanya ditemukan begitu saja, tetapi membutuhkan refleksi diri yang mendalam sebelumnya.

Berdasarkan penelitian, didapatkan bahwa orang-orang yang memasuki hubungan dengan kesiapan yang lebih tinggi menunjukkan komitmen yang lebih besar terhadap hubungan tersebut. Kesiapan yang lebih tinggi juga dikaitkan dengan penggunaan strategi pemeliharaan hubungan yang lebih besar (Agnew et al., 2019), yang tidak hanya meningkatkan komitmen individu terhadap suatu hubungan, tetapi juga dikaitkan dengan pemberlakuan perilaku yang terbuka, seperti respons yang tidak begitu destruktif dalam menghadapi konflik.

Jadi, bagaimana caranya mengetahui, apakah kita sudah siap untuk menjalin hubungan jangka panjang?

1 . You love yourself

Kita mungkin tidak akan merasa siap untuk mencintai orang lain, sebelum kita belajar untuk mencintai diri sendiri. Menerima dan mencintai diri sendiri sebagai manusia seutuhnya dan merasa nyaman dengan diri sendiri, berarti melihat diri sendiri dengan jujur, percaya diri, penuh kasih, memaafkan diri sendiri, serta menghormati batasan dan waktu yang dimiliki. Ketika kita sudah sepenuhnya nyaman dan memahami bahwa diri berharga, kita tidak lagi menjalin hubungan untuk sekadar mencari validasi atau pengakuan dari orang lain. Berangkat dari ruang yang positif dalam diri, bisa jadi penting karena hal ini dapat membuat kita lebih mudah untuk mencintai seseorang dan melanjutkan hubungan yang sehat dan tahan lama. Mencintai diri sendiri juga dapat membantu menetapkan batasan-batasan yang sehat untuk diri.

“If you have the ability to love, love yourself first” – Charles Bukowski

 

2.  Kamu memiliki harapan yang realistis

Pemahaman bahwa tidak ada hubungan yang sempurna, kemudian memiliki kesiapan untuk menghadapi tantangan bersama adalah hal yang sangat penting dalam hubungan jangka panjang. Menerima ketidaksempurnaan dalam diri sendiri dan pasangan, menunjukkan pendekatan yang matang terhadap hubungan dan membentuk harapan yang realistis untuk membangun hubungan menjadi lebih sehat dan bahagia.

3. Kesetaraan dalam hubungan 

Hubungan yang sehat adalah ketika kita mengizinkan orang lain untuk memberikan perhatian, cinta, dan dukungan mereka kepada kita. Alih-alih berada dalam hubungan, di mana kita yang terus memberikan perhatian, cinta, dan dukungan kepada orang lain, tetapi kita tidak mendapatkan balasannya. Ketika kita dapat menikmati diperhatikan sebagaimana kita memperhatikan orang lain, maka kita siap untuk menjalin hubungan yang sehat.

4. Kehidupan yang Stabil

Stabilitas dalam kehidupan pribadi dan karier memberikan fondasi yang kuat untuk hubungan jangka panjang. Ketika kita memiliki pekerjaan tetap, rutinitas yang konsisten, dan dapat mengelola tanggung jawab dengan baik, maka hal tersebut dapat dikatakan kehidupan yang stabil. Dimana kita dapat menangani komitmen hubungan jangka panjang   karena sudah siap menerima dan menjalankan tanggung jawab baru sebagai pasangan

5.  You can communicate effectively

Komunikasi yang terbuka dan jujur adalah landasan dari setiap hubungan yang bertahan lama. Jika kita merasa mudah untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan, serta merupakan pendengar yang baik. Komunikasi yang efektif juga dapat membantu pasangan ketika menyelesaikan konflik dan memperdalam pemahaman di antara pasangan. Ketidaksepakatan tentu tidak dapat dihindari dalam hubungan apa pun. Menangani perbedaan pendapat dengan tenang dan konstruktif, tanpa menyimpan dendam menunjukkan kedewasaan emosional kita. Konflik yang dikelola dengan baik, dapat memperdalam pemahaman dan komitmen di antara pasangan. Cara kita berkomunikasi dan mengelola perselisihan dalam suatu hubungan menentukan masa hubungan yang akan dijalani.

Baca juga: Embracing Changes: Menyikapi Peralihan dari Pacaran ke Pernikahan

6. Memiliki growth mindset

Pola pikir yang berkembang berarti kita terbuka dan mencari informasi yang akan meningkatkan kehidupan kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bahagia, lebih sehat, dan tidak mudah stres. Individu dengan growth mindset melihat konflik sebagai peluang untuk belajar dan memperbaiki hubungan, bukan sebagai hal yang harus dihindari atau dihindarkan. Juga, individu akan berusaha untuk terus memperbaiki diri agar menjadi pasangan yang lebih baik, serta berusaha untuk lebih memahami perasaan dan perspektif satu sama lain.

7. Memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang diinginkan di masa depan

Gambaran yang jelas tentang kehidupan akan membantu dalam membuat keputusan-keputusan penting dalam hubungan, seperti keputusan untuk menikah, memiliki anak, atau membeli rumah untuk ditinggali. Ketika visi tersebut sejalan, potensi konflik karena perbedaan tujuan akan berkurang dan  dapat mencegah kekecewaan di kemudian hari.

8.  Sudah berdamai dari hubungan terakhir

Kita hanya akan siap untuk seseorang yang baru jika kita telah mengatasi putus cinta, melewati kesedihan, meninggalkan kenangan-kenangan lalu, serta berdamai dengan masa tersebut. Ketika kita sudah tidak memiliki penyesalan, kebencian, atau perasaan romantis yang tersisa terhadap hubungan di masa lalu. Memulai hubungan yang baru artinya tidak membawa-bawa segala hal di masa lalu untuk menghindari kemungkinan membanding-bandingkan di masa depan.

9. You can trust and be trusted

Kepercayaan adalah hal mendasar dalam hubungan apa pun. Jika kita dapat mempercayai dan dipercaya, hal ini akan menjadi dasar yang kuat untuk sebuah komitmen jangka panjang. Mengetahui bahwa pasangan dapat mengandalkan satu sama lain akan membangun ikatan yang kuat dan langgeng. Kepercayaan sering kali menjadi inti dari pembahasan mengenai apakah hubungan jangka panjang itu sepadan.

10. Kematangan Emosional

Kematangan emosi adalah ketika individu mempunyai kemampuan dalam mengendalikan atau mengatur emosinya tanpa mudah terganggu oleh rangsangan emosi internal atau eksternal. Orang yang matang secara emosional mampu bereaksi dan bertindak secara tepat dan wajar sesuai situasi, serta keadaan yang ada. Kematangan emosi pada individu dapat membantu dirinya untuk mengelola konflik secara bijak dan memungkinkan seseorang untuk tetap tenang, objektif, dan rasional dalam situasi yang menantang, terutama ketika berkonflik dalam suatu hubungan.

Coba luangkan waktu sejenak untuk benar-benar memahami diri sendiri secara emosional dan pribadi. Menjadi bagian dari sebuah hubungan yang sehat membutuhkan seorang pribadi yang utuh dan sehat. Meskipun sangat menyenangkan untuk memiliki pendamping di hidup kita, penting untuk merasa nyaman dengan diri sendiri dan dengan kehidupan ketika kita sendirian, sebelum memutuskan untuk memasuki hubungan baru. Mengetahui apakah diri kita siap adalah hal yang sangat penting sebelum memulai sebuah hubungan yang serius. Apakah kita benar-benar telah siap untuk peduli dengan kebahagiaan orang lain seperti halnya kebahagiaan kita sendiri?

“Never go in search of love, go in search of life, and life will find you the love you seek” – Atticus

 

Focus on the Family Indonesia mendukung para individu dan pasangan untuk mempersiapkan diri menjalin komitmen untuk hubungan yang harmonis. Kami berkomitmen untuk membantu setiap individu agar dapat memelihara hubungan dengan premarital program yang kami miliki. Anda dapat menjangkau kami melalui direct message Instagram kami @focusonthefamilyindonesia atau WhatsApp pada nomor +6282110104006.

Referensi:

Agnew, C. R., Hadden, B. W., & Tan, K. (2019). It’s About Time: Readiness, Commitment, and Stability in Close Relationships. Social Psychological and Personality Science, 10(8), 1046–1055. https://doi.org/10.1177/1948550619829060

Cantor, C. (2022, January 15). 1. When chaos is a turn-off, not a turn-on. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/modern-sex/202201/how-to-tell-youre-ready-for-a-serious-relationship

Winslow, C. (2024, May 21). How Do You Know You’re Ready for a Long-Term Relationship? Marriage Advice – Expert Marriage Tips & Advice. https://www.marriage.com/advice/relationship/how-do-you-know-if-youre-ready-for-a-relationship/